>Menjaga Keyakinan Yang Benar

>



Menjaga Keyakinan Yang Benar

Oleh Yang Mulia. Bhikkhu Santamano



Terdapat beberapa keyakinan yang perlu difahami oleh kita sebagai umat Buddha. Yang pertama : memiliki pengertian yang benar terhadap hukum perbuatan Kamma Saddha). Ke dua adalah : memahami bahwa setiap perbuatan yang dilakukan pasti akan membawa akibat Vipaka Saddha). Yang ke tiga : mempunyai pamahaman jelas bahwa semua makhluk mempunyai kamma masing-masing dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya (Kamma Sakata Saddha). Dan yang ke empat adalah : meyakini bahwa terdapat seseorang yang mampu mencapai Pembebasan Akhir, Yang Maha Suci, Yang Maha Sempurna, adanya seorang Samma Sambuddha yang muncul di dunia ini, yang memberikan ‘Jalan Terang’ dan kita sebut Ariya Atthaṇgika Magga atau Jalan Utama Berunsur Delapan (Tathagata Bodhi Saddha). (lihat : vijja Dhamma halaman 50).

Telah dijelaskan oleh Sang Buddha bahwa ‘Setiap perbuatan selalu didahului oleh pikiran’, jadi pikiran itu adalah awal dari perbuatan. Buah pikiran yang datang dan mengisi setiap momen pikiran akan mempengaruhi perbuatan berikutnya. Ucapan adalah perbuatan kelanjutan dari empunya / pikiran yang keluar dari bibir kita. Seseorang yang mengucapkan kata-kata dengan kesungguhan penuh keyakinan sangat berbeda sekali dibanding dengan orang yang berbicara tanpa arah tujuan serta tidak jelas alasannya. Ucapan seseorang yang lembut dan meyakinkan begitu menyejukkan hati orang lain, akan tetapi ucapan yang mengandung panasnya hati dan pikiran akan membuat orang menjadi menderita dan sengsara. Perbuatan badan jasmani yang benar akan membantu setiap jenis pekerjaan yang dilakukan. Bila perbuatan itu diikuti dengan keyakinan maka akan membawa kekuatan tersendiri. Seseorang mampu untuk mengangkat beban seberat seratus kilogram karena dimuati oleh pikiran “Saya mampu mengangkat seratus kilogram”. Kalau setiap hari kita selalu memprogram atau mengisi pikiran kita dengan hal-hal positif maka kita akan mendapatkan manfaat yang memuaskan dan membahagiakan, sebaliknya pikiran-pikiran negatif yang sering diingat-ingat dan kita perbuat tentu akan membuat penyesalan dan kesedihan. Oleh karena itu kita sekarang melihat sebenarnya keyakinan itu ada dua hal, yaitu:

  1. Keyakinan yang benar / berdasarkan pengertian benar, dan
  2. Keyakinan yang salah / keyakinan yang membabi-buta.

Keyakinan yang benar mempunyai kriteria yakni ; datang – melihat – dan buktikan (Ehipassiko), sedangkan keyakinan salah hanya melihat orang / obyek tanpa pengertian yang jelas dan yang mudah dibelok-belokkan kepercayaannya tersebut ketika mendapatkan hal yang terbaru dan lebih mengagumkan atau berkesan di hatinya.

Untuk meningkatkan keyakinan (dan rasa percaya diri; dalam kamus umum), banyak orang mencari sarana / media di luar dirinya sendiri. Semisal seorang anak muda akan merasa bangga bila mendapatkan pengakuan jati dirinya di depan teman-temannya dan juga lingkungannya, seseorang akan bekerja dengan giat bila mendapatkan pujian, dan lain-lain.

Dalam Milinda Panha I; ciri khas dari keyakinan adalah ‘Kejernihan dan inspirasi’. Demikian menurut agama Buddha bahwa keyakinan bukanlah sekedar melihat orang / obyek yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu, lebih dari itu pengalaman pribadi dan melihat sesuatu dengan pengamatan yang benar, sehingga mendatangkan kesimpulan yang cocok dan sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini dan di masa mendatang. Bagaimanakah caranya kita memiliki keyakinan yang benar itu ? Adalah dengan melakukan perbuatan baik maka kita akan mendapatkan keyakinan, contohnya membagikan kebahagiaan dengan cara berdana kepada orang yang memerlukan, melaksanakan sila setiap saat, melatih kesabaran, menjaga pikiran dengan bermeditasi, dan memiliki kebijaksanaan. Sebaliknya kita bisa melihat, ketika seseorang melakukan kesalahan atau menambah kekotoran batin, maka keyakinannya semakin memudar, serta melakukan sesuatu dengan terburu-buru dan hasilnya pun akan terlihat tidak sempurna dan tidak memuaskan.

Menurut Itivuttaka II; 39 bait kedua, para deva menegaskan :”Hal yang pantas diperoleh ialah memiliki keyakinan terhadap Dhamma dan Vinaya”. Oleh karena itu marilah kita memeriksa ke dalam batin dan pikiran. Sudahkah saya memiliki keyakinan yang benar. Semoga semua makhluk bahagia.

[ Dikutip dari Berita Dhammacakka, Edisi 16 Januari 2000 ]

Pos ini dipublikasikan di Ceramah Dhamma, dasar agama Buddha, Therawada. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s