>Meluhurkan Batin

>


Meluhurkan Batin

Oleh (Alm) Yang Mulia Bhikkhu Girirakkhito Mahathera




Saya akan menjelaskan tentang bagaimana kita harus betul-betul berdiri di atas kaki sendiri, untuk mencari Dhamma, mempelajarinya, menghayatinya kemudian mengamalkan, mengembangkan sampai menjadi orang yang sukses melaksanakan Dhamma, yaitu minimal mencapai pannya atau kebijaksanaan.

Saya akan menceritakan suatu masalah. Pada kira-kira 10-15 tahun yang lampau, keadaan masyarakat kita di Indonesia oleh kantor statistik digambarkan bahwa 80% masyarakat kehidupannya masih di bawah standard, masih miskin. Jadi penghidupannya sangat bergantung kepada majikan yang murah hati, untuk memberikan pekerjaan. Hidupnya morat-marit, kadang kerja menjahit, satu minggu kemudian menjadi pelayan, satu minggu lagi menjadi petani, satu minggu lagi tarik becak, dan sebagainya. Jadi kehidupannya di bawah standard, tergantung sekali kepada majikan-majikan. Tetapi sayang sekali, pemerintah belum pernah mengadakan statistik tentang kemiskinan batin, kemiskinan rohani. Mana pernah pemerintah mencatat, oh orang ini miskin rohani, miskin dengan pengetahuan agama; tidak pernah sama sekali pemerintah membuat statistik tentang hal itu. Setelah Lu Shen Yen datang ke Indonesia, baru kelihatan berapa banyak jumlah orang yang berpengetahuan Dhamma amat minim. Hampir seperti perumpamaan saya dengan 80% rakyat Indonesia yang keadaan kehidupannya di bawah standard, yang terpaksa harus tergantung kepada majikan-majikan, bos-bos.

Sekarang saya mengamati ternyata orang yang miskin Dhamma, miskin pengertian yang benar tentang Dhamma itu masih banyak sekali. Kalau ada hal-hal yang baru, mungkin karena dipropagandakan dengan hebat sekali, seperti orang buta kalau diberkahi bisa melihat, yang tangannya bengkok diberkahi bisa menjadi lurus, yang lumpuh diberkahi bisa kembali berjalan seperti biasa, dan sebagainya. Kemudian banyak orang datang untuk meminta berkah rejeki, berkah keselamatan, berkah umur panjang dan sebagainya. Jadi saya nilai hal yang demikian itu tidak beda dengan pengemis. Dalam hal ini yaitu pengemis keselamatan, pengemis keejahteraan, pengemis macam-macam. Saya bandingkan demikian, karena untuk meraih kesejahteraan kehidupan di bidang materi dan rohani, memang jarang sekali orang yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kebanyakan dari mereka itu mau bergantung, minta tolong, minta belas kasihan dari yang dianggap lebih daripada dirinya.

Nah, bagaimana kalau kebetulan hidup saudara sedang susah, menderita kekurangan, dll, lalu ada yang menawarkan atau menjanjikan, “Ah kamu jangan repot-repot, diberkahi saja oleh orang yang hebat ini pasti beres!” Apakah mental saudara akan goyah kalau terjadi yang demikian? Ingatlah bahwa Sang Budha pernah memberikan nasehat kepada kita yang bunyinya, “Atta hi attano natho”, artinya, “Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri”. Jadi kita harus berjuang untuk meraih sukses, dengan mempraktekkan Dhamma, berusaha berdiri di atas kaki sendiri, percaya kepada diri sediri. Berusaha berdiri di atas kaki sendiri dan percaya kepada diri sendiri itu dengan apa?

Sang Buddha sudah memberi petunjuk yang jelas sekali agar kita dapat berdiri di atas usaha kita, yang sudah terang dan jelas sekali akan membawa kepada kesuksesan. Apa itu? Yaitu: saddha, viriya, sati, samadhi, dan pannya. Dengan 5 bala atau Panca Bala ini, kita akan berjuang sampai ‘ajimat’ yang akan kita jadikan pelindung yang betul-betul pelindung, tumbuh secara alamiah di dalam batin kita. Bukan dengan menengadahkan tangan meminta berkah keselamatan, berkah rejeki, dll kepada siapa-siapa.

