>Vassa

>


Vassa
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Jinnadhammo Mahathera




Salah satu peraturan di dalam hidup kebhikkhuan adalah menjalankan Vassa. Masa vassa adalah selama 3 bulan dimulai dari bulan Asalha / Asadha hingga sampai bulan Kathina. Tahun ini jatuh pada tanggal 12 Juli sampai dengan 8 Oktober 1995.

Seorang Bhikkhu setiap satu tahun sekali menjalani Vassa selama tiga bulan berturut-turut di suatu tempat. Tempat yang sangat baik untuk melakukan Vassa adalah tempat yang sunyi dan hening di mana umat biasa (orang awam) yagn datang dan pergi sangat sedikit sehingga suasana keheningan itu terjamin. Pada masa hidup Sang Buddha di mana anggota Sangha masih berjumlah sedikit, peraturan untuk mengendalikan Sangha tidak begitu diperlukan, semua savaka (siswa) melaksanakan dan mengikuti jejak Sang Buddha dan mengetahui dengan baik ajaran Sang Buddha. Namun ketika jumlah bhikkhu makin bertambah dan tersebar di mana-mana, peraturan untuk pengendalian diri untuk para bhikkhu menjadi lebih diperlukan. Sehingga ketika itu Sang Buddha mempunyai padangan bahwa seorang bhikkhu haruslah berdiam di suatu tempat selama tiga bulan untuk berdiam diri