>Meditasi Mempertebal Permukaan Otak

>

Meditasi Mempertebal Permukaan Otak
Meditasi Mempertebal Permukaan Otak

Jakarta, Kompas, Senin, 14 Nov. 2005

Para ilmuwan telah mengetahui bahwa meditasi mungkin membuat bentuk otak cenderung permanen. Tapi, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bagian-bagian penting otak justru semakin tebal jika seseorang menjalankan aktivitas ini.

Pemindaian terhadap otak beberapa orang yang melakukan meditasi secara rutin memperlihatkan adanya perubahan ketebalan di bagian cortex (permukaan) yang berhubungan dengan penginderaan, pengenalan suara dan gambar, termasuk persepsi internal, misalnya pemantauan detak jantung atau napas.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa meditasi yang dilakukan secara rutin mungkin juga memperlambat penipisan cortex bagian depan yang dipengaruhi umur.

“Yang paling mengejutkan saya, latihan meditasi ternyata dapat mengubah bagian abu-abu pada otak,” kata anggota tim peneliti Jeremy Gray, seorang asisten profesor psikologi di Yale.

Bagian otak yang sering ditemukan berubah karena aktivitas meditasi umumnya adalah daerah belahan kanan. Wilayah ini terutama memainkan peranan penting dalam proses perhatian yang berkesinambungan. Sementara, perhatian adalah salah satu fokus dari meditasi.

Para peneliti menduga bentuk lain dari yoga dan meditasi memiliki pengaruh yang mirip terhadap struktur otak. Tapi, setiap bentuk aktivitas tentu memberikan perubahan pada bagian cortex yang sedikit
berbeda, tergantung latihan mental yang dialaminya.

Subjek yang diteliti adalah orang-orang yang memiliki pekerjaan dan keluarga. Mereka hanya bermeditasi rata-rata 40 menit setiap hari dan tidak harus menjadi rahib. Penelitian hanya melibatkan 20 orang yang seluruhnya memperoleh pelatihan cara meditasi Buddha secara intensif. Meskipun demikian, para peneliti menyatakan bahwa hasilnya dapat dipercaya.

Penelitian ini dipimpin oleh Sara Lazar, asisten psikologi dari Massachusetts General Hospital. Hasil penelitiannya sendiri dijelaskan dalam jurnal NeuroReport edisi November.

Sumber: LiveScience.com < http://www.livescience.com/ >
Penulis: Wah

Dikutip dari:
Dipublikasi di Bukti Ilmiah Meditasi, Kekuatan Pikiran | Tinggalkan komentar

>Penelitian Menemukan: MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK

>

Penelitian Menemukan: MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK

Penelitian Menemukan:
MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK

oleh Oleh Marc Kaufman
Staff Penulis di Washington Post
3 Januari 2005

Washington, Amerika Serikat – Penelitian tentang otak manusia dimulai untuk menghasilkan bukti nyata tentang meditasi yang telah dilakukan berabad-abad oleh para praktisi Buddhis: Disiplin Mental dan praktek meditasi bisa mengubah cara kerja otak dan membuat orang bisa mencapai tingkat kewaspadaan yang berbeda.

Keadaan perubahan tersebut secara tradisional telah dimengerti sebagai sesuatu di luar ukuran dunia fisik dan evaluasi obyek. Tapi beberapa tahun belakangan ini, para peneliti di Universitas Wisconsin bekerja sama dengan para bhikkhu Tibet telah berhasil menerjemahkan pengalaman-pengalaman mental tersebut ke dalam bahasa ilmu pengetahuan tentang frekuensi tinggi gelombang Gamma dan keseimbangan otak, atau koordinasi di antaranya. Dan mereka telah menunjukkan dengan tepat bahwa korteks prefrontal kiri yang letaknya tepat di belakang dahi sebelah kiri, adalah tempat dimana terjadi aktivitas otak yang hebat pada saat dihubungkan dengan meditasi.

”Apa yang kami temukan pada orang yang telah lama melakukan praktek meditasi memperlihatkan skala pergerakan otak yang belum pernah kami lihat sebelumnya”, kata Richard Davidson, seorang ahli ilmu otak di Laboratorium W.M. Keck yang baru di Universitas Wisconsin bernilai 10 juta dollar untuk meneliti Fungsi Imajinasi Otak dan Tingkah Laku. “Praktek mental mereka berpengaruh pada otak sama seperti pada latihan golf dan tenis yang akan mempertinggi daya guna otak”. Dia berkata, hal tersebut menunjukkan bahwa otak mampu untuk dilatih dan secara fisik dapat diubah sedemikian rupa seperti yang dapat dibayangkan oleh beberapa orang.

Para ilmuwan dulu percaya kebalikannya – bahwa hubungan-hubungan antar sel urat otak telah terbentuk sejak awal kehidupan dan tidak berubah pada masa kanak-kanak. Tetapi asumsi tersebut tidak terbukti selama 10 tahun yang lalu dengan bantuan imajinasi otak tingkat tinggi dan tehnik-tehnik lainnya, dan dalam tempatnya, para ilmuwan telah merangkum konsep pengembangan otak yang terus menerus dan “neuroplasticity”.

Davidson mengatakan bahwa hasil terbaru dari studi meditasinya yang dipublikasikan di “Cara Kerja Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional” di bulan November, mengambil konsep neuroplasticity satu langkah lebih jauh dengan memperlihatkan bahwa latihan mental via meditasi (dan barangkali cara lainnya) dapat dengan sendirinya mengubah cara kerja di bagian dalam dan di sekeliling otak.

Penemuan-penemuan baru tersebut adalah hasil kolaborasi lama, bila tidak mungkin, antara Davidson dan Dalai Lama Tibet, praktisi Buddhisme terkenal di dunia. Dalai Lama pertama kali mengundang Davidson ke tempat tinggalnya di Dharamsala, India pada tahun 1992 setelah mempelajari riset penemuan Davidson tentang emosi-emosi dari ilmu pengetahuan otak. Orang-orang Tibet mempunyai tradisi meditasi intensif yang telah berabad-abad lamanya dan, sejak mula, Dalai Lama telah tertarik untuk mengajak David dari segi ilmu pengetahuan menggali cara kerja pikiran meditasi dari para bhikkhunya. Dua tahun yang lalu, Dalai Lama menghabiskan dua hari untuk mengunjungi Laboratorium Davidson.

Pada akhirnya Dalai Lama mengirimkan delapan praktisi meditasinya yang ulung ke Laboratorium Davidson untuk dilakukan tes Electroencephalograph (EEG) dan scanning otak pada mereka.

Para praktisi Buddhis dalam eksperimen ini telah melalui latihan meditasi tradisional di Tibet Nyingmapa dan Kagyupa selama kira-kira 10.000 sampai 50.000 jam dalam waktu 15 sampai 40 tahun. Sebagai bahan perbandingan, 10 sukarelawan pelajar yang tidak mempunyai pengalaman meditasi sebelumnya juga di tes setelah mereka latihan meditasi selama 1 minggu.

Pada para bhikkhu dan sukarelawan dipasang sensor listrik sebanyak 256 buah dan diminta untuk bermeditasi dalam jangka waktu pendek. Berpikir dan aktivitas mental lainnya dikenal dapat memproduksi sedikit, tapi dapat dideteksi, aktivitas ledakan-ledakan listrik sebagai sekelompok besar syaraf yang mengirimkan pesan satu sama lain dan di situlah sensor-sensor tersebut diketahui. Davidson sangat berminat terutama dalam mengukur gelombang Gamma, beberapa dari frekuensi tertinggi dan yang paling penting gerak listrik pada otak.

Para bhikkhu dan sukarelawan diminta untuk bermeditasi, secara spesifik pada perasaan haru yang tidak terbatas. Ajaran Buddhis menjelaskan keadaan tersebut sebagai “kesiapan yang bebas dan kemampuan untuk membantu makhluk hidup”, yang mana hal tersebut ada di dalam intisari ajaran Dalai Lama. Para peneliti memilih pemusatan tersebut karena tidak perlu berkonsentrasi pada obyek tertentu, kenangan tertentu atau gambar tertentu dan mengolahnya, bukan merubah bentuk/ keadaan yang sudah ada.

Davidson mengatakan bahwa hasilnya jelas memperlihatkan bahwa meditasi mengaktifkan otak para bhikkhu yang telah terlatih dengan cara yang sangat berbeda dari para sukarelawan. Yang paling penting, gelombang elektroda menangkap pergerakan cepat-pindah yang lebih besar dan gelombang Gamma yang sangat kuat pada para bhikkhu, dan ditemukan pergerakan gelombang melalui otak jauh lebih teratur dan terkoordinasi daripada para pelajar. Pada orang yang baru belajar meditasi menunjukkan hanya sedikit aktivitas gelombang Gamma yang meningkat pada saat bermeditasi, tapi pada beberapa bhikkhu, otaknya memproduksi aktivitas gelombang Gamma yang jauh lebih kuat daripada yang pernah diberitakan sebelumnya pada orang yang sehat, kata Davidson.

Dia menambahkan, pada para Bhikkhu yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bermeditasi, mempunyai tingkat gelombang Gamma tertinggi. “Dosis respon” ini – dimana obat atau aktivitas tingkat tinggi berpengaruh jauh lebih besar daripada di tingkat yang lebih rendah – adalah apa yang dicari oleh para peneliti untuk memperkirakan sebab dan pengaruhnya.

Dalam studi-studi sebelumnya, aktivitas mental seperti pemusatan pikiran, ingatan, belajar, kesadaran dihubungkan dengan semacam koordinasi syaraf yang meningkat ditemukan pada para bhikkhu. Gelombang Gamma yang kuat pada para bhikkhu juga dihubungkan dengan pekerjaan merajut, tidak sama dengan sirkuit otak, dan juga dihubungkan dengan aktivitas mental yang lebih tinggi dan juga meningkatkan kesadaran.

Penelitian Davidson konsisten dengan hasil kerja Davidson sebelumnya yang menunjukkan dengan tepat korteks prefrontal kiri dari bagian otak yang berhubungan dengan kebahagiaan, pemikiran-pemikiran positif dan perasaan-perasaan. Dengan menggunakan Fungsi Magnetic Resonansi Imajinasi (FMRI/ Functional Magnetic Resonance Imagining) pada bhikkhu yang sedang bermeditasi, Davidson menemukan bahwa aktivitas otak mereka – yang diukur dengan EEG – tinggi terutama di area ini.

