>Cerpen Buddhis: Badai Pasti Berlalu

>

 
Badai Pasti Berlalu

Waktu itu Hani bersama kakaknya sedang berada di Stasiun Yogya, menunggu kereta yang akan membawanya pulang ke kota kecil tempat mereka dilahirkan.

Di pintu peron dia melihat dua lelaki remaja seusianya sedang berjalan memasuki stasiun. Di punggung mereka bertengger ransel besar-besar .Tanpa diduga cowok itu duduk tidak jauh dari tempatnya duduk bersama kakaknya.

Keduanya ngobrol dan tertawa-tawa lepas meskipun terlihat kelelahan di wajahnya dan keringat bercucuran. Karena jarak Hani dengan kedua cowok itu hanya selisih dua bangku, dia bisa mendengar jelas obrolan mereka. Seru sekali kedengarannya, ternyata mereka habis pulang dari mendaki gunung di kota ini dan berniat untuk pulang ke Yogya. Hani jadi tertarik dan ikut menyimak. Bahkan tanpa ia sadari kadang ikut tersenyum bila ada kalimat atau pembicaraan mereka yang terdengar lucu. Sampai kemudian Hani nggak menyadari kedua cowok itu sudah berada di dekatnya.

“Ehm, selamat siang…”, sapa yang memakai kaos hitam ramah. Sejenak Hani terkejut. Kakaknya pun begitu. “Siang juga…”, kakaknya lebih bisa mengatasi kekagetannya. Dia balas menjawab ramah. Hani hanya mengangguk saja.

Dan diawali dari sapaan itu, lantas mereka berkenalan. Kebetulan lagi tujuan mereka sama. Topan dan Ibeng, nama kedua cowok itu, memang tinggal di kota dimana Hani juga tinggal. Akhirnya dari perkenalan tersebut mereka menjadi akrab dan pertemuan demi pertemuan dilanjutkan sesampainya di Yogya.

Mengenal Topan dunia Hani terasa lebih luas. Ruang geraknya tidak hanya di sekitar rumah dan sekolah melulu. Bersama Topan pula Hani pernah diajak ke daerah kumuh yang menurutnya tidak layak untuk dihuni, berkenalan dengan kawan-kawan kecil Topan di panti asuhan. Bahkan pernah di ajak mendaki gunung yang membuat Hani bersumpah untuk tidak melakukannya lagi. Menurut Hani hanya rasa capek yang amat sangat serta badan terasa sakit, yang ia dapatkan. Ternyata Topan sebaliknya, ia sangat suka sekali pergi mendaki gunung.

Suatu ketika Topan akan pergi ke luar kota untuk mendaki gunung bersama teman-temannya. Hani sendiri tidak tahu kenapa perasaanya kurang enak pada waktu mengantar kepergian Topan. Sebenarnya Hani pun diajak oleh Topan untuk ikut bersammanya karena akan ada sesuatu yang harus disampaikan. Dan Topan ingin menyampaikan hal tersebut pada waktu mereka berdua berada di puncak gunung. Tapi Hani menolak dengan alasan dia harus membantu ibunya bekerja. Hani tahu bahwa diantara dia dan Topan telah tumbuh benang-benang kasih dan Topan belum mengatakannya sampai sekarang.

“Sebenarnya banyak yang ingin aku sampaikan di sana tapi nggak apa-apa deh kalo kamu nggak bisa ikut. Tunggu aku pulang, yah….Akan kubawakan setangkai bunga edelwise nanti”, Topan berkata sebelum dia berangkat. Keesokan harinya Hani mendengar berita bahwa Topan dan teman-temannya mengalami kecelakaan di sebuah gunung. Mereka tersesat dan terperosok ke dalam jurang. Topan beserta kedua temannya tidak dapat diselamatkan lagi. Hani merasa sangat terpukul mendengar berita tersebut. Ia tidak mengerti mengapa Tuhan begitu cepat memanggilnya.

Sejak kepergian Topan Hani sering menangis dan mengurung diri di kamar. Sifat Hani juga berubah menjadi mudah tersinggung dan cepat marah. Teman-teman di sekolah Hani menjadi bingung dengan perubahan terrsebut. Beberapa teman Hani berusaha untuk menasehatinya tapi ter-nyata sia-sia saja.

Teman dekat Hani yang bernama Dewi merasa sedih dengan perubahan yang dialami Hani. “Han.., nggak baik kalo kamu terus menerus bersedih. Memangnya dengan bersikap seperti ini Topan akan hidup kembali.

Ingat Han!…, segala sesuatu itu tidak kekal. Mengapa kamu tidak menjalani hidup seperti biasa saja dan memanfaatkan waktu yang ada untuk hal-hal yang lebih berharga daripada meratapi kesedihan yang tidak ada habis-habisnya”, Dewi berusaha menyadarkan Hani untuk kembali seperti sediakala. Hani yang tadinya hanya menunduk saja, tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berkata. “Benar juga kata kamu, Wi… Aku seharusnya tidak sedih berlarut-larut, salahnya Topan adalah cinta pertamaku. Tapi sekarang aku sudah sadar bahwa tindakanku selama ini salah dan hanya memikirkan diriku sendiri. Terima kasih., Wi… atas nasehatmu. Sekarang aku akan berubah menjadi seperti Hani yang dulu lagi”. “Nah, gitu dong…. itu baru yang namanya Hani “, balas Dewi dengan tersenyum manis.

(Dikutip dari Berita Vimala Dharma)

Pos ini dipublikasikan di cerpen Buddhis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s