>Penyebaran Dhamma Dengan Metode "PURE"

>



Penyebaran Dhamma Dengan Metode “PURE”

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Ajahn Brahmavamso
(Penulis buku spiritual terpopuler saar ini “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”)




Saya terlahir sebagai umat Kristiani, bersekolah di sekolah Kristen, bahkan saya menyanyi untuk Paduan Suara Gereja setempat. Tetapi ketika saya membaca buku pertama tentang ajaran Buddha, pada usia 16 tahun, saya segera menyadari bahwa diriku adalah seorang Buddhis. Saya dikejutkan dengan besarnya cinta kasih, kebijaksanaan, dan kebebasan sejati yang ada dalam ajaran Sang Buddha dibandingkan yang pernah saya kenal sebelumnya.
Pengalaman serupa dengan yang saya alami telah berulang beratus ribu kali. Dalam kehidupan manusia pada abad XXI ini. Ketika seseorang dari negara non-Buddhis mendengarkan tentang agama Buddha yang disampaikan dengan metode ‘PURE’ yang menerangkan secara jelas dan terperinci, kemudian mereka dengan cepat menyadari ajaran ini adalah jalan yang paling mulia, kebenaran tertinggi dan terbaik dari agama yang pernah ada. Mereka akan bertanya-tanya mengapa kebijaksanaan pembebasan tertinggi tidak disebarkan secara meluas.
Di bumi kelahiran saya, Australia, jumlah umat Buddha sangat sedikit pada tahun 1983. Saat saya kembali untuk pertama kali dari Thailand pada tahun 1991, umat Buddha menjadi 0,8% dari seluruh penduduk Australia. Pada tahun 1996, jumlah tersebut bertambah menjadi 1,1%. Terakhir, pada sensus Australia bulan Agustus 2001, jumlah umat Buddha telah tumbuh 75% menjadi 1,9% dari keseluruhan penduduk. Hampir satu dari lima puluh orang Australia menyatakan diri mereka Buddhis. Saat agama Kristen berkurang di Bagian Barat Australia, agama Buddha telah menjadi agama dengan pertumbuhan terpesat di Australia dan di banyak negara maju.
 
Itu berarti berita baik juga berita buruk. Berita baiknya adalah semakin banyak warga Australia yang mendapatkan manfaat dari agama paling damai di dunia. Berita buruknya berarti para bhikkhu seperti saya harus bekerja lebih keras dengan lebih banyak umat yang harus diperhatikan!
 
Sekarang, saya akan memberikan pendapat mengapa agama Buddha dapat berkembang demikian baik di dunia Barat. Saya akan menggunakan singkatan “PURE” untuk menjelaskan empat strategi penting yang membantu penyebaran agama Buddha:
  1. Penyampaian (“Presentation”) – dalam bahasa sehari-hari
  2. Mudah dipahami (“User friendly”) – menggugah dan mudah diselami
  3. Sesuai (“Relevant”) – ditekankan pada persoalan sehari-hari
  4. Panutan (“Examples”) – para bhikkhu memberikan contoh nyata


Penyampaian

Jika kita ingin ajaran mulia dari Sang Buddha menjangkau generasi saat ini, maka ajaran tersebut harus disampaikan dengan cara masa kini. Bukannya inti dari ajaran itu sendiri yang perlu diubah, tetapi cara penyampaiannya yang perlu terus-menerus diperbaharui. Generasi mendatang tidak akan mau mendengarkan ajaran yang monoton yang disampaikan oleh para bhikkhu, dan memberikan ceramah yang tidak relevan.
 