Kesimpulan Davidson dari penelitian ini bahwa meditasi tidak hanya mengubah cara kerja otak dalam jangka pendek, tapi juga kemungkinan dapat memproduksi perubahan-perubahan secara permanen. Kata Davidson, penemuan itu didasarkan pada fakta bahwa para bhikkhu mempunyai lebih banyak aktivitas gelombang Gamma daripada para pelajar sukarelawan bahkan sebelum mereka mulai bermeditasi. Seorang peneliti di Universitas Massachussets, Jon Kabat-Zinn, juga telah menyimpulkan hal yang serupa beberapa tahun yang lalu.

Para peneliti di Universitas Harvard dan Princeton saat ini sedang melakukan percobaan pada beberapa bhikkhu yang sama dalam beberapa aspek yang berbeda dari praktek meditasi mereka: kemampuan mereka untuk memvisualisasikan gambar-gambar dan kendali dari pikiran mereka. Davidson juga berencana melakukan penelitian lebih lanjut.

“Apa yang kami temukan adalah pikiran atau otak yang terlatih, yang secara fisik berbeda dari otak atau pikiran yang belum terlatih” katanya. Pada saatnya “kami akan mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang pentingnya potensial pelatihan mental semacam ini dan meningkatkan kemungkinan bahwa hal ini akan dilakukan dengan lebih serius”.

Sumber : Meditation Gives Brain a Charge, Study Finds

Diterjemahkan oleh : Lena Handjaja, Jakarta
Editor : Bhikkhu Uttamo

Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/meditasi-memberikan-penyegaran-pada-otak/

Sumber English: http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A43006-2005Jan2.html

Dipublikasi di Bukti Ilmiah Meditasi, Kekuatan Pikiran, kesehatan | 1 Komentar

>Penelitian Menemukan: Meditasi Memberikan Energi pada Otak

>Penelitian Menemukan :
Meditasi Memberikan Energi pada Otak

Oleh Marc Kaufman
Staff Penulis ‘Washington Post’
Senin, 3 Januari 3, 2005; Halaman A05

Penelitian bidang otak mulai menghasilkan bukti nyata atas meditasi. Bukti ini yang dipertahankan oleh para praktisi meditasi Buddhis selama berabad-abad bahwa latihan mental dan praktek meditasi dapat mengubah kerja otak dan membuat orang mencapai tingkat-tingkat kesadaran yang berbeda.

Kondisi-kondisi yang berubah tersebut secara tradisi telah dimengerti dalam istilah-istilah luar biasa, seperti sesuatu di luar pengukuran dunia materi dan penilaian objektif. Tetapi selama beberapa tahun ini, para peneliti di Universitas Wisconsin bekerja sama dengan para bhikkhu Tibet telah dapat menerjemahkan pengalaman-pengalaman mental tersebut menjadi bahasa ilmiah berupa gelombang-gelombang gamma tinggi dan sinkroni atau koordinasi otak. Selanjutnya mereka telah menemukan sasaran tepat di bagian otak depan kiri, daerah tepat di belakang dahi kiri, sebagai daerah dimana aktivitas otak yang terutama berhubungan erat dengan meditasi

“Apa yang kita temukan adalah para praktisi yang telah lama berlatih menunjukkan pergerakan otak dalam skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya.” Kata Richard Davidson, seorang ahli ilmu pengetahuan syaraf di laboratorium untuk pencitraan fungsi serta perilaku otak. Laboratorium baru senilai $ 10 juta milik univeresitas ini dinamakan W.M Nick. “Praktek mental mereka mempunyai pengaruh terhadap otak sama seperti praktisi golf atau tennis yang akan membantu kemampuan bertanding / bermain.” Ia berkata, hal ini juga menunjukkan bahwa otak mampu dilatih dan secara fisik dapat dirubah dengan cara-cara yang dapat dibayangkan oleh sedikit orang.

Para ilmuwan terbiasa percaya pada hal sebaliknya – bahwa sambungan-sambungan di antara sel-sel syaraf otak sudah ditetapkan di awal kehidupan dan tidak dapat diubah saat dewasa. Tetapi asumsi tersebut berhasil ditolak selama puluhan tahun ini dengan bantuan pencitraan otak dan teknik-teknik maju lainnya. Dan sesuai dengan kemajuan tersebut, para ilmuwan telah merangkul konsep tentang perkembangan otak yang tiada henti serta“syaraf yang mudah dibentuk”

Davidson mengatakan hasil-hasil terbarunya dari penelitian meditasi yang diterbitkan di Notulen rapat the National Academy of Sciences pada bulan Nopember membawa konsep “syaraf yang mudah dibentuk” selangkah lebih maju lagi dengan menunjukkan bahwa pelatihan mental melalui meditasi ( dan kemungkinan praktek-praktek lainnya) dengan sendirinya dapat mengubah kerja dalam otak dan aliran-aliran otak.

Penemuan-penemuan baru tersebut adalah hasil kerjasama yang lama antara Davidson dan Dalai Lama Tibet, Praktisi Buddhisme terkenal di dunia. Dalai Lama pertama kali mengundang Davidson ke kota kediamannya di Dharamsala, India di 1992 setelah beliau mengetahui tentang penelitian pembaharuan Davidson dalam ilmu pengetahuan syaraf tentang emosi-emosi. Rakyat Tibet mempunyai sebuah tradisi kuno berabad-abad untuk melakukan meditasi intensif dan sejak awal Dalai Lama mempunyai minat agar Davidson dapat melakukan penyelidikan secara ilmiah tentang cara kerja pikiran-pikiran para bhikkhu yang sedang bermeditasi. Tiga tahun yang lalu, Dalai Lama menghabiskan dua hari mengunjungi laboratorium Davidson.

Dalai Lama akhirnya mengutus delapan praktisi meditasi yang paling terampil ke laboratorium Davidson agar mereka dipasangkan / dihubungkan dengan pengujian electroencephalograph (EEG) dan pencitraan otak. Para praktisi meditasi Buddhis dalam percobaan telah melakukan latihan meditasi dengan tradisi Tibet Nyingmapa dan Kagyuga kira-kira selama 10,000 sampai 50,000 jam, selama 15 sampai 40 tahun. Sebagai pengontrol, 10 orang murid sukarelawan yang tidak pernah melakukan meditasi juga diuji setelah satu minggu pelatihan.

Para bhikkhu dan sukarelawan dipasangkan dengan sebuah jaring dengan 256 sensor elektrik dan diminta bermeditasi dalam jangka waktu pendek. Berpikir dan aktivitas-aktivitas mental lainnya diketahui menghasilkan sedikit (tetapi dapat ditemukan) ledakan-ledakan aktivitas elektrik saat sekelompok besar neuron saling mengirim pesan-pesan, dan itulah apa yang dibaca oleh sensor-sensor. Davidson terutama berminat mengukur gelombang-gelombang gamma, gelombang-gelombang elektrik otak yang paling sering dan paling penting.

Kedua grup diminta bermeditasi, terutama meditasi cinta kasih tanpa batas. Ajaran Buddhis menjelaskan kondisi tersebut sebagai “kesiapan tak terbatas dan kesediaan untuk menolong para makhluk hidup” dimana kondisi tersebut adalah inti dari ajaran Dalai Lama. Para peneliti memilih fokus tersebut karena hal itu tidak memerlukan konsentrasi pada objek-objek, ingatan-ingatan atau gambar-gambar tertentu dan memelihara kondisi pikiran tanpa harus mengubahnya.

Davidson mengatakan hasil-hasil menunjukkan dengan jelas bahwa meditasi menggerakkan pikiran-pikiran terlatih para bhikkhu dengan cara yang jelas-jelas berbeda daripada mereka para relawan. Yang paling penting, elektroda-elektroda membaca pergerakan cepat yang jauh lebih besar dan gelombang-gelombang gamma yang sangat kuat pada para bhikkhu dan menemukan bahwa pergerakan gelombang-gelombang melalui otak jauh lebih terorganisir dan terkoordinir daripada yang terjadi pada para murid. Murid yang tidak berpengalaman hanya menunjukkan sedikit kenaikan aktivitas gelombang gamma saat bermeditasi, tetapi beberapa bhikkhu menghasilkan aktivitas gelombang lebih kuat daripada orang-orang sehat yang pernah dilaporkan sebelumnya, kata Davidson.

Bhikkhu-bhikkhu yang telah berlatih meditasi paling lama mempunyai tingkat gelombang gamma paling tinggi. Ia menambahkan. “reaksi dosis” ini – dimana tingkat-tingkat suatu obat atau aktivitas lebih tinggi mempunyai pengaruh lebih besar daripada tingkat-tingkat lebih rendah – adalah apa yang dicari oleh para peneliti untuk menilai sebab dan akibat.

Pada penelitian-penelitian sebelumnya, aktivitas-aktivitas mental seperti memusatkan pikiran, ingatan, belajar dan kesadaran dihubungkan dengan agak bertambahnya koordinasi syaraf yang ditemukan pada para bhikkhu. Gelombang-gelombang gamma kuat yang ditemukan pada para bhikkhu juga telah dihubungkan dengan saling bersambungnya aliran-aliran otak yang berbeda, selanjutnya juga berhubungan dengan aktivitas mental lebih tinggi dan juga kesadaran lebih tinggi.

Penelitian Davidson sesuai dengan penelitian awalnya yang berfokus pada daerah otak depan kiri sebagai daerah otak yang berhubungan dengan kebahagiaan dan pikiran-pikiran serta emosi-emosi positif. Pemakaian pencitraan functional magnetic resonance (fMRI) pada para bhikkhu yang sedang bermeditasi, Davidson menemukan bahwa aktivitas otak mereka – seperti yang diukur dengan EEG – terutama tinggi di daerah ini.

Davidson menyimpulkan dari penelitian bahwa meditasi tidak hanya mengubah kerja otak dalam waktu pendek, tetapi juga cukup berkemungkinan menghasilkan perubahan-perubahan permanen. Ia berkata penemuan itu berdasarkan fakta bahwa para bhikkhu mempunyai aktivitas gelombang gamma jauh lebih banyak daripada grup yang dikontrol bahkan sebelum mereka mulai bermeditasi. Seorang peneliti di Universitas Massachussetts, Jon Kabat-Zinn, mendapatkan kesimpulan yang serupa beberapa tahun yang lalu.

Saat ini para peneliti di Harvard dan Princeton sedang menguji beberapa orang bhikkhu yang sama tadi dalam segi-segi berbeda pada praktek meditasi mengenai kemampuan mereka untuk membayangkan gambaran-gambaran serta mengendalikan pikiran mereka. Davidson juga berencana melakukan penelitian lebih lanjut.