Pada waktu di Muntilan, saya dikunjungi oleh seorang umat dari daerah lain. Katanya, “Bhante, saya rindu sekali dengan Bhante. Sekarang saya minta berkah kepada Bhante”. Saya berkata, “Bagaimana romo?” “Saya minta supaya selamat sepanjang hidup, istri saya juga selamat, anak saya lulus, pekerjaan saya (sebagai tukang las) bisa maju, anak-anak saya semuanya menurut, baik-baik, nanti kalau kawin dapat istri yang baik”, Pokoknya yang serba selamat, serba baik, dan serba tidak kekurangan. Itu yang diminta. Bagaimana saya tidak tertawa cekikikan di belakang panggung saya. tetapi toch saya berkahi juga. Nah, inilah tipe orang menggantungkan diri kepada orang lain, bukan berdiri di atas kaki sendiri. Andaikata romo itu, mengembangkan Panca Bala, yaitu saddha, viriya, sati, samadhi, dan pannya, pasti harapannya akan tercapai; minimal yang disebut “Nekkhamma Sankappa”. Nekkhamma-sankappa itu sudah merupakan wujud permulaan dari ‘ajimat’ pelindung diri kita yang sebenarnya.

Saddha itu akan tumbuh dari melakukan sila dengan baik. Saya kira kalau saudara melakukan sila dengan sungguh-sungguh, keyakinan saudara akan berkembang, karena saddha itu memang harus tumbuh melalui sila. Kemudian Viriya, artinya tidak jemu-jemunya berjuang, melatih diri, tekun, ulet, rajin, tidak putus asa dan bahkan lebih dari itu, berani menghadapi resiko apapun untuk menjalani kebaikan. Kemudian Sati, adalah penuh waspada, berhati-hati sekali, sadar selalu. Kalau ada gejala yang tidak baik jangan cenderung. Itu bisa diatasi dengan kewaspadaan, kesadaran penuh, dan juga tentunya pengertian, sehingga baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam meditasi kita tetap memiliki perhatian, kewaspadaan, dan kesadaran. Itu faktor yang sangat menunjang, menjaga jangan sampai batin melamun, berkeliaran atau berkelana kepada keasyikan gerak-gerik pikiran yang selalu ada pada kita. Yang disebut keasyikan itu adalah ngelantur kepada masa lampau atau ngelantur kepada cita-cita yang akan datang.

Sedangkan kalau samadhi, itu adalah usaha untuk memusatkan batin kepada satu obyek, sehingga kesadaran dengan obyek itu manunggal jadi satu. Ketiga unsur ini yaitu viriya, sati, dan samadhi dikatakan sebagai sarana untuk meningkatkan pikiran kita, meningkatkan batin kita. Bukan dengan minum obat mencerdaskan otak atau vitamin-vitamin, bukan! Tetapi untuk meningkatkan batin, yang paling utama adalah: viriya, sati, dan samadhi. Apalagi kalau kita sudah bisa mengembangkan pannya. Pannya biasanya dikembangkan denngan Vipassana. Dan memang, pannya itu tumbuh dari sila dan samadhi. Kalau saudara-saudara pada lain kesempatan sempat melaksanakan latihan vipassana, ini adalah baik sekali untuk mengembangkan kebijaksanaan. Di sana saudara akan melihat bahwa segala sesuatu, jasmani/materi, batin, perasaan, ingatan, bentuk-bentuk pikiran itu nampak jelas selalu mengalami perubahan. Dia timbul karena ada syarat, sebab, dan kondisinya. Tetapi setelah dia timbul dia tidak bisa bertahan, kemudian memudar dan akhirnya lenyap. Dalam vipassana, kita akan berusaha melihat ini dengan jelas. Ini menjadi syarat tumbuhnya pannya atau kebijaksanaan.