Kita semua sudah mengetahui, Guru Agung Sang Buddha telah mengatakan untuk mengajarkan Dhamma dengan bahasa sehari-hari (dalam Aranavibhanga Sutta, Majjhima Nikâya). Saya akan memberikan contoh dari apa yang saya pikir mengenai makna kalimat tersebut. Abad yang lalu, para pendeta dari Dunia Barat dan peneliti mengejek ajaran agama Buddha sebagai aliran pesimis dengan mengatakan bahwa ajaran agama Buddha hanya menekankan tentang penderitaan. Hal ini bahkan diulangi oleh Paus John Paul II dalam bukunya yang kontroversial mengenai agama-agama di dunia. Untuk menghindari kesalahpahaman ini, kita dapat menyampaikan inti dari ajaran agama Buddha (Buddha Dhamma) mengenai Empat Kebenaran Mulai sebagai Kebahagiaan (“Dukkhanirodha”); sebab-sebab dari kebahagiaan (“Jalan Tengah Beruas Delapan); tidak adanya kebahagiaan (“Dukkha”); dan sebab tidak adanya kebahagiaan (Penderitaan). Semua ini mengubah pusat perhatian menjadi kebahagiaan. Semua ini semata pengkemasan ulang dari Dhamma yang tetap mempertahankan inti dari ajaran sementara itu menarik perhatian pendengar masa kini. Hal ini dibenarkan oleh Sang Buddha, melalui pernyataan-Nya bahwa “Nibbâna adalah kebahagiaan tertinggi” (Dhammapada 203 – 204). Ketika saya menjelaskan Empat Kebenaran Mulia dengan cara ini, saya mendapatkan semua mendengarkan dan kembali untuk bertanya lebih banyak.

 
Mudah dipahami

Menyampaikan Dhamma dengan bahasa sehari-hari adalah langkah pertama untuk menjadikan agama Buddha mudah dimengerti. Walaupun saya sering menemui banyak orang, baik dari dunia Barat maupun Timur, yang mau belajar agama Buddha tetapi mereka terlalu takut untuk datang ke vihara, karena mereka tidak mengenal tradisi yang berlaku, atau seringkali disebabkan mereka takut bertemu dengan bhikkhu yang galak. Ketika vihara lebih terbuka untuk para pengunjungnya, dan semakin menerima para pendatang baru, ketika para bhikkhu lebih ramah, maka vihara menjadi tempat yang mudah dikunjungi.
 
Di masa sekarang, saat orang-orang sedemikian sibuknya di mana mereka sulit untuk mengunjungi vihara, maka viharalah yang harus mengunjungi mereka melalui buku-buku, kaset, CD, dan internet. Perkumpulan Buddhis Australia Barat (Buddhis Society of Western Australia) mempunyai web-site lengkap yang memuat percakapan mingguan tentang Dhamma dalam bahasa Inggris, sehingga semua orang di seluruh dunia dapat dengan nyaman mendengarkan Dhamma di rumah mereka masing-masing. Langkah ini sangatlah berhasil dengan pengikut yang regular di seluruh dunia, tanpa memerlukan bangunan yang luas dan mahal.

 
Sesuai

Agama-agama lain seperti agama Kristen yang sedang menurun di dunia Barat, karena ajarannya yang tidak sesuai dengan kehidupan manusia. Sedikit yang peduli dengan pandangan hidup yang abstrak dan upacara tanpa tujuan yang jelas, atau spekulasi dengan hal-hal yang tidak mendasar. Mereka pada umumnya lebih mementingkan tentang bagaimana untuk menemukan lebih banyak kebahagiaan di tengah-tengah persoalan kehidupan ini.

Saya dengan mudah menjelaskan bahwa dengan memiliki sila yang baik akan meningkatkan kebahagiaan seseorang, seperti gelombang pasang akan menaikkan permukaan air laut. Sebagai hasilnya semakin banyak pendengar saya yang melaksanakan Pañcasîla. Juga tidak sulit untuk menggambarkan bahwa sikap cinta kasih kepada teman-teman, keluarga, dan diri sendiri akan menambah kenyamanan dalam kehidupan kita. Karenanya, mereka menjadi lebih sabar dan pemaaf. Begitu banyak bukti-bukti medis yang membuktikan bahwa praktik meditasi Buddhis akan mengurangi tekanan dari kehidupan modern dan mengurangi persoalan-persoalan yang terkait. Karenanya, para umat di vihara saya adalah pelaksana meditasi yang sangat tekun. Ada tiga objek latihan ajaran Buddhis yaitu sila, cinta kasih, dan kesadaran yang ketika dirangkum dalam kerangka mengembangkan kebahagiaan pribadi, akan menarik perhatian umum akan Buddha Dhamma. Semua itu berhubungan dengan apa yang mereka rasakan penting.

Ketika kami menekankan pada hal-hal yang penting untuk umat awan, maka Buddha Dhamma menjadi penting untuk mereka. Mereka mulai dengan keinginan untuk mengatasi persoalan duniawi yang mereka hadapi, tetapi segera akan mengarah ke jalan untuk membebaskan mereka dari semua penderitaan.


Panutan

Semua hal di atas tidak ada artinya untuk generasi modern saat ini tanpa adanya contoh yang berkualitas sebagai teladan. Perkembangan Buddha Dhamma sangat bergantung dari contoh nyata dari seorang bhikkhu yang baik, penuh cinta kasih, bijaksana, dan terjaga tindakannya. Warga abad XXI sangat skeptis. Mereka akan memegang erat keyakinannya sampai ada contoh nyata yang jelas-jelas akan bermanfaat untuknya. Apakah agama Buddha akan membantu? Apakah ajaran tersebut memberikan manfaat, mengembangkan rasa cinta kasih, memberikan kepuasan dan kebebasan? Mereka akan melihat bagaimana cara para bhikkhu bertindak sebelum mereka mengikutinya. Bagaimana kita dapat memberikan teladan untuk generasi masa kini, ketika para bhikkhu hidup mewah, lebih kaya dari pada umat biasa, ketika kita lengah dalam melaksanakan vinaya dan tidak memiliki ketenangan batin? Dhamma akan lebih mudah disebarluaskan dengan contoh nyata, dan lebih memberikan pengaruh dibandingkan dengan sekadar khotbah.
 
Sebagaimana ditulis oleh seorang terpelajar Australia dalam bukunya yang terakhir, sebelum menjadi Buddhis, dia telah mengamati para bhikkhu di Perth selama beberapa bulan. Ketika dia melihat mereka sangat berhati-hati, menjaga vinayanya, bekerja keras, dan sangat berbahagia, maka dia pergi untuk meminta perlindungan dan mulai menyebut dirinya seorang Buddhis. Tindakan lebih keras bunyinya dibandingkan dengan kata-kata. Karenanya, sebagai contoh nyata, di Australia Barat kami telah mendirikan vihara untuk melatih anggota Sangha, apa yang saya katakan sebagai sebuah pabrik bhikkhu Sangha. Dengan mengalokasikan banyak sumber daya untuk melatih anggota Sangha yang berkualitas tinggi, kami memastikan akan ketersediaan contoh-contoh nyata yang berkualitas untuk generasi mendatang.
 
Beberapa strategi di atas telah berhasil di Australia, dan menjadikan agama Buddha berkembang dengan pesat di Australia. Kita tidak perlu mengubah pesan dari Sang Buddha, juga tidak perlu mengubah aturan-aturan yang ada. Kita dapat melaksanakan tugas dari Sang Buddha yaitu dengan menyebarkan Buddha Dhamma yang mulia pada seluruh aspek kehidupan dengan metode PURE. Semua ini disampaikan dengan bahasa sehari-hari, ramah dan mudah dipahami, sesuai, dan menjadi panutannya._(Arman)

 
[Artikel ini pernah diterbitkan oleh Buddhist News Network, 24 April 2003
(Makalah dari Ajahn Brahmavamso pada Third Buddhist Summit – Phnom Penh, Kamboja, Desember 2002]

Pos ini dipublikasikan di Ceramah Dhamma, inspirasi, Mahayana, Perspektif Buddhis, Therawada. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s