Ia berkata, “Apa yang kita temukan adalah pikiran atau otak yang terlatih secara fisik berbeda daripada yang tidak terlatih.”. Pada waktunya,“Kita akan dapat mengerti lebih baik kemungkinan pentingnya pelatihan mental demikian serta meningkatkan kemungkinan bahwa latihan ini akan dipelajari dengan serius.”

Terjemahan: Jenny H, Sby
Editor : Bhikkhu Uttamo

Sumber:http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/meditasi-memberikan-energi-pada-otak/

English: http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A43006-2005Jan2.html

Dipublikasi di Bukti Ilmiah Meditasi, Kekuatan Pikiran | Tinggalkan komentar

>Kajian Ilmiah: Sembuh lewat Meditasi

>

Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi

Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi
Tanya & Jawab AHLI, Nirmala , Desember 2005, halaman 26
Sekarang ada banyak ditulis soal penyembuhan lewat meditasi . Gangguan berbagai penyakit , dari sekedar pusing sampai lumpuh bisa sembuh dengan meditasi ( ada beberapa pengakuan kesembuhan yang saya baca dari koran ). Sepengetahuan saya , bukankah meditasi hanya pengaturan napas dan menenangkan pikiran ? Sejauh apa meditasi bisa menyembuhkan ? Bagaimana peranan obat dalam penyembuhan lewat meditasi ?
Dudi Iskandar – Bandung .
Meditasi telah dilakukan untuk meningkatkan kesehatan sejak 3 abad yang lalu . Secara ilmiah , kajian manfaat meditasi telah banyak dilakukan dalam bidang kedokteran , khususnya Kedokteran Naturopati pada sub spesialisasi Kedokteran Energi atau yang lebih dikenal sebagai vibrational medicine .
Meditasi bukan sekadar aktivitas menenangkan diri atau mengusir stres . Tidak juga sekadar proses pengaturan napas . Memang , proses meditasi adalah mengatur napas , yaitu menghirup dan menghembuskan  perlahan-lahan. Ini untuk memfokuskan perhatian dan menenangkan ritme detak jantung individu yang bersangkutan .
Secara ilmiah , efek meditasi terhadap organ tubuh sudah dibuktikan oleh Itzhak Bentow yang menggunakan alat perekam ballistocardiograph. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meditasi mampu mengaktifkan gelombang saraf dalam otak. Peningkatan gelombang saraf tersebut akan meningkatkan pula koordinasi hemisfer kanan dan kiri otak. Dengan koordinasi yang baik, kanan dan kiri, maka kontrol sistem saraf otonom akan makin baik pula. Membaiknya kontrol sistem saraf otonom akan memperbaiki sistem regulasi fungsi jantung, temperatur tubuh, aliran darah, dan oksigenasi sel serta jaringan tubuh .
Lebih detail, manfaat meditasi dalam kedokteran vibrational dikenal sebagai physio kundalini mechanism. Mekanismenya dimulai dari kumpulan energi yang membentuk tubuh manusia sehingga mampu menjalankan fungsi dan kerja setiap sel, jaringan, dan organ tubuh .
Di dalam tubuh manusia terdapat berbagai macam energi, misalnya energi metabolik, energi bioelektrikal, energi biophoton ( komunikasi antar sel ), energi magnetik ( koordinasi antar organ), energi eterik yang biasa dikenal sebagai basic life energy ( energi untuk pertumbuhan dan perkembangan ), energi astral ( emosional dan intelektual ), dan lain-lain.
Berdasarkan teori ini meditasi akan meningkatkan vibrasi dan pulsasi seluruh energi tubuh yang berefek pada meningkatkan resonansi jantung dan aorta ( pembuluh darah besar yang membawa darah dari jantung ). Resonansi dan vibrasi energi akan menstimulasi sistem saraf cranial ( yaitu 12 pasang sistem saraf yang berhubungan erat dengan fungsi otak ). Aktifnya 12 pasang sistem saraf membuat ventrikel otak bekerja optimal yaitu menghasilkan rangsangan mekano-elektrik pada sistem cortex-sensory di otak. Akibatnya aliran neurotransmitter lebih lancar, yang akan melepaskan aktivitas sensorimotor. Aktivitas sensorimotor yang baik akan meningkatkan fungsi dan kerja seluruh organ atau sistem tubuh. Efeknya, regenerasi sel dan jaringan tubuh akan berlangsung secara optimal.
Penelitian lain menunjukkan bahwa meditasi akan menimbulkan perubahan bertahap pada tingkat energi basal yang berfungsi membentuk stem sel ( sel cikal bakal dari seluruh sel tubuh ). Dengan baiknya pembentukan stem sel maka sel atau jaringan yang mati atau rusak dapat segera diganti sebelum menimbulkan masalah .
Di negara maju seperti Amerika atau Eropa Barat, cara meditasi telah banyak digunakan sebagai upaya untuk melengkapi pengobatan medis. Dalam beberapa laporan ilmiah, terlihat bahwa meditasi sangat penting untuk mengatasi berbagai macam penyakit degeneratif seperti jantung koroner, tekanan darah tinggi, kanker, rematik, alergi sampai asma, depresi, kecemasan, kecanduan obat, gangguan metabolisme dan sebagainya. (N)
Dr. Amarullah H. Siregar , DIHom , DNMed , MSc , PhD.
Dokter ahli naturopati. Menangani kasus secara holistic dengan pendekatan ilmu naturopati (misal suplemen, fitofarmaka, herba, homeopati, pola aktivitas ).
Dipublikasi di Lain-lain | Tinggalkan komentar

>Steven Seagal: "Hidup Bukanlah mengenai Apa yang Terbaik atau yang Terburuk!"

>

Hidup Bukanlah mengenai Apa yang Terbaik atau yang Terburuk! 

by Steven Seagal

Hidup Bukanlah mengenai Apa yang Terbaik
atau yang Terburuk!
Steven Seagal

Dalam sebuah wawancara dengan penulis naskah Stanley Weiser, ahli seni bela diri dan bintang film aksi Steven Seagal berbicara tentang praktek Buddhisnya selama bertahun-tahun dan guru gurunya:

Apakah Anda mengenal ajaran Buddha sewaktu Anda belajar bela diri?
Jujur saja, saya sendiri juga tidak pasti. Saya terlahir dengan kesadaran spiritual yang dalam dan selama bertahun-tahun saya mempelajari berbagai aliran. Saya pergi ke Jepang pada akhir tahun 60-an dan mulai belajar Zen. Saya mengunjungi biara-biara, belajar tentang agama Buddha dan menerima petunjuk-petunjuk spiritual. Ini merupakan awal bagi saya, jalan yang saya percayai sebagaimana seharusnya pengembangan fisik manusia melalui seni bela diri dan memoles sisi spiritual secara bersamaan.

Anda juga belajar akupuntur?
Benar. Di sanalah saya pada mulanya diperkenalkan pada Buddhisme Tibet. Ada beberapa lama yang datang dari Tibet. Mereka menderita sakit dan telah disiksa. Karena saya belajar akupuntur, saya diminta untuk mencoba menolong beberapa dari mereka, walaupun saya tidak dapat berbahasa Tibet. Kami pada akhirnya dapat berkomunikasi. Saya belajar sedikit bahasa Tibet dan menjadi sangat dekat dengan mereka.

Siapa guru utama Anda?
Pada dasarnya, bagi saya Yang Mulia Dilgo Khyentse Rinpoche adalah yang paling berpengaruh, dan sekarang saya sangat dekat dengan Minling Trichen dan Yang Mulia Penor Rinpoche.

Apakah Anda mempunyai ingatan tentang kehidupan Anda yang lampau?
Sejak pertama kali saya pergi ke India dan bermeditasi, saya ada memperoleh ingatan-ingatan yang tidak begitu jelas. Baru beberapa hari yang lalu, saya sedang duduk bersama seorang lama dan satu hal yang dikatakannya kepada saya adalah bahwa saya memiliki kesan baik yang sangat berpengaruh dari beberapa kehidupan lampau saya, dan oleh karena itu pencapaian saya akan lebih cepat terwujud dibandingkan pada kebanyakan orang lainnya.

Tentu saja, semakin lama Anda berlatih, Anda akan mampu mengembangkan beberapa jenis kemampuan. Tetapi hal-hal tersebut tidaklah penting. Apa yang penting adalah apa yang Anda perbuat dengan hidup Anda. Saya juga tidak menganggap penting mengenai siapa saya di kehidupan yang lampau; yang terpenting adalah siapa diri saya di kehidupan sekarang.

Dan apa yang saya lakukan dalam hidup ini baru layak dikatakan penting hanya jika saya bisa meringankan penderitaan orang lain, membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, melayani Buddha dan umat manusia, dan menanamkan benih bodhicitta (kondisi pikiran yang murni sebagaimana adanya) dalam hati setiap orang.

Jadi, apakah latihan Anda telah berlangsung cukup lama?
Oh, saya telah sedang melakukan meditasi secara serius dengan cara saya sendiri selama sekitar (lebih dari) dua puluh tujuh tahun.

Ketika Anda menjadi bintang film, bagaimana hal tersebut mempengaruhi ego Anda? Apakah Anda bisa lepas kendali?
Ketika saya di Jepang, orang-orang ‘mengagung-agungkan’ saya, dan alasan saya meninggalkan tempat itu adalah karena keadaan seperti itu bagaikan sebuah perangkap yang mematikan. Itulah sebabnya saya meneruskan latihan spiritual saya di Amerika. Saya pikir ‘pengagung-agungan’ seperti itu bukanlah salah satu masalah terbesar saya dalam hidup karena saya cukup beruntung telah lama memahami apa sesungguhnya suatu pujian dan kekuasaan. Menurut saya, hambatan terbesar adalah kurangnya pemahaman tentang perjalanan tersebut.

Ada satu ungkapan Buddhis yang berbunyi, “Mulailah dengan menaklukkan kekotoran batin terbesar terlebih dahulu.” Menurut Anda, apa yang menjadi kekotoran batin terbesar Anda?
Tidak benar-benar memahami perbedaan antara keinginan untuk mencapai kesempurnaan spiritual demi kebaikan semua makhluk hidup, dan untuk memuaskan diri saya! Inilah yang membuat saya bingung sewaktu saya muda dulu: saya pikir bahwa jika saya mampu memuaskan diri saya secara spiritual sampai pada pencapaian tingkat spiritual yang tinggi maka saya akan bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih baik di dunia dan itu akan menjadi suatu hal yang baik bagi saya, dan oleh karena itu juga baik bagi semua orang yang lain. Dulu saya terlalu apatis dan bodoh untuk menyadari bahwa semua pada dasarnya adalah demi kebaikan semua makhluk hidup. Ini merupakan suatu hambatan terbesar yang pernah saya hadapi dan membuat saya sangat menderita.

Apakah Anda sering melakukan sujud?
Melakukan sujud adalah hal yang paling saya suka di dunia ini. Saat ini saya sedang mencoba menyederhanakan semua latihan-latihan pencerahan yang mungkin terlintas di benak saya, semua metodeTantra yang telah saya coba pelajari, dan saya juga mulai mencoba berkonsentrasi pada bodhicitta (kondisi pikiran yang murni sebagaimana adanya).
Saya bukanlah seorang yang suci, bukan seorang lhama yang hebat, dan saya tidak memiliki jenis latihan yang hebat. Saya hanya berusaha menerapkan latihan paling dasar bodhisattva, termasuk meditasi dan membaca paritta.

Dalam kehidupan perfilman yang sibuk, kacau, dan tidak pasti, di mana Anda bisa mendapatkan keseimbangan batin?
Ketika Anda bertanya apa yang membuat saya damai dan membantu saya melepaskan diri dari kemelekatan, mereka adalah Guru Rinpoche, Sang Buddha, dan semua pelindung.

Proyek apa yang sedang Anda kerjakan sekarang?
Saya ingin memberi makan untuk anak-anak yang menderita kelaparan dan sakit, termasuk yang mempunyai masalah dengan penglihatan mereka, di Tibet. Banyak biara-biara yang membutuhkan bantuan.

Apa yang Anda lakukan terhadap semua amarah yang tidak terkendali yang datang ketika bekerja dalam lingkungan bisnis yang saling menjatuhkan ini? Sebagai seorang Buddhis, bagaimana Anda menghadapinya?
Saya manusia-ketika terluka saya berdarah seperti layaknya orang lain. Ketika hal ini terjadi, hal yang terbaik yang dapat Anda lakukan adalah dengan membawa masalah Anda ke dalam latihan Anda. Dengan mengatasi amarah, luka, dan kemelekatan, kita menjadi lebih kuat; Anda bawa semua permasalahan tersebut ke hadapan Sang Buddha, ke hadapan para pelindung, dan sucikan pikiran Anda.

Kesan Anda di layar kaca adalah sebagai seorang laki-laki tangguh dan terhormat yang melindungi orang tidak bersalah dan membasmi para gangster, pengedar narkoba, dan teroris. Dalam karakter yang Anda perankan, Anda menggunakan kekerasan untuk mengatasi kekerasan. Ketika Anda menonton diri Anda di layar, bagaimana menyelaraskan kekerasan tersebut dengan gaya hidup dari seseorang yang mempraktekkan belaskasih dan ketiadaan kekerasan?
Saya pikir hal tersebut tidak ada hubungannya dengan hal yang lain. Saya menganggap bahwa seni mencontoh dari kehidupan dan manfaatnya seharusnya adalah menjadi suatu penafsiran yang sempurna dan tepat tentang jalan hidup yang sebenarnya, dalam segala hal yang muncul darinya. Saya adalah seorang artis yang berusaha untuk menyempurnakan keahliannya, tetapi pada saat yang sama saya memang sadar dengan adanya kekerasan tersebut. Saya berada dalam kontrak dengan Warner Brothers yang tidak bisa saya lepaskan, dan apa yang mereka inginkan dari saya adalah film yang menunjukkan aksi dari seorang pria. Sekarang setelah saya keluar dari keadaan itu, maka saya lebih bisa memerankan jenis film yang benar-benar saya inginkan, yang tentunya berkaitan dengan spiritual pada dasarnya dan yang akan membimbing orang menuju perenungan dan memberi mereka kegembiraan.

Oke, pertanyaan terakhir. Dengan menyadari ketidakterpisahan dari samsara dan nibbana, apa yang akan Anda katakan tentang hal terbaik dari seorang Steven Seagal?
Anda tahu, bisa dikatakan bahwa saya dibesarkan dalam Zen dan saya tidak memandang hidup saya sebagai yang terbaik ataupun yang terburuk.

Saya bertanya dari sudut pandang yang lain.
Hal yang paling saya syukuri adalah para guru yang telah memperbolehkan saya untuk mendapatkan sedikit pengetahuan dan kebijaksanaan yang sekarang membuat saya tetap bernapas. Saya bersyukur atas kemampuan yang saya miliki di depan layar untuk membawa kebahagiaan dan kegembiraan bagi orang-orang dan atas kemampuan yang akan saya miliki yang semoga saja bisa mendorong orang untuk merenung. Mengenai hal yang terburuk, saya menganggap musuh dan penderitaan saya yang terbesar sebagai guru terhebat saya, jadi sisi lain dari unsur negatif ini.

Copyright © 2004 Shambhala Sun Magazine
Sumber: How to Develop Happiness in Daily Living
Penerbit : Bodhi Buddhist Centre Indonesia, Medan

Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/steven-seagal-hidup-bukanlah-mengenai-apa-yang-terbaik/

Dipublikasi di Selebritis | Tinggalkan komentar

>Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi

>

Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi

Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi

Tanya & Jawab AHLI, Nirmala , Desember 2005, halaman 26

Sekarang ada banyak ditulis soal penyembuhan lewat meditasi . Gangguan berbagai penyakit , dari sekedar pusing sampai lumpuh bisa sembuh dengan meditasi ( ada beberapa pengakuan kesembuhan yang saya baca dari koran ). Sepengetahuan saya , bukankah meditasi hanya pengaturan napas dan menenangkan pikiran ? Sejauh apa meditasi bisa menyembuhkan ? Bagaimana peranan obat dalam penyembuhan lewat meditasi ?

Dudi Iskandar – Bandung .

Meditasi telah dilakukan untuk meningkatkan kesehatan sejak 3 abad yang lalu . Secara ilmiah , kajian manfaat meditasi telah banyak dilakukan dalam bidang kedokteran , khususnya Kedokteran Naturopati pada sub spesialisasi Kedokteran Energi atau yang lebih dikenal sebagai vibrational medicine .

Meditasi bukan sekadar aktivitas menenangkan diri atau mengusir stres . Tidak juga sekadar proses pengaturan napas . Memang , proses meditasi adalah mengatur napas , yaitu menghirup dan menghembuskan perlahan-lahan. Ini untuk memfokuskan perhatian dan menenangkan ritme detak jantung individu yang bersangkutan .

Secara ilmiah , efek meditasi terhadap organ tubuh sudah dibuktikan oleh Itzhak Bentow yang menggunakan alat perekam ballistocardiograph. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meditasi mampu mengaktifkan gelombang saraf dalam otak. Peningkatan gelombang saraf tersebut akan meningkatkan pula koordinasi hemisfer kanan dan kiri otak. Dengan koordinasi yang baik, kanan dan kiri, maka kontrol sistem saraf otonom akan makin baik pula. Membaiknya kontrol sistem saraf otonom akan memperbaiki sistem regulasi fungsi jantung, temperatur tubuh, aliran darah, dan oksigenasi sel serta jaringan tubuh .

Lebih detail, manfaat meditasi dalam kedokteran vibrational dikenal sebagai physio kundalini mechanism. Mekanismenya dimulai dari kumpulan energi yang membentuk tubuh manusia sehingga mampu menjalankan fungsi dan kerja setiap sel, jaringan, dan organ tubuh .

Di dalam tubuh manusia terdapat berbagai macam energi, misalnya energi metabolik, energi bioelektrikal, energi biophoton ( komunikasi antar sel ), energi magnetik ( koordinasi antar organ), energi eterik yang biasa dikenal sebagai basic life energy ( energi untuk pertumbuhan dan perkembangan ), energi astral ( emosional dan intelektual ), dan lain-lain.

Berdasarkan teori ini meditasi akan meningkatkan vibrasi dan pulsasi seluruh energi tubuh yang berefek pada meningkatkan resonansi jantung dan aorta ( pembuluh darah besar yang membawa darah dari jantung ). Resonansi dan vibrasi energi akan menstimulasi sistem saraf cranial ( yaitu 12 pasang sistem saraf yang berhubungan erat dengan fungsi otak ). Aktifnya 12 pasang sistem saraf membuat ventrikel otak bekerja optimal yaitu menghasilkan rangsangan mekano-elektrik pada sistem cortex-sensory di otak. Akibatnya aliran neurotransmitter lebih lancar, yang akan melepaskan aktivitas sensorimotor. Aktivitas sensorimotor yang baik akan meningkatkan fungsi dan kerja seluruh organ atau sistem tubuh. Efeknya, regenerasi sel dan jaringan tubuh akan berlangsung secara optimal.

Penelitian lain menunjukkan bahwa meditasi akan menimbulkan perubahan bertahap pada tingkat energi basal yang berfungsi membentuk stem sel ( sel cikal bakal dari seluruh sel tubuh ). Dengan baiknya pembentukan stem sel maka sel atau jaringan yang mati atau rusak dapat segera diganti sebelum menimbulkan masalah .

Di negara maju seperti Amerika atau Eropa Barat, cara meditasi telah banyak digunakan sebagai upaya untuk melengkapi pengobatan medis. Dalam beberapa laporan ilmiah, terlihat bahwa meditasi sangat penting untuk mengatasi berbagai macam penyakit degeneratif seperti jantung koroner, tekanan darah tinggi, kanker, rematik, alergi sampai asma, depresi, kecemasan, kecanduan obat, gangguan metabolisme dan sebagainya. (N)

Dr. Amarullah H. Siregar , DIHom , DNMed , MSc , PhD.

Dokter ahli naturopati. Menangani kasus secara holistic dengan pendekatan ilmu naturopati (misal suplemen, fitofarmaka, herba, homeopati, pola aktivitas ).

Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/sembuh-lewat-meditasi/

Dipublikasi di Bukti Ilmiah Meditasi, Kekuatan Pikiran, kesehatan | Tinggalkan komentar

>Berdana Dengan Pengertian

>

Berdana Dengan Pengertian
Oleh: Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera
 



Berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama Saat ini akan dijelaskan tentang Sangha Dana, atau mempersembahkan dana kepada anggota Sangha diluar masa Kathina. Walaupun saat tersebut sudah tidak lagi di bulan Kathina tetapi bukan berarti perbuatan baik yang akan dilakukan kemudian menjadi kecil manfaatnya. Sebagai gambaran, kita akan melihat permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini ada beberapa peraturan dasar yang harus kita patuhi. Ada garisnya, ada cocknya, ada pemainnya, ada raket, kemudian pakaiannya pun khusus. Kita tidak dapat membayangkan andaikata permainan bulu tangkis ini tidak mempergunakan cock melainkan mempergunakan bola bekel, misalnya. Bagaimana bila bolanya di-smash dan kena kepala lawan main, pasti benjol! Bola bekel untuk bulu tangkis tidak akan cocok. Atau mungkin kita bisa membayangkan bulu tangkis dengan mempergunakan cock tetapi bulunya tinggal satu helai. Jadi kalau dipukul muntir-muntir. Tidak mungkin dipakai. Kita juga bisa tahu bahwa para pemain bulu tangkis membutuhkan pakaian tertentu, celana pendek dan kaos. Bayangkan saja bila kita sekarang bermain bulu tangkis dengan mengenakan jas. Juga tidak mungkin, memang bukan pada tempatnya. Demikianlah ibarat bermain bulu tangkis demikian pula berdana. Kalau kita melihat permainan bulu tangkis ada yang memukul dan ada pula yang menerima, pukul lagi, terima lagi, konsep berdana juga sama, ada yang memberi dan ada yang menerima. Tapi si penerima tidak hanya menerima saja melainkan juga diumpan kembali, terima lagi-umpan lagi, demikian seterusnya. Karena seperti bulu tangkis yang membutuhkan beberapa aturan, maka berdanapun untuk mencapai nilai puncak, mencapai point tinggi, juga membutuhkan peraturan ataupun persyaratan. Persyaratan pertama, dalam mempersembahkan dana kita hendaknya juga memperhatikan barang yang hendak didanakan. Barang yang kita persembahkan hendaknya barang yang bersih. Pengertian ‘bersih’ disini bukan berarti barang yang steril, misalnya piring yang disterilkan. ‘Barang bersih’ artinya kita mempersembahkan barang yang didapatkan dari perbuatan atau usaha yang baik, bukan dari mencuri maupun merampok. Namun sering muncul pertanyaan bagaimana kalau ada orang yang menjadi perampok budiman, merampoki orang kaya kemudian hasilnya dibagikan kepada orang yang miskin. Apakah perbuatan ini juga termasuk berdana? Sebenarnya perbuatan ini dapat dimasukkan sebagai berdana tetapi berdana yang tidak sehat. Kalau ibarat bulu tangkis tadi cocknya bulunya cuma satu helai, bisa dipergunakan untuk bermain, tetapi bila dipukul akan muntir, tidak karuan dan membingungkan. Jadi orang yang berdana bingung dan si penerima dana juga bingung. Dana dengan cara sebagai perampok budiman akan menghasilkan buah yang kecil. Hal ini disebabkan karena barang yang didanakan didapat dari tindakan yang tidak benar. Akan jauh lebih baik bila kita berdana dengan barang yang bersih, barang yang kita dapatkan dari hasil keringat kita sendiri. Barang hasil perjuangan kita sendiri inilah yang memiliki nilai tinggi sekali. Oleh karena itu, umat hendaknya mempersiapkan persembahan dana Kathina ini dengan matang. mempersiapkan diri jauh sebelum bulan Kathina datang. Menyiapkan diri dengan menabung setiap hari sebagian penghasilannya sehingga bila telah tiba hari Kathina, tabungan dibuka dan dipersembahkan.

Ada sebuah cerita dari negara Buddhis, Thailand. Di Thailand para bhikkhu biasanya setiap pagi keluar vihara untuk memberi kesempatan umat berbuat baik dengan mempersembahkan dana makan. Kegiatan ini disebut Pindapatta. Pada waktu Pindapatta para bhikkhu berjalan perlahan sambil membawa mangkuk melewati tempat-tempat umum, kampung dan pasar. Pada suatu saat pernah terjadi seorang bhikkhu yang sedang berjalan membawa mangkuknya. Ia melihat di pinggir sebuah jembatan ada seorang pengemis yang sedang duduk. Pengemis itu memang setiap hari kerjanya duduk di situ. Mengemis. Namun dia tidak pernah mengemis kepada para bhikkhu. Suatu hari pengemis ini hendak mempersembahkan dana makan berupa nasi bungkus kepada bhikkhu tersebut. Si bhikkhu kaget dan berusaha menghindari si pengemis. Si bhikkhu berpikir bahwa si pengemis ini sudah sulit hidupnya karena itu tidak perlu mempersembahkan dana makan kepadanya. Akan tetapi, si pengemis malah meratap dan bertanya apakah ia sebagai pengemis miskin tidak diberi kesempatan berbuat baik? Mendengar kata-kata si pengemis, sang bhikkhu timbullah hati welas asihnya dan diterimalah persembahan dana makan dari si pengemis. Ternyata, si pengemis memang telah bertekad bahwa sebagian dari jumlah uang yang diterimanya pada pagi itu akan dipersembahkan kepada bhikkhu. Dana semacam ini dapat dikelompokkan sebagai dana yang bersih. Dana yang bersih ini bila diibaratkan dengan cock bulu tangkis tadi adalah bagaikan cock yang baru, mulus, timbangannya cocok, tidak oleng-oleng kemana-mana. Oleh karena dana yang diberikan ini betul-betul mulus, murni dari hasil dirinya sendiri.

Persyaratan kedua, barangnya baik. Barang baik adalah barang yang tidak rusak sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tujuannya. Misalnya, kita sekarang bekerja keras karena mengetahui bahwa besok pagi akan mempersembahkan dana makan kepada para bhikkhu. Dengan hasil yang telah dikumpulkan, kita mempersiapkan makanan, tapi barangnya tidak baik, misalnya makanan yang sudah basi. Hal itu termasuk barang yang bersih tetapi bukan barang baik. Keadaan itu ibarat sebuah cock dengan timbangan baik, tetapi bulunya sudah kusut tidak karuan karena terkena banyak smash.

Selain barang bersih, barang baik, persyaratan ketiga adalah barang layak. Barang layak artinya adalah barang yang sesuai dengan si penerima. Pantas. Janganlah kita mempersembahkan sisir rambut kepada para bhikkhu. Sisir baru yang dibeli dengan uang hasil kerja dalam hal ini memang barang yang bersih dan baik tetapi tidak sesuai untuk dipergunakan para bhikkhu. Begitu pula dengan mempersembahkan dana sepatu kepada para bhikkhu, tidak layak, tidak pantas. Barang-barang semacam ini adalah barang yang tidak sesuai.

Oleh karena itu, sebelum kita mempersembahkan dana, hendaknya kita renungkan terlebih dahulu apakah barang yang kita persembahkan itu telah sesuai untuk para bhikkhu ataukah kurang sesuai. Sesungguhnya para bhikkhu hanya membutuhkan empat kebutuhan pokok saja yaitu sandang, pangan, papan dan obat-obatan. Tidak ada yang lain. Sandang atau pakaian untuk para bhikkhu hanyalah satu set jubah. Pangan atau makanan yang diperlukan oleh para bhikkhu juga agak terbatas, terbatas waktu makannya. Para bhikkhu paling banyak sehari hanya makan dua kali saja sebelum tengah hari. Setelah jam 12 siang, para bhikkhu berpuasa, tidak makan lagi, minum pun terbatas jenisnya. Papan atau tempat tinggal untuk para bhikkhu biasanya berupa vihara atau untuk beberapa waktu dapat tinggal di rumah yang disediakan oleh umat. Obat-obatan untuk para bhikkhu biasanya juga telah banyak tersedia di vihara. Keadaan ini kadang membuat para umat berpikir, bagaimana umat dapat ber-pindapatta, padahal umat sering baru mempunyai waktu ke vihara setelah jam 12 siang. Kemudian umat juga melihat bahwa para bhikkhu telah memiliki cukup sandang, pangan, dan papan atau tempat tinggal, serta obat-obatan di vihara. Sedangkan kebutuhan para bhikkhu hanyalah empat saja, dan kebutuhan ini pun tidak selalu diperlukan setiap saat, kecuali kebutuhan pangan. Oleh karena itu, kemudian umat mewujudkan empat kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan dan obat-obatan ini dalam bentuk materi penggantinya atau dalam bentuk uang. Persembahan empat kebutuhan pokok dalam bentuk uang ini kemudian dimasukkan ke dalam amplop. Namun, walaupun pada waktu itu yang dipersembahkan adalah uang hendaknya dalam pikiran kita tetap merenungkan bahwa kita berdana empat kebutuhan pokok yaitu, sandang, pangan, papan dan obat-obatan seharga nilai nominal uang yang dipersembahkan. Dengan mengingat hukum sebab dan akibat bahwa sesuai dengan benih yang ditanam demikian pula buah yang akan dipetik, persembahan dana empat kebutuhan pokok itu akan dapat membuahkan kebahagiaan dalam bentuk kecukupan empat kebutuhan pokok dalam kehidupan kita. Sandangnya banyak macam, makanannya berlimpah ruah, tempat tinggalnya lebih dari satu, fasilitas obat-obatan lengkap, dapat berobat kemana-mana.

Berbicara tentang barang yang kita berikan kalau ibarat bulutangkis tadi adalah bolanya, maka disamping itu, bulutangkis juga perlu memperhatikan ketepatan waktu. Waktu memukul bola hendaknya dilakukan bila bola sudah datang, jangan bolanya masih dipegang musuh, kita sudah memukulnya, ketika bola datang kita malah diam tidak bergerak. Hal ini salah. Jadi, waktu atau saat memukul ini penting. Demikian pula, kapankah waktu kita berdana? Segera dilaksanakan, adalah merupakan persyaratan yang keempat. Apabila pikiran baik kita muncul, pada saat itu juga segera kerjakanlah. Jikalau kita menunda mengerjakan suatu perbuatan baik maka ada kemungkinan kita malahan membatalkan niat melakukan perbuatan baik itu, pikiran memang mudah berubah. Pikiran yang baik bila diproses secara lambat malahan hasilnya kita tidak jadi melakukan perbuatan apa-apa. Oleh karena itu, kapankah kita melakukan perbuatan baik? Pada saat terpikir, pada saat itu juga! Tidak perlu menunggu waktu lagi. Misalnya, kita akan berdana kepada para bhikkhu, tidak perlu menunggu nanti hari Kathina tahun depan saja. Kalau kita masih hidup. Kalau sudah meninggal? Hilanglah kesempatan kita berbuat baik. Kita juga tidak perlu menunggu jumlah bhikkhu yang hadir genap sembilan orang. Kalau bhikkhunya tidka datang semua? Atau kita harus menunggu kalau jumlah bhikkhunya mencapai empat orang karena jumlah itulah yang dapat disebut dengan Sangha. Itupun pendapat yang salah. Biarlah, seadanya bhikkhu saja. Justru bukan jumlah bhikkhu yang perlu kita pikirkan tetapi menjaga kondisi pikiran kita agar tetap memiliki niat baik itulah yang penting. Oleh karena itu, bila pikiran baik muncul, segera kerjakanlah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul keinginan berdana tetapi jarang menjumpai bhikkhu. Kesulitan ini dapat diatasi dengan cara mempersiapkan di rumah sebuah kotak dana terkunci. Anak kunci kotak ini dapat dititipkan pada seorang bhikkhu atau di vihara, misalnya. Jadi begitu timbul pikiran baik segera masukkan uang ke kotak dana tadi. Perbuatan ini dapat kita ulang setiap saat. Bila telah dirasa cukup dan masanya pun telah tiba, bolehlah kotak dana tadi dibuka dan isinya diserahkan ke vihara. Beres. Oleh karena itu, dalam berbuat kebaikan, hendaknya barangnya baik, bersih, sesuai, kemudian waktunya pun hendaknya segera dilaksanakan.

Sebagai persyaratan kelima, persembahan hendaknya sering dilakukan. Artinya bukan berdana sekali seumur hidup dalam jumlah sebesar-besarnya kemudian tidak pernah melaksanakannya lagi. Itu keliru. Contohnya, seseorang melaksanakan pelepasan satwa sejumlah 1000 ekor burung tetapi kemudian seumur hidup sudah tidak pernah dilakukannya lagi. Sikap ini juga kurang tepat, hal ini berarti orang hanya mempunyai pikiran dan perbuatan baik sekali itu saja. Dalam pengertian agama Buddha kita hendaknya sering memberi kondisi pikiran dan perbuatan kita untuk melakukan kebaikan. Jadi, kalau memang kita telah bertekad dalam satu tahun akan membebaskan makhluk sebanyak seribu ekor, maka cobalah dibagi menjadi 20 kali melepas, misalnya; jadi setiap kali melepas sekitar 50 ekor. Dengan demikian, pikiran akan terkondisi untuk lebih sering berbuat baik. Jadi sering-seringlah untuk melakukan kebaikan seperti badminton yang tidak gampang turun bolanya karena para pemainnya trampil mengolah bola. Itu baru permainan menarik. Tapi apabila baru sekali pukul kemudian bolanya sudah jatuh, dipukul lagi, jatuh lagi. Sungguh permainan yang tidak menarik. Hal itu sama dengan orang yang setahun sekali baru berbuat baik, kurang besar manfaat bagi dirinya.

Apabila kita telah dapat melaksanakan dana secara rutin, maka hendaknya kita berdana dengan pikiran yang baik. Pikiran yang baik adalah persyaratan keenam. Diibaratkan pakaian orang bermain badminton harus bercelana pendek dan memakai kaos olah raga. Sulit dibayangkan bila seseorang hanya memakai salah satu dari pakaian perlengkapan bermain badminton tadi. Hanya pakai celana tanpa baju atau mengenakan baju tanpa celana…. Pikiran yang baik ini adalah pikiran bahagia pada saat kita mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana. Ada sebuah cerita tentang orang yang berdana. Hatinya senang ketika sedang mempersiapkan dana. Pada waktu mempersembahkan dana, ia masih merasa senang, namun setelah mempersembahkan dana timbullah penyesalan. Kondisi pikiran ini akan membuahkan kelahiran kembali sebagai anak orang kaya. Sejak kecil banyak harta dimilikinya. Kondisi kebahagian ini berlangsung sampai dengan ia dewasa. Akan tetapi, di masa tuanya ia jatuh miskin. Penderitaan di hari tua ini adalah buah penyesalannya setelah mempersembahkan dana tadi.

Sebaliknya, ada orang pada awalnya merasa tidak senang melakukan perbuatan baik. Pada waktu mempersembahkan dana juga memiliki pikiran yang kurang simpatik. Namun, setelah mempersembahkan dana ia merasakan kebahagiaan. Apakah buah karma pikiran semacam ini? Apabila ia terlahir kembali maka dimasa kecilnya ia menderita; pada usia dewasa ia juga masih menderita namun dihari tuanya ia akan berbahagia. Jadi kondiisi pikiran sebelum mempersembahkan dana mewakili keadaan kita di masa kecil dalam kehidupan yang akan datang. Kondisi pikiran ketika mempersembahkan dana mewakili usia dewasa. Kondisi pikiran setelah mempersembahkan dana mewakili usia tua. Oleh karena itu, sejak kecil, dewasa, sampai tua bahkan seumur hidup kita akan bahagia bila pada waktu mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana pikiran kita selalu berbahagia.

Kembali tentang perumpamaan permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini dibutuhkan para pemain. Para pemain hendaknya telah mengetahui aturan mainnya. Dengan mengikuti aturan main bulu tangkis maka permainan akan tertib, tidak kacau. Begitu pula dalam berdana, si pemberi dan si penerima hendaknya mempunyai kemoralan sila yang sama, minimal Pancasila Buddhis. Oleh karena itu, masalah tentang perampok budiman di atas adalah seperti permainan bulu tangkis yang tidak seimbang pemainnya. Seperti orang yang pandai badminton melawan orang yang baru saja belajar. Pusing. Demikian pula perampok yang mempersembahkan hasil rampokannya untuk vihara.

Begitu pula bila seorang wanita tuna susila mempersembahkan dana. Dana yang dipersembahkan diperoleh dari perbuatan yang melanggar sila. Memang dana itu masih tetap dapat diterima, sebab bila tidak diterima, kapan lagi mereka memiliki kesempatan berbuat baik dan memperbaiki keadaan? Jadi walaupun orang yang diberi dan yang memberi ini tidak seimbang, tetapi tetap, tetap bisa membawa manfaat. Seperti orang main badminton yang satu mengenakan jas sedangkan pemain yang lainnya mengenakan pakaian olah raga. Juga tidak apa-apa, masih tetap bisa bermain, hanya saja tidak seimbang.

Oleh karena itu, sebaiknya sebelum berdana kita memohon sila terlebih dahulu, minimal Pancasila Buddhis. Walaupun di luar gerbang Vihara ini kita telah melanggar salah satu sila atau bahkan kelima-limanya, tetapi kalau di dalam kompleks Vihara hendaknya kemoralan kita diperbaiki. Caranya adalah dengan memohon tuntunan Pancasila Buddhis yang terdiri dari tekad untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, bohong dan mabuk-mabukkan. Dengan menjalankan tuntunan itu, minimal selama dalam kompleks Vihara kemoralan kita menjadi lebih baik. Sehingga antara fihak yang memberi dan yang diberi sudah seimbang kemoralannya. Hal ini akan memperbesar manfaat dan buah kebjikannya. Permainan badmintonnya akan enak dinikmati. Para umat memberi, para bhikkhu pun memberi. Para umat memberikan materi yang diperoleh dari bekerja keras dalam masyarakat. Sedangkan para bhikkhu memberikan buah kebajikan yang besar kepada para umat yaitu dengan cara pengolahan diri sesuai Ajaran Sang Buddha, pelaksanaan kemoralan dengan sebaik-baiknya. Sehingga para umat benar-benar seperti menanam di ladang yang subur. Dana dari umat akan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sepiring nasi yang dipersembahkan bukan hanya untuk main-main tetapi akan diolah oleh tubuh para bhikkhu menjadi tenaga untuk menjaga kesehatan, menyambung kehidupan dan sekaligus untuk tenaga membabarkan Buddha Dhamma. Dengan demikian, sepiring nasi yang dipersembahkan, nilainya bukan lagi harga nominal sepiring nasi sewaktu dibeli. Bukan. Sepiring nasi ini nilainya menjadi nilai Dhamma, karena telah diubah menjadi tenaga untuk membabarkan dan melestarikan Buddha Dhamma. Di dalam Dhammapada XXIV, 21 dikatakan bahwa Pemberian Kebenaran (Dhamma) mengalahkan segenap pemberian lainnya. Dengan sepiring nasi yang dipersembahkan kepada para bhikkhu sama dengan melaksanakan Dhammadana. Jenis dana yang paling tinggi untuk dipersembahkan. Dengan menerima persembahan kebutuhan sandang, pangan, papan dan obat-obatan, para bhikkhu dapat memanfaatkannya untuk pembabaran Dhamma di daerah-daerah lain. Dengan demikian, hasil setiap tetes keringat yang diberikan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana. Buah Dhammadana ini juga akan dinikmati sendiri oleh si pemberi dalam kehidupan ini.

Itulah hal yang bisa dilakukan dalam permainan bulu tangkis perbuatan baik ini. Para umat memberikan dukungan moral, kemudian memberikan dukungan material, menunjang kehidupan para bhikkhu. Para bhikkhu pun memberikan dukungan mental kepada para umat dengan memberikan contoh moral serta berjuang dalam kebajikan. Para bhikkhu pun selalu merenungkan dan mengingatkan diri sendiri, bahwa para umat telah menunjang kehidupan para bhikkhu selama menjalani kehidupan kebhikkhuan. Jadi, bila seorang bhikkhu telah 23 tahun menjadi bhikkhu, berarti selama 23 tahun pula hidupnya disokong oleh umat. Padahal, para umat bukanlah sanak maupun keluarganya. Umat dengan rela dan ikhlas telah menyantuni kehidupan para bhikkhu sampai sekian lama. Apakah sekarang balas jasa para bhikkhu kepada umat? Seperti dalam permainan bulu tangkis tadi, bila seorang pemain setelah mendapatkan bola hendaknya segera mengembalikannya kepada pemain yang lain. Demikian pula dengan para bhikkhu, setelah menerima persembahan hendaknya mengembalikannya lagi kepada umat dengan cara meningkatkan semaksimal mungkin perjuangan dalam Dhamma dan pelaksanaan peraturan kemoralan. Sehingga semakin banyak umat menanam kebajikan, semakin lebat pula buah kebajikan yang diterimanya.

Dalam Manggala Sutta disebutkan bahwa berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama. Para umat Buddha yang melaksanakan Dhamma dengan mempersembahkan dana kepada Sangha dapat juga disebut sebagai Dhammadana. Sebab, apapun yang dipersembahkan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana, menjadi sarana pembabaran Dhamma kepada orang lain sehingga buah lebatnya akan dapat dimiliki si pemberi.

Berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama Saat ini akan dijelaskan tentang Sangha Dana, atau mempersembahkan dana kepada anggota Sangha diluar masa Kathina. Walaupun saat tersebut sudah tidak lagi di bulan Kathina tetapi bukan berarti perbuatan baik yang akan dilakukan kemudian menjadi kecil manfaatnya. Sebagai gambaran, kita akan melihat permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini ada beberapa peraturan dasar yang harus kita patuhi. Ada garisnya, ada cocknya, ada pemainnya, ada raket, kemudian pakaiannya pun khusus. Kita tidak dapat membayangkan andaikata permainan bulu tangkis ini tidak mempergunakan cock melainkan mempergunakan bola bekel, misalnya. Bagaimana bila bolanya di-smash dan kena kepala lawan main, pasti benjol! Bola bekel untuk bulu tangkis tidak akan cocok. Atau mungkin kita bisa membayangkan bulu tangkis dengan mempergunakan cock tetapi bulunya tinggal satu helai. Jadi kalau dipukul muntir-muntir. Tidak mungkin dipakai. Kita juga bisa tahu bahwa para pemain bulu tangkis membutuhkan pakaian tertentu, celana pendek dan kaos. Bayangkan saja bila kita sekarang bermain bulu tangkis dengan mengenakan jas. Juga tidak mungkin, memang bukan pada tempatnya. Demikianlah ibarat bermain bulu tangkis demikian pula berdana. Kalau kita melihat permainan bulu tangkis ada yang memukul dan ada pula yang menerima, pukul lagi, terima lagi, konsep berdana juga sama, ada yang memberi dan ada yang menerima. Tapi si penerima tidak hanya menerima saja melainkan juga diumpan kembali, terima lagi-umpan lagi, demikian seterusnya. Karena seperti bulu tangkis yang membutuhkan beberapa aturan, maka berdanapun untuk mencapai nilai puncak, mencapai point tinggi, juga membutuhkan peraturan ataupun persyaratan. Persyaratan pertama, dalam mempersembahkan dana kita hendaknya juga memperhatikan barang yang hendak didanakan. Barang yang kita persembahkan hendaknya barang yang bersih. Pengertian ‘bersih’ disini bukan berarti barang yang steril, misalnya piring yang disterilkan. ‘Barang bersih’ artinya kita mempersembahkan barang yang didapatkan dari perbuatan atau usaha yang baik, bukan dari mencuri maupun merampok. Namun sering muncul pertanyaan bagaimana kalau ada orang yang menjadi perampok budiman, merampoki orang kaya kemudian hasilnya dibagikan kepada orang yang miskin. Apakah perbuatan ini juga termasuk berdana? Sebenarnya perbuatan ini dapat dimasukkan sebagai berdana tetapi berdana yang tidak sehat. Kalau ibarat bulu tangkis tadi cocknya bulunya cuma satu helai, bisa dipergunakan untuk bermain, tetapi bila dipukul akan muntir, tidak karuan dan membingungkan. Jadi orang yang berdana bingung dan si penerima dana juga bingung. Dana dengan cara sebagai perampok budiman akan menghasilkan buah yang kecil. Hal ini disebabkan karena barang yang didanakan didapat dari tindakan yang tidak benar. Akan jauh lebih baik bila kita berdana dengan barang yang bersih, barang yang kita dapatkan dari hasil keringat kita sendiri. Barang hasil perjuangan kita sendiri inilah yang memiliki nilai tinggi sekali. Oleh karena itu, umat hendaknya mempersiapkan persembahan dana Kathina ini dengan matang. mempersiapkan diri jauh sebelum bulan Kathina datang. Menyiapkan diri dengan menabung setiap hari sebagian penghasilannya sehingga bila telah tiba hari Kathina, tabungan dibuka dan dipersembahkan.

Ada sebuah cerita dari negara Buddhis, Thailand. Di Thailand para bhikkhu biasanya setiap pagi keluar vihara untuk memberi kesempatan umat berbuat baik dengan mempersembahkan dana makan. Kegiatan ini disebut Pindapatta. Pada waktu Pindapatta para bhikkhu berjalan perlahan sambil membawa mangkuk melewati tempat-tempat umum, kampung dan pasar. Pada suatu saat pernah terjadi seorang bhikkhu yang sedang berjalan membawa mangkuknya. Ia melihat di pinggir sebuah jembatan ada seorang pengemis yang sedang duduk. Pengemis itu memang setiap hari kerjanya duduk di situ. Mengemis. Namun dia tidak pernah mengemis kepada para bhikkhu. Suatu hari pengemis ini hendak mempersembahkan dana makan berupa nasi bungkus kepada bhikkhu tersebut. Si bhikkhu kaget dan berusaha menghindari si pengemis. Si bhikkhu berpikir bahwa si pengemis ini sudah sulit hidupnya karena itu tidak perlu mempersembahkan dana makan kepadanya. Akan tetapi, si pengemis malah meratap dan bertanya apakah ia sebagai pengemis miskin tidak diberi kesempatan berbuat baik? Mendengar kata-kata si pengemis, sang bhikkhu timbullah hati welas asihnya dan diterimalah persembahan dana makan dari si pengemis. Ternyata, si pengemis memang telah bertekad bahwa sebagian dari jumlah uang yang diterimanya pada pagi itu akan dipersembahkan kepada bhikkhu. Dana semacam ini dapat dikelompokkan sebagai dana yang bersih. Dana yang bersih ini bila diibaratkan dengan cock bulu tangkis tadi adalah bagaikan cock yang baru, mulus, timbangannya cocok, tidak oleng-oleng kemana-mana. Oleh karena dana yang diberikan ini betul-betul mulus, murni dari hasil dirinya sendiri.

Persyaratan kedua, barangnya baik. Barang baik adalah barang yang tidak rusak sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tujuannya. Misalnya, kita sekarang bekerja keras karena mengetahui bahwa besok pagi akan mempersembahkan dana makan kepada para bhikkhu. Dengan hasil yang telah dikumpulkan, kita mempersiapkan makanan, tapi barangnya tidak baik, misalnya makanan yang sudah basi. Hal itu termasuk barang yang bersih tetapi bukan barang baik. Keadaan itu ibarat sebuah cock dengan timbangan baik, tetapi bulunya sudah kusut tidak karuan karena terkena banyak smash.

Selain barang bersih, barang baik, persyaratan ketiga adalah barang layak. Barang layak artinya adalah barang yang sesuai dengan si penerima. Pantas. Janganlah kita mempersembahkan sisir rambut kepada para bhikkhu. Sisir baru yang dibeli dengan uang hasil kerja dalam hal ini memang barang yang bersih dan baik tetapi tidak sesuai untuk dipergunakan para bhikkhu. Begitu pula dengan mempersembahkan dana sepatu kepada para bhikkhu, tidak layak, tidak pantas. Barang-barang semacam ini adalah barang yang tidak sesuai.

Oleh karena itu, sebelum kita mempersembahkan dana, hendaknya kita renungkan terlebih dahulu apakah barang yang kita persembahkan itu telah sesuai untuk para bhikkhu ataukah kurang sesuai. Sesungguhnya para bhikkhu hanya membutuhkan empat kebutuhan pokok saja yaitu sandang, pangan, papan dan obat-obatan. Tidak ada yang lain. Sandang atau pakaian untuk para bhikkhu hanyalah satu set jubah. Pangan atau makanan yang diperlukan oleh para bhikkhu juga agak terbatas, terbatas waktu makannya. Para bhikkhu paling banyak sehari hanya makan dua kali saja sebelum tengah hari. Setelah jam 12 siang, para bhikkhu berpuasa, tidak makan lagi, minum pun terbatas jenisnya. Papan atau tempat tinggal untuk para bhikkhu biasanya berupa vihara atau untuk beberapa waktu dapat tinggal di rumah yang disediakan oleh umat. Obat-obatan untuk para bhikkhu biasanya juga telah banyak tersedia di vihara. Keadaan ini kadang membuat para umat berpikir, bagaimana umat dapat ber-pindapatta, padahal umat sering baru mempunyai waktu ke vihara setelah jam 12 siang. Kemudian umat juga melihat bahwa para bhikkhu telah memiliki cukup sandang, pangan, dan papan atau tempat tinggal, serta obat-obatan di vihara. Sedangkan kebutuhan para bhikkhu hanyalah empat saja, dan kebutuhan ini pun tidak selalu diperlukan setiap saat, kecuali kebutuhan pangan. Oleh karena itu, kemudian umat mewujudkan empat kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan dan obat-obatan ini dalam bentuk materi penggantinya atau dalam bentuk uang. Persembahan empat kebutuhan pokok dalam bentuk uang ini kemudian dimasukkan ke dalam amplop. Namun, walaupun pada waktu itu yang dipersembahkan adalah uang hendaknya dalam pikiran kita tetap merenungkan bahwa kita berdana empat kebutuhan pokok yaitu, sandang, pangan, papan dan obat-obatan seharga nilai nominal uang yang dipersembahkan. Dengan mengingat hukum sebab dan akibat bahwa sesuai dengan benih yang ditanam demikian pula buah yang akan dipetik, persembahan dana empat kebutuhan pokok itu akan dapat membuahkan kebahagiaan dalam bentuk kecukupan empat kebutuhan pokok dalam kehidupan kita. Sandangnya banyak macam, makanannya berlimpah ruah, tempat tinggalnya lebih dari satu, fasilitas obat-obatan lengkap, dapat berobat kemana-mana.

Berbicara tentang barang yang kita berikan kalau ibarat bulutangkis tadi adalah bolanya, maka disamping itu, bulutangkis juga perlu memperhatikan ketepatan waktu. Waktu memukul bola hendaknya dilakukan bila bola sudah datang, jangan bolanya masih dipegang musuh, kita sudah memukulnya, ketika bola datang kita malah diam tidak bergerak. Hal ini salah. Jadi, waktu atau saat memukul ini penting. Demikian pula, kapankah waktu kita berdana? Segera dilaksanakan, adalah merupakan persyaratan yang keempat. Apabila pikiran baik kita muncul, pada saat itu juga segera kerjakanlah. Jikalau kita menunda mengerjakan suatu perbuatan baik maka ada kemungkinan kita malahan membatalkan niat melakukan perbuatan baik itu, pikiran memang mudah berubah. Pikiran yang baik bila diproses secara lambat malahan hasilnya kita tidak jadi melakukan perbuatan apa-apa. Oleh karena itu, kapankah kita melakukan perbuatan baik? Pada saat terpikir, pada saat itu juga! Tidak perlu menunggu waktu lagi. Misalnya, kita akan berdana kepada para bhikkhu, tidak perlu menunggu nanti hari Kathina tahun depan saja. Kalau kita masih hidup. Kalau sudah meninggal? Hilanglah kesempatan kita berbuat baik. Kita juga tidak perlu menunggu jumlah bhikkhu yang hadir genap sembilan orang. Kalau bhikkhunya tidka datang semua? Atau kita harus menunggu kalau jumlah bhikkhunya mencapai empat orang karena jumlah itulah yang dapat disebut dengan Sangha. Itupun pendapat yang salah. Biarlah, seadanya bhikkhu saja. Justru bukan jumlah bhikkhu yang perlu kita pikirkan tetapi menjaga kondisi pikiran kita agar tetap memiliki niat baik itulah yang penting. Oleh karena itu, bila pikiran baik muncul, segera kerjakanlah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul keinginan berdana tetapi jarang menjumpai bhikkhu. Kesulitan ini dapat diatasi dengan cara mempersiapkan di rumah sebuah kotak dana terkunci. Anak kunci kotak ini dapat dititipkan pada seorang bhikkhu atau di vihara, misalnya. Jadi begitu timbul pikiran baik segera masukkan uang ke kotak dana tadi. Perbuatan ini dapat kita ulang setiap saat. Bila telah dirasa cukup dan masanya pun telah tiba, bolehlah kotak dana tadi dibuka dan isinya diserahkan ke vihara. Beres. Oleh karena itu, dalam berbuat kebaikan, hendaknya barangnya baik, bersih, sesuai, kemudian waktunya pun hendaknya segera dilaksanakan.

Sebagai persyaratan kelima, persembahan hendaknya sering dilakukan. Artinya bukan berdana sekali seumur hidup dalam jumlah sebesar-besarnya kemudian tidak pernah melaksanakannya lagi. Itu keliru. Contohnya, seseorang melaksanakan pelepasan satwa sejumlah 1000 ekor burung tetapi kemudian seumur hidup sudah tidak pernah dilakukannya lagi. Sikap ini juga kurang tepat, hal ini berarti orang hanya mempunyai pikiran dan perbuatan baik sekali itu saja. Dalam pengertian agama Buddha kita hendaknya sering memberi kondisi pikiran dan perbuatan kita untuk melakukan kebaikan. Jadi, kalau memang kita telah bertekad dalam satu tahun akan membebaskan makhluk sebanyak seribu ekor, maka cobalah dibagi menjadi 20 kali melepas, misalnya; jadi setiap kali melepas sekitar 50 ekor. Dengan demikian, pikiran akan terkondisi untuk lebih sering berbuat baik. Jadi sering-seringlah untuk melakukan kebaikan seperti badminton yang tidak gampang turun bolanya karena para pemainnya trampil mengolah bola. Itu baru permainan menarik. Tapi apabila baru sekali pukul kemudian bolanya sudah jatuh, dipukul lagi, jatuh lagi. Sungguh permainan yang tidak menarik. Hal itu sama dengan orang yang setahun sekali baru berbuat baik, kurang besar manfaat bagi dirinya.

Apabila kita telah dapat melaksanakan dana secara rutin, maka hendaknya kita berdana dengan pikiran yang baik. Pikiran yang baik adalah persyaratan keenam. Diibaratkan pakaian orang bermain badminton harus bercelana pendek dan memakai kaos olah raga. Sulit dibayangkan bila seseorang hanya memakai salah satu dari pakaian perlengkapan bermain badminton tadi. Hanya pakai celana tanpa baju atau mengenakan baju tanpa celana…. Pikiran yang baik ini adalah pikiran bahagia pada saat kita mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana. Ada sebuah cerita tentang orang yang berdana. Hatinya senang ketika sedang mempersiapkan dana. Pada waktu mempersembahkan dana, ia masih merasa senang, namun setelah mempersembahkan dana timbullah penyesalan. Kondisi pikiran ini akan membuahkan kelahiran kembali sebagai anak orang kaya. Sejak kecil banyak harta dimilikinya. Kondisi kebahagian ini berlangsung sampai dengan ia dewasa. Akan tetapi, di masa tuanya ia jatuh miskin. Penderitaan di hari tua ini adalah buah penyesalannya setelah mempersembahkan dana tadi.

Sebaliknya, ada orang pada awalnya merasa tidak senang melakukan perbuatan baik. Pada waktu mempersembahkan dana juga memiliki pikiran yang kurang simpatik. Namun, setelah mempersembahkan dana ia merasakan kebahagiaan. Apakah buah karma pikiran semacam ini? Apabila ia terlahir kembali maka dimasa kecilnya ia menderita; pada usia dewasa ia juga masih menderita namun dihari tuanya ia akan berbahagia. Jadi kondiisi pikiran sebelum mempersembahkan dana mewakili keadaan kita di masa kecil dalam kehidupan yang akan datang. Kondisi pikiran ketika mempersembahkan dana mewakili usia dewasa. Kondisi pikiran setelah mempersembahkan dana mewakili usia tua. Oleh karena itu, sejak kecil, dewasa, sampai tua bahkan seumur hidup kita akan bahagia bila pada waktu mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana pikiran kita selalu berbahagia.

Kembali tentang perumpamaan permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini dibutuhkan para pemain. Para pemain hendaknya telah mengetahui aturan mainnya. Dengan mengikuti aturan main bulu tangkis maka permainan akan tertib, tidak kacau. Begitu pula dalam berdana, si pemberi dan si penerima hendaknya mempunyai kemoralan sila yang sama, minimal Pancasila Buddhis. Oleh karena itu, masalah tentang perampok budiman di atas adalah seperti permainan bulu tangkis yang tidak seimbang pemainnya. Seperti orang yang pandai badminton melawan orang yang baru saja belajar. Pusing. Demikian pula perampok yang mempersembahkan hasil rampokannya untuk vihara.

Begitu pula bila seorang wanita tuna susila mempersembahkan dana. Dana yang dipersembahkan diperoleh dari perbuatan yang melanggar sila. Memang dana itu masih tetap dapat diterima, sebab bila tidak diterima, kapan lagi mereka memiliki kesempatan berbuat baik dan memperbaiki keadaan? Jadi walaupun orang yang diberi dan yang memberi ini tidak seimbang, tetapi tetap, tetap bisa membawa manfaat. Seperti orang main badminton yang satu mengenakan jas sedangkan pemain yang lainnya mengenakan pakaian olah raga. Juga tidak apa-apa, masih tetap bisa bermain, hanya saja tidak seimbang.

Oleh karena itu, sebaiknya sebelum berdana kita memohon sila terlebih dahulu, minimal Pancasila Buddhis. Walaupun di luar gerbang Vihara ini kita telah melanggar salah satu sila atau bahkan kelima-limanya, tetapi kalau di dalam kompleks Vihara hendaknya kemoralan kita diperbaiki. Caranya adalah dengan memohon tuntunan Pancasila Buddhis yang terdiri dari tekad untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, bohong dan mabuk-mabukkan. Dengan menjalankan tuntunan itu, minimal selama dalam kompleks Vihara kemoralan kita menjadi lebih baik. Sehingga antara fihak yang memberi dan yang diberi sudah seimbang kemoralannya. Hal ini akan memperbesar manfaat dan buah kebjikannya. Permainan badmintonnya akan enak dinikmati. Para umat memberi, para bhikkhu pun memberi. Para umat memberikan materi yang diperoleh dari bekerja keras dalam masyarakat. Sedangkan para bhikkhu memberikan buah kebajikan yang besar kepada para umat yaitu dengan cara pengolahan diri sesuai Ajaran Sang Buddha, pelaksanaan kemoralan dengan sebaik-baiknya. Sehingga para umat benar-benar seperti menanam di ladang yang subur. Dana dari umat akan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sepiring nasi yang dipersembahkan bukan hanya untuk main-main tetapi akan diolah oleh tubuh para bhikkhu menjadi tenaga untuk menjaga kesehatan, menyambung kehidupan dan sekaligus untuk tenaga membabarkan Buddha Dhamma. Dengan demikian, sepiring nasi yang dipersembahkan, nilainya bukan lagi harga nominal sepiring nasi sewaktu dibeli. Bukan. Sepiring nasi ini nilainya menjadi nilai Dhamma, karena telah diubah menjadi tenaga untuk membabarkan dan melestarikan Buddha Dhamma. Di dalam Dhammapada XXIV, 21 dikatakan bahwa Pemberian Kebenaran (Dhamma) mengalahkan segenap pemberian lainnya. Dengan sepiring nasi yang dipersembahkan kepada para bhikkhu sama dengan melaksanakan Dhammadana. Jenis dana yang paling tinggi untuk dipersembahkan. Dengan menerima persembahan kebutuhan sandang, pangan, papan dan obat-obatan, para bhikkhu dapat memanfaatkannya untuk pembabaran Dhamma di daerah-daerah lain. Dengan demikian, hasil setiap tetes keringat yang diberikan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana. Buah Dhammadana ini juga akan dinikmati sendiri oleh si pemberi dalam kehidupan ini.

Itulah hal yang bisa dilakukan dalam permainan bulu tangkis perbuatan baik ini. Para umat memberikan dukungan moral, kemudian memberikan dukungan material, menunjang kehidupan para bhikkhu. Para bhikkhu pun memberikan dukungan mental kepada para umat dengan memberikan contoh moral serta berjuang dalam kebajikan. Para bhikkhu pun selalu merenungkan dan mengingatkan diri sendiri, bahwa para umat telah menunjang kehidupan para bhikkhu selama menjalani kehidupan kebhikkhuan. Jadi, bila seorang bhikkhu telah 23 tahun menjadi bhikkhu, berarti selama 23 tahun pula hidupnya disokong oleh umat. Padahal, para umat bukanlah sanak maupun keluarganya. Umat dengan rela dan ikhlas telah menyantuni kehidupan para bhikkhu sampai sekian lama. Apakah sekarang balas jasa para bhikkhu kepada umat? Seperti dalam permainan bulu tangkis tadi, bila seorang pemain setelah mendapatkan bola hendaknya segera mengembalikannya kepada pemain yang lain. Demikian pula dengan para bhikkhu, setelah menerima persembahan hendaknya mengembalikannya lagi kepada umat dengan cara meningkatkan semaksimal mungkin perjuangan dalam Dhamma dan pelaksanaan peraturan kemoralan. Sehingga semakin banyak umat menanam kebajikan, semakin lebat pula buah kebajikan yang diterimanya.

Dalam Manggala Sutta disebutkan bahwa berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama. Para umat Buddha yang melaksanakan Dhamma dengan mempersembahkan dana kepada Sangha dapat juga disebut sebagai Dhammadana. Sebab, apapun yang dipersembahkan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana, menjadi sarana pembabaran Dhamma kepada orang lain sehingga buah lebatnya akan dapat dimiliki si pemberi.

[ Dikutip dari Website Samaggi-Phala WWW.samaggi-phala.or.id ]

Dipublikasi di Bhikkhu Uttamo, Ceramah Dhamma | Tinggalkan komentar