Andaikata kita sudah dapat memiliki viriya, sati, samadhi, pannya, maka di situlah akan tumbuh secara alamiah apa yang disebut Nekkhamma Sankappa. Jadi batin saudara secara alamiah akan mampu bersikap melepaskan kemelekatan kepada benda-benda, kepada jasmani, kepada istri/suami, kepada harta, kepada apa saja. Kemelekatan akan jauh berkurang. Dengan istilah lain, batin saudara sudah mampu melepaskan, tidak lagi terikat. Kalau batin sudah mencapai yang demikian maka saudara akan mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak lagi tertarik untuk berebutan minta berkah keselamatan atau berkah apapun. Karena berkah yang sebenarnya itu sudah dapat direalisasi secara alamiah di dalam batin yang sudah dikembangkan hingga mencapai Nekkhamma Sankappa. Kita akan membuktikannya nanti. Kalau belum sampai yang demikian, sulit untuk membayangkan. Nekkhamma Sankappa ini akan muncul secara alamiah sekali.

Memang kalau kita belum mencapai tingkatan yang demikian maka jelas keadaan batin kita masih tetap tergolong dalam kondisi duniawi. Bisa menangis, tertawa, sedih, rindu, cemas, was-was, takut, dendam, sakit hati, tersinggung; bila dipuji senang, bila dicela tersinggung. Itu kondisi duniawi. Kalau kita umpamanya melekat kepada cinta, rindu, benci, sedih, takut, cemas, was-was, kemana pun kita pergi akan selalu direbut oleh semut-semut; semut api, semut yang ganas sekali, semut yang kalau menggigit pedes sekali rasanya. Kalau belum mencapai Nekkhamma Sankappa, apalagi yang lebih tinggi, pikiran kita itu selalu dicengkeram, dikuasai oleh apa yang dinamakan Panca Niwarana, yaitu nafsu menyenangi, nafsu membenci, malas, lesu, emoh rasanya berjuang meningkatkan batin untuk mencapai sukses dalam Dhamma, artinya menyerah kalah. Belum lagi kalau takut-takut, was-was, cemas, bimbang dan ragu. Panca niwarana ini selalu menggerogoti kita, sehingga banyak orang yang angkat tangan, menyerah kalah karena tidak mengerti sarana apa yang harus digunakan untuk mengatasinya. Sesungguhnya, panca niwarana ini dapat diatasi atau bahkan dijinakkan atau dihancurkan dengan meditasi. Maka itu, meditasi memegang peranan yang sangat penting. Apakah itu meditasi ketenangan (Samatha Bhavana) ataukah Meditasi Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). Kalau tidak berhasil maka pikiran akan tetap semrawut, tetap memiliki kondisi duniawi. Kalau pikiran sudah semrawut dan tidak bersih, walaupun kita sudah banyak berdana, banyak sembahyang, sudah sering-sering memuja, sudah ciacai (tidak makan daging), bahkan walaupun kita sudah menjalankan sila, 5 sila, 8 sila, 10 sila, 75 sila, 227 sila, mungkin lebih, tetapi kalau pikiran masih semrawut, masih belum bersih, belum tenang, belum stabil, belum damai, belum mantap, masih goyah, kita akan mudah tersinggung, mudah dendam. Itu ciri-ciri orang yang belum stabil, belum bersih. Maka orang-orang yang demikian dikatakan tidak terjamin mutlak mesti masuk surga. Syukur-syukur kalau lahir kembali jadi manusia. Memang kalau banyak berbuat jahat kita akan lahir di neraka, kalau pikiran baik kita akan lahir di surga, tetapi kalau pikiran lebih mantap, itu lain lagi halnya, lebih tinggi! Jadi pesan saya, berusahalah untuk membersihkan pikiran, dengan sarana kewaspadaan, perhatian, dan kesadaran.

Kita harus sadar/waspada, “Oh, kok baru disinggung sedikit, saya marah”. Kita melihat marah itu muncul di dalam batin, lewat di dalam batin. Seperti misalnya kita berada di kamar yang bersih lalu ada ular masuk, kita melihat ular itu, lalu kita usir. Juga umpamanya pada waktu malam hari, secara refleksi kita melihat atau menginjak tali, lalu tali itu bergerak, kita terkejut karena kita pikir itu ular. Nah terkejut itu pun adalah gangguan pikiran. Jadi untuk membersihkan pikiran itu adalah luar biasa banyak usaha yang dikerahkan. Apalagi timbul rindu, kita “sadar”. Oh, ini rindu timbul, ini racun! Benci timbul, wah ini api yang sangat panas.

Ada cerita di pulau Bali waktu gunung Agung meletus. Lahar yang panas sekali entah berapa derajat panasnya mengalir ke suatu tempat, sehingga meskipun hewan-hewan menjangan lari ke tempat yang lebih tinggi, lahar yang mengalir di pinggirnya pun dapat membakar menjangan itu.

Api yang kita gunakan untuk memasak tidak seberapa panas, tetapi api yang dikeluarkan oleh lahar gunung Agung itu panas sekali, namun api dari bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik, itu adalah racun api yang tiada taranya. Bila racun yang kasar kita makan, nanti malamnya atau seketika itu juga kita akan meninggal. Tetapi racun yang lebih halus, tidak demikian! Dia memakan sedikit demi sedikit sisa umur kita. Pelan-pelan dia merongrong. Itu racun yang halus. Tetapi pikiran yang jahat ini, yang merasa rindu, sedih, cemas, takut, was-was, benci, dendam, dan sebagainya itu jauh lebih dasyat daripada racun yang paling dahsyat yang kita kenal di dunia ini. Mengapa? Karena dia membuat kita menderita bukan saja pada kehidupan ini, tetapi kita bertumimbal lahir, bentuk-bentuk pikiran yang kotor itu tetap meracuni kita, membuat diri kita panas, menderita, sengsara selama hidup, sepanjang hidup di mana saja kita lahir.

Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh, dengan penuh mengerahkan tenaga, untuk melepaskan segala bentuk-bentuk racun yang paling dahsyat yang paling hebat itu. racun atau api yang paling dahsyat adalah kebodohan dan kemelekatan. Dari situlah asal mulanya. Itulah yang sebenarnya rajanya racun, rajanya magic, rajanya jin, rajanya setan, yang memiliki kekuatan amat dahsyat. Rasanya kita orang tidak mampu menghadapinya. Namun Sang Buddha sudah memberikan petunjuk: kembangkan pannya/kebijaksanaan dengan mencoba melihat bahwa segala bentuk-bentuk pikiran itu hanyalah anicca, dukkha, anatta, sunyata, tathata, paticcasamuppada. Artinya mereka selalu berubah-ubah, mereka hanya problem, hanya masalah yang tiada habis-habisnya. Memang kadang-kadang mereka memberikan kepuasan, tetapi sering sekali tidak memuaskan. Dan bagaimana pun indahnya sesuatu itu, tetap ia tidak bisa dimiliki, karena ia hanya sesuatu yang timbul karena ada sebab, ada kondisi, dan dia tidak mungkin bertahan, ia akan lenyap, lebur.

Kembangkan pandangan ini terus-menerus. Dengan mengembangkan pandangan ini terus menerus, secara alami sang hati kita akan berubah dari aspek yang selalu mengalami perubahan atau lahir & mati (aspek sankhara), menjadi aspek sang hati yang tidak mengalami perubahan atau lahir dan mati (aspek visankhara). Itu bukan ada kekuatan dari langit yang membantu, tidak! Tetapi persisnya berkembang secara alamiah. Jadi usahakan untuk betul-betul mengerti bahwa semua materi, jasmani, bentuk-bentuk pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran; itu sebenarnya adalah termasuk dalam aspek yang pertama. Semuanya itu adalah sankhara. Tetapi kalau kita mengamati terus-menerus, hingga kita tahu jelas bahwa semua itu mengalami lahir-mati, lahir-mati, nanti sang hati yang mengamati itu akan berubah secara alamiah menjadi mencapai aspek visankhara. Artinya, setelah sang hati melihat perubahan-perubahan, anicca, dukkha, anatta, jasmani akan menjadi tua, akan mati, dan itu tidak dapat dipungkiri; sang hati tetap bisa tersenyum, “yach, sekarang saya sudah tua, tidak lagi seperti dulu! Saya maklum bahwa ini adalah kejadian yang alamiah, saya tidak kecewa, saya tidak menyesal”. Badan jasmani ini akan sakit, mungkin mengalami sakit yang kronis, mungkin yang menjengkelkan sekali. Kalau kaki lumpuh tidak bisa berjalan, itu menjengkelkan sekali. Meskipun kaki lumpuh, tetapi sang hati rela menerima lumpuh itu. Mungkin kalau kita sakit, dokter bilang sudah tidak ada harapan bisa sembuh, dokter sudah angk at tangan. Dan kita sadar bahwa sebentar lagi kita akan meninggal, entah besok, entah lagi dua hari. Kita tahu itu, tetapi batin kita tidak takut, tidak gentar, tidak menyesal, tidak menangisi. Itulah aspek sang hati yang lebih luhur yang disebut visankhara atau asankhara. Kalau batin kita sudah dewasa, kita tidak akan mengemis, merengek-rengek, mengemis, minta apa-apa, minta segala-galanya, minta didoakan, minta blessing. Tidak lagi! Saudara akan diam, tenang, tersenyum menghadapi peristiwa apapun yang akan terjadi.

Kebanyakan dari kita umumnya ‘kesengsem’, melekat sekali dengan cara-cara kehidupan duniawi ini, seolah-olah kita tidak bisa lepas dari kondisi duniawi ini. Kita menyenanginya dan kita melekat padanya. Begitulah pada umumnya keadaan kehidupan kita. Tetapi tahukah, sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita tidak akan selamanya hidup di dunia ini? Hidup ini hanya sementara. Orang bijaksana mengatakan bahwa kita ini hanya melancong, hidup ini hanya kesempatan untuk belajar mengerti tentang hidup dan kehidupan. Bukan hidup untuk makan, untuk bersenang-senang, untuk berfoya-foya, untuk plesir, umpamanya kawin terus, mumpung masih hidup, mumpung ada uang, dan sebagainya. Bukan itu tujuannya! Kehidupan ini mempunyai tujuan yang jauh lebih mulia daripada itu. Kehidupan ini bertujuan untuk meningkatkan batin kita, dari bodoh menjadi bijaksana, dari rendah menjadi luhur.

Letak kebahagiaan itu adalah pada lenyapnya kebodohan dan kemelekatan. Di mana sang aku lenyap, di situlah bahagia. Jadi ini harus disadari. Karena itu kita harus bangkit, meningkatkan kehidupan kita agar menjadi luhur. Itu tujuannya.

Untuk mendewasakan batin, jelas adalah dengan sila, samadhi, pannya. Dengan meditasi ketenangan (samatha) atau dengan vipassana. Itu jelas demikian!

Kalau kita bermeditasi dengan obyek pernafasan misalnya, perhatian kita adalah kepada nafas, masuk-keluar, masuk-keluar. Tetapi bila batin kita tidak dijaga dengan sarana-sarana yang ampuh, batin kita akan mengembara. Kalau pernafasan itu diumpamakan sebagai sumbu dari lampu lentera, maka api yang tidak dijaga dengan baik dan ampuh itu akan mudah ditiup angin, goyah, dan bisa mati. Kalau saudara bermeditasi, mengambil perumpamaan sumbu sebagai pernafasan, api sebagai sang hati atau sang batin. Sekarang lampu lentera ini kita tutup dengan kaca sehingga kalau ada angin datang dari Timur, Barat, Utara, Selatan, ia tidak mampu menggoyangkan dan mematikan lampu itu, melainkan tetap menyala dengan tenang. Apakah yang ampuh dan baik untuk menjaga sang hati ini? Yaitu viriya, sati, samadhi. Ia menjaga kalau ada keasyikan pikiran muncul menggoda, sehingga konsentrasi kita bisa berjalan mulus. Semua gangguan-gangguan akan dicegah dengan viriya, sati, dan samadhi. Dengan demikian api sang hati ini menjadi mulus, menyala terang, dengan sangat terang sekali. Lebih-lebih kalau kita kelak bisa melatih Vipassana Bhavana, itu lebih ampuh lagi, yaitu bisa mengembangkan pannya, mengembangkan keseimbangan, sampai bisa mencapai yang disebut Gotrabhu Nyana. Dimana kita bisa melihat Dhamma dalam 2 aspek, yaitu aspek Sankhara dan aspek Visankhara. Itu dapat dilihat dengan jelas, sehingga kita akan dikatakan mempunyai Mata Dhamma. Artinya bisa melihat Dhamma dalam kedua aspeknya.

Pada hakikatnya, Dhamma itu dapat ditinjau dari 2 sudut. Dari sudut yang pertama, dia merupakan makanan atau obat bagi kita untuk menyembuhkan kotoran-kotoran batin, kejahatan-kejahatan pikiran untuk disembuhkan menjadi baik, menjadi suci, menjadi bersih. Alat satu-satunya adalah Dhamma. Ditinjau dari sudut lainnya, Dhamma ini adalah alam semesta dengan segala isinya. Maka oleh karena itu kita perlu mengetahui 4 aspek daripada Dhamma. Aspek yang pertama dari Dhamma adalah Alam semesta dengan segala isinya. Aspek kedua adalah Hukum-hukum Alam. Aspek yang ketiga adalah sikap perbuatan kita yang sesuai atau tidak sesuai dengan hukum-hukum alam. Aspek yang keempat adalah Buah atau akibat yang terjadi karena tingkah laku tersebut di atas. Kalau sesuai maka buahnya adalah kebahagiaan. Tetapi kalau tidak sesuai atau bertentangan, buahnya adalah penderitaan.

Mengapa kita melakukan sila? Karena sila itu menggiring kita supaya perbuatan kita sesuai dengan hukumalam. Mengapa meditasi? Karena meditasi itu menggiring kita supaya batin kita sesuai dengan hukum alam. Inti daripada Dhamma itu terletak pada sang hati. Jadi walaupun diri kita ini adalah Dhamma, dunia itu adalah Dhamma, tapi inti dari Dhamma itu terletak pada sang hati. Maka oleh karena itu kita harus mengerti tentang sang hati, tentang inti dari Dhamma ini. Seperti apa yang telah saya katakan tadi, sang hati ini mempunyai 2 aspek. Aspek yang pertama yaitu hati yang terombang-ambing oleh perasaan; sekarang girang, sebentar sedih; sekarang benci, nanti hilang kebenciannya, sekarang rindu, nanti bermusuhan. Itu semua diombang-ambingkan oleh kondisi duniawi. Sang hati yang demikian itu tergolong sankhara. Sedangkan satunya lagi adalah sang hati yang tidak diombang-ambingkan oleh keadaan yang berubah-ubah atau kondisi duniawi. Seperti yang saya katakan, jasmani boleh tua, tapi kita tidak sedih karena tua, tidak kecewa, menyesal. Itulah yang disebut aspek visankhara.

Jadi kita harus berusaha meningkatkan sang hati dengan belajar mengerti ketidakkekalan dari bentuk-bentuk jasmani dan bentuk-bentuk batin yang tergolong sankhara, untuk kita kembangkan terus secara alamiah, hingga akhirnya menjadi berstatus visankhara.

Berbicara tentang sankhara, ada 2 macam. Yang pertama adalah yang tergolong duniawi atau Lokiya Sankhara. Yang kedua disebut Dhamma Sankhara. Ini sama halnya dengan apa yang disebut Samutti Sacca dengan Paramatha Sacca. Coba kita perhatikan kayu yang diukir, dibentuk demikian rupa sehingga menjadi meja altar. Meja Altar itu kita yang memberikan nama, membentuknya. Manusia yang membentuk demikian. kayu yang asalnya dari hutan itu sekarang disulap menjadi meja. Kayu hutan itu dikeringkan dulu, atau pohon itu direbahkan dulu, ditebang, digergaji, dibuat papan, dibuat balok-balok kecil, dikeringkan, kemudian dibuat meja. Kayu itu adalah Dhamma Sankhara. Meja adalah Lokiya Sankhara. Tetapi kalau bentuknya begitu disebut papan tulis. Papan tulis adalah sulapan dari manusia, dibentuk oleh manusia, itu Lokiya Sankhara. Bahannya adalah Dhamma Sankhara. Dhamma Sankhara maupun Lokiya Sankhara, dua-duanya berbarengan mengalami lahir-mati, lahir-mati, lahir-mati. Yang disebut Dhamma Sankhara misalnya adalah Dhatu, Panca khanda, Dua belas ayatana, unsur-unsur padat, cair, panas, udara, dan lain-lain. Tetapi kalau sudah disebut air, itu Lokiya Sankhara. Jadi yang telah dibentuk, dibuat, dikhayalkan atau ‘disulap’ oleh manusia.

Kalau Dhamma Sankhara dan Lokiya Sankhara ini kita misalkan film yang diputar di layar putih. Filmnya itu adalah Dhamma Sankhara, gambar yang di layar putih itu adalah Lokiya Sankhara. Jadi kalau diputar, ia kelihatan hidup. Karena kelihatan hidup, kita lupa bahwa film itu sendiri terdiri dari potongan-potongan gambar. Apabila ada yang menyedihkan, kita ikut sedih, kalau ada pemainnya ganas, kita ikut benci, kalau ada yang menyanyi, kita ikut gembira. Kita diombang-ambing oleh gambar yang berputar itu. Padahal kalau kita melihat gambar yang sepotong-sepotong, hati kita tidak akan ikut tergerak untuk sedih, gembira, dan lain sebagainya. Maka berusahalah untuk tidak tertarik, tergiur, atau kesengsem dengan perputaran Lokiya Sankhara itu. Jangan! Itu hanya konsep, itu hanya ide, itu hanya khayalan, itu hanya sulapan.

Masih berkenaan dengan sankhara, ia dapat pula ditinjau dari sudut pandangan lain. Yang pertama adalah sankhara yang diikuti atau disertai dengan kemilikan, keakuan, atau kemelekatan. Dan sankhara dari sudut pandangan lain adalah sankhara yang tidak diikuti atau disertai oleh kemilikan, kemelekatan, dan keakuan. Siapakah itu, sankhara yang masih disertai oleh kemilikan, keakuan, dan kemelekatan? Adalah orang-orang awam. Pokoknya kalau orang awam, apapun selalu disertai dengan “aku”, milikku, kepunyaanku, dan juga kemelekatan. Tetapi bagi orang yang sudah suci seperti para Arahat, apapun yang timbul dan lenyap, yang terjadi berkenaan dengan proses itu, tidak pernah muncul keikutsertaan dari aku, milikku, dan kepunyaanku. Kemelekatannya telah hancur, rasa kepunyaannya sudah hancur, rasa keakuannya sudah terhapus, habis. Itulah pandangan sankhara dari sudut pandangan lain.

Akhirnya, kita harus berjuang untuk belajar Dhamma, untuk menghilangkan sang aku, rasa kemiilikan, dan rasa kemelekatan yang sangat dahsyat itu. Berbicara tentang kemelekatan, ia dapat digolongkan dalam 4 macam. Yang pertama adalah kemelekatan kepada nafsu-nafsu indera, termasuk kemelekatan kepada bentuk-bentuk yang dilihat, kepada suara-suara, kepada makanan yang dikecap oleh lidah, yang dirasakan oleh sentuhan kulit, yang dirasakan melalui kontak pikiran. Yang kedua adalah kemelekatan terhadap pandangan keliru, pengertian salah, teori-teori salah, pendapat keliru, atau kepercayaan keliru. Yang ketiga adalah kemelekatan kepada tradisi-tradisi, baik itu upacara, kebiasaan, atau apa saja yang bersifat takhayul. Yang keempat adalah kemelekatan kepada apa yang kita anggap sebagai “Aku”, seperti: jasmani, perasaan, ingatan, pikiran, kesadaran. Juga kepada benda-benda seperti kekayaan, uang, anak, istri, dan segala sesuatu yang kita anggap sebagai milikku atau kepunyaanku yang mutlak. Kalau kita melekat kepada hal-hal tersebut, inilah kemelekatan yang paling dahsyat. Kemelekatan inilah sumber segala-galanya, sumber derita, sumber malapetaka, sumber kegoncangan, sumber racun, sumber api yang dahsyat, sumber problem, sumber konflik, dan sebagainya. Kita harus berjuang untuk menghapuskan kemelekatan ini. Memang berat sekali, tetapi kita harus berjuang mencapai tujuan kita yaitu kebahagiaan Nibbana.

Sebagai penutup, cita-cita kita untuk mencapai Nirwana atau Nibbana, kelihatannya memang tidak mungkin, apalagi yang sudah berkeluarga dan berkecimpung dalam duniawi, kelihatan sepintas lalu tidak mungkin. Dan ada yang mengkhayalkan bahwa Nibbana itu kosong, tidak ada, seperti kekosongan. Itu pandangan yang keliru. Di dalam Nibbana segalanya masih utuh, saudara masih utuh. Kalau pun Dhamma itu utuh tapi dia bisa mengalami Nibbana sekarang, tidak usah menunggu mati, dan segala sesuatu masih utuh tidak perlu hilang, tapi tentu ada pengecualiannya. Yang hilang hanyalah kebodohan, rasa kemilikan, keakuan, dan kemelekatan tentang keakuan. Sang hati tidak goyah mengalami rugi, mengalami untung, mengalami dipisuhi, mengalami difitnah, hati tidak tergoyahkan. Hati yang tidak tergoyahkan itu sejuk. Kalau kebencian, dendam, dan sebagainya itu hilang maka saudara mengalami Nibbuto. Batin tidak lagi panas membara, tetapi sejuk, damai. Itulah Nibbuto, atau sama dengan Nibbana yang sebentar-sebentar.

Kalau seorang Arahat masih hidup itu disebut Nibbana yang masih dengan sisa hidup, kalau yang sudah meninggal dunia berarti Nibbana tanpa sisa hidup. Ini bukan propaganda/promosi tetapi supaya kita bergiat mencari Nibbana itu setapak demi setapak. Kalau tadinya dengan istri bertengkar saja, tetapi sekarang sudah bisa berhenti bertengkar, itu adalah Nibbuto —Nibbuto dari bertengkar.

Latihan ini bukanlah untuk kepentingan orang lain tapi untuk kepentingan diri sendiri. Kita sendirilah yang akan mencicipinya. Ingat, berdirilah di atas kaki sendiri, jangan menjadi pengemis Dharma, jangan menjadi pengemis keselamatan, pengemis rejeki, dan sebagainya. Harus bersikap apa adanya. Kalau mengerti bahwa dunia ini fana, tidak kekal, berubah-ubah, ada kalanya muda, sehat, ada kalanya sakit, itu wajar. Terimalah dengan baik. Inilah berkah yang sebenarnya.


[ Dikutp dari Mutiara Dhamma VII ]

Pos ini dipublikasikan di Ceramah Dhamma, renungan, Therawada. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s