>Marilah Kita Mengadu Kekuatan

>



Marilah Kita Mengadu Kekuatan

Oleh Pandita. Dharma Mitra (Peter Lim)



“Memahami dharma (kebenaran) dengan sepenuhnya dan bebas dari kerinduan karena memiliki pandangan terang, orang bijak tersebut bebas dari semua nafsu keinginan, dan tenang bagaikan kolam yang tidak terkacaukan oleh angin.”Itivuttaka 91.

Membaca judul yang diatas, spontanitas anda pasti akan kaget ! Betul’khan….? Mengapa….? Karena tidak sesuai dengan prinsip dan landasan dari Buddha Dharma (ajaran Sang Buddha), yang meng ‘haram’ kan segala bentuk dari kekerasan kekerasan, disamping senantiasa berpedoman pada cinta kasih serta kasih sayang. Yang akan dibicarakan disini, bukanlah bentuk dari kekuatan fisik atau materi, yang bisa mengalahkan atau menghancurkan pihak pihak lain. Tetapi adalah salah satu dari bentuk kekuatan kebajikan (pasti berdampak positif), yang mana bisa menimbulkan kedamaian, ketentraman, kesejahteraan & kebahagiaan bagi makhluk makhluk hidup lainnya. Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat lima kekuatan, yang bisa (pasti) memberikan hasil yang optimal (kebahagiaan) dan telah terbebas dari keduniawian serta selalu berdampak positif, baik bagi sipemilik maupun pihak-pihak lain, yang ada disekitarnya. Kelima kekuatan (panca balam) tersebut adalah :

a. Saddha balam : kekuatan keyakinan.
Mengenai kekuatan keyakinan ini, Sang Buddha menyabdakan :
“Duhai para bhikkhu, para siswa (bhikkhu & umat) dalam Buddha Sasana (ajaran Nya, Sang Buddha) yakin akan sifat sifat luhur Sang Buddha, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna Pengetahuan serta tindak tanduk Nya, sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal semua alam; Pembimbing Manusia, Yang Tiada Taranya, Guru Para Dewa & Manusia, Yang Sadar (bangun), Yang Layak Dimuliakan. Inilah kekuatan keyakinan.”.

Dalam hal ini, umat Buddha hendaknya telah yakin & seyakin yakinnya meyakini bahwa Sang Buddha adalah manusia yang telah tercerahi (suci & mulia) & oleh karena itu, maka sudah seyogyanya disetiap derap langkah yang akan, sedang dan telah dilalui, selalu sesuai (berpedoman) dengan jalur dharma (kebenaran), yang tidak merugikan pihak lain disamping dampaknya yang positif.

b. Viriya balam : kekuatan semangat.

Berkenaan dengan kekuatan semangat ini, Sang Buddha menyabdakan :
“Duhai para bhikkhu, siswa siswa yang baik dalam Buddha Sasana ini, hendaknya senantiasa bersemangat untuk menghindari akusala karma (perbuatan perbuatan jahat), bersemangat untuk banyak berbuat kusala karma (perbuatan perbuatan baik). Mereka tekun, teguh, tidak mudah patah semangat, memperhatikan kusala dhamma) (hal-hal yang baik). Inilah kekuatan semangat.”

Pada kekuatan semangat ini, kita diarahkan (dibimbing) oleh Sang Buddha, untuk senantiasa menghindari segala bentuk dari perbuatan-perbuatan jahat, dalam kondisi, keadaan & suasana yang bagaimanapun juga. Disamping itu, juga selalu berkreasi pada hal hal yang baik, yang mana bermanfaat bagi diri sendiri dan juga makhluk-makhluk hidup lainnya, yang ada disekitar kita. Dan perbuatan perbuatan baik yang dilakukan, hendaknya telah terbebas dari niat-niat terselubung (jahat) atau adanya pamrih akan ini & itu. Di dalam konsep Buddhis ditegaskan bahwa tidaklah logis, pantas atau dibenarkan, melakukan perbuatan perbuatan baik, yang hanya didasarkan pada keseragaman bangsa, suku, bahasa atau agama. Perbuatan perbuatan baik yang hendak atau akan dicurahkan, haruslah telah terbebas dari ikatan ikatan atau unsur unsur diskriminasi. Penggambarannya, tidaklah berbeda dengan pancaran sinar matahari yang menerangi bumi (segenap pelosok), yang tanpa adanya perbedaan perbedaan.

c.Sati balam : kekuatan kesadaran.

Berhubungan dengan kekuatan kesadaran ini, Sang Buddha menyabdakan :
“Duhai para bhikkhu, siswa siswa yang baik dalam Buddha Sasana ini, hendaknya telah memiliki kesadaran yang baik, mengingat tindakan yang pernah diperbuat dan telah dibuat masih di ingat, mengingat perkataan yang pernah diucapkan & yang telah dibicarakan masih diingat. Inilah kekuatan kesadaran.”

Maknanya adalah kita telah memiliki kesadaran bahwa apa yang akan, sedang & yang telah dilakukan. Kalau kondisi ini bisa dipenuhi maka kita akan memiliki suatu kemampuan, untuk bisa memilah-milah, mana yang pantas dilaksanakan dan mana yang harus dihindari. Mengapa bisa demikian…? Karena kita telah berada dalam kesadaran penuh. Umumnya, terjadinya kesalahan-kesalahan atau perbuatan perbuatan tercela, tidaklah terlepas karena lemahnya kesadaran yang dimiliki. Jadi, dengan dimiliki-nya kekuatan kesadaran maka disetiap derap langkah yang akan dilalui, telah terfilter (tersaring) dengan baik. Dan sebagai hasil (akibat) nya maka segala wujud dari penderitaan penderitaan (sebagai akibat dari perbuatan perbuatan jahat) akan bisa disirnakan.

d. Samadhi balam : kekuatan (konsentrasi).

Mengenai kekuatan ini, Sang Buddha menyabdakan :
“Duhai para bhikkhu, siswa siswa yang baik dalam Buddha Sasana ini, hendaknya telah memiliki kekuatan samadhi yang baik. Mereka memiliki samadhi yang sempurna.”

Dalam hal ini adalah bisa (mampu) mengontrol, mengarahkan dan memfokuskan pikiran, pada suatu objek (sasaran), yang tidak tergoyahkan lagi oleh godaan-godaan ataupun rintangan rintangan. Jika kondisi ini telah terpenuhi maka dikala mata, telinga, hidung, lidah, kulit & pikiran tersentuh atau kontak pada objek-objek luar (menyenangkan atau tidak), tidak akan bisa (mampu) mempengaruhi bathinnya lagi.

e. Panna balam : kekuatan kebijaksanaan.

Berhubungan dengan perihal ini, Sang Buddha menyabdakan :
“Duhai para bhikkhu, siswa siswa di dalam Buddha Sasana ini, hendaknya telah memiliki kebijaksanaan. Mereka memiliki kebijaksanaan yang sempurna, yang bisa mengingat akan muncul dan lenyapnya segala sesuatu. Inilah kekuatan kebijaksanaan.”

Makna dari kebijaksanaan sempurna adalah bisa menerima kebenaran kebenaran yang pasti terjadi (misalnya. : ketidak kekalan, hukum karma, berpisah dengan yg dicintai, dihina dan lain sebagainya) dan bathin senantiasa stabil (tidak tergoncangkan oleh kondisi kondisi yang bagaimanapun juga) serta selalu mengembangkan dan memancarkan cinta kasih segala penjuru.

“Ia yang meneguk rasa dharma (kebenaran) & jernih bathinnya; niscaya hidup berbahagia. Orang bijak senantiasa bergembira dalam dharma (kebenaran) yang dibabarkan oleh para Ariyawan (suciwan).”
Pandita Vagga VI : 79.

Di dalam kitab suci Sangiti Sutta Patikavagga Digha Nikaya, Sang Buddha menyabdakan bahwa faktor-faktor yang bisa menyebabkan timbulnya kebijaksanaan adalah :

  1. Cintamaya panna : kebijaksanaan yang timbul karena adanya pemikiran dan perenungan mendalam terhadap sebab dan akibat.

    Maknanya adalah menyadari & mengerti dengan sebaik baiknya bahwa tiada akibat tanpa adanya sebab yang nyata. Jadi, jika disaat kita (merasa) diperlakukan tidak sewajarnya, maka tindakan yang pertama tama sekali (seyogyanya) yang diperbuat adalah:
    a) Bertanya kepada diri sendiri (introspeksi), mengapakah perihal ini bisa terjadi….?
    b) Selalu yakin bahwa segala kondisi dan keadaan yang dialami, tidaklah terlepas sebagai hasil (akibat) dari karma, yang sudah sepantasnya diterima (dilunasi). Dalam hal ini, tidaklah logis kita menyalahkan pihak-pihak lain atas kemalangan-kemalangan yang dialami.
    c) Selalu mengembangkan dan memancarkan cinta kasih serta kasih sayang kesegala penjuru. Disamping itu, juga meyakini bahwa tidaklah mungkin kebencian akan bisa tertaklukkan dengan kebencian. Kebencian hanya bisa disirnakan dengan kekuatan cinta kasih. Itulah hukum kebenaran yang berlaku di alam semesta ini.

  2. Sutamaya panna : kebijaksanaan yang timbul karena adanya mendengar dan mengajar dharma (kebenaran).

    Maknanya, semakin banyak diketahui hal-hal yang baik dan bermanfaat maka akan semakin kuat dan mantap pula, kebijaksanaan yang dimiliki.

  3. Bhavanamaya panna : kebijaksanaan yang timbul karena adanya pelaksanaan meditasi.

    Secara garis besarnya, makna meditasi adalah mengarahkan pikiran pada suatu objek (sasaran) tertentu. Tujuan dari pelaksanaan ini adalah agar pikiran bisa dibina, difokuskan dan ditujukan pada hal-hal yang baik dan terbebas dari niat niat jahat. Pikiran yang telah terbina dan selalu terfokuskan pada hal-hal yang baik, merupakan sebab utama timbulnya kebijaksanaan. ¡°Rago doso mado moho-yattha panna nagadhati : dimana terdapat nafsu, kebencian, kemabukan dan kebodohan (tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat); disitu tidak terdapat kebijaksanaan.¡± Sanyutta Nikaya 1249.

Kesimpulan :

Di media massa, hampir setiap hari diberitakan, terjadinya perkelahian, pemukulan, pemerkosaan & bahkan pembunuhan. Mengapakah semuanya ini bisa terjadi¡¦.? Sebabnya tiada lain adalah kurangnya (tidak ada) kemampuan, untuk mengembangkan bibit-bibit ke Buddha an (kebajikan), yang telah ada dihati sanubari. Di dalam sabda Nya, Sang Buddha menyabdakan bahwa pada dasarnya (sesungguhnya), kita telah memiliki potensi dan kemampuan, untuk bisa mengembangkan kekuatan kekuatan yang ada di dalam diri kita. Kekuatan kekuatan tersebut adalah : a) Saddha balam : kekuatan keyakinan. Kalau kita senantiasa yakin bahwa perbuatan-perbuatan apapun yang akan, sedang dan telah diperbuat, pasti akan menimbulkan hasil (akibat ) maka kita akan menjauhi diri dari perbuatan perbuatan jahat. b) Viriya balam : kekuatan semangat. Kalau kita senantisa bersemangat di setiap derap langkah yang akan dilalui maka yang namanya iri (kecemburuan) atau kekurang- beruntungan yang di alami, akan bisa disirnakan setahap demi setahap. Sirna-nya kecemburuan atau kekurang-beruntungan ini, akan memotivasi seseorang, untuk senantiasa mau bertindak dan berlaku di jalur yang benar. c) Sati balam : kekuatan kesadaran. Kalau kita senantiasa sadar (mawas diri dan waspada) disetiap apa yang akan, sedang dan telah dilalui maka kita tidak akan terjerumus lagi ke tindakan-tindakan tercela dan malahan selalu sebaliknya, yaitu berbuat kebajikan. d)Samadhi balam : kekuatan samadhi. “Ada lima untai kesenangan inderawi serta pikiran sebagai yang ke-enam. Dengan mengatasi keinginan untuk memuaskan hal hal ini, orang akan bebas dari penderitaan.” Sutta Nipata 171. e)Panna balam : kekuatan kebijaksanaan. Kalau di setiap gerak langkah yang akan dilalui dan selalu diliputi oleh kebijaksanaan maka akibat (hasil) nya akan senantiasa berdampak positif, baik bagi diri sendiri maupun pihak-pihak lain. “Andho yatha jotima dhitthaheyya : tanpa mata kebijaksanaan, seseorang tidak ubahnya seperti orang buta yang menginjak lentera penunjuk jalan.” Khuddhaka Nikaya 1734. Berdasarkan pada ke lima jenis kekuatan (panca balam) ini, marilah kita bersama sama mengembangkan & mengadukannya. Dalam hal ini, siapakah yang terbaik atau pemenang di dalam pengembangan kekuatan kekuatan kebajikan ini….? Semoga dengan dimilikinya kekuatan kekuatan ini, dapatlah hendaknya kita kontribusikan, demi terwujudnya masyarakat yang damai, tentram, sejahtera dan bahagia. Sudah siapkah kita dalam hal ini….? Sabbe satta sabba dukkkha pamucanntu-sabbe satta bhavantu sukhitata : semoga semua makhuk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia. sadhu….. sadhu….. sadhu…..

Pos ini dipublikasikan di Ceramah Dhamma, renungan, Therawada. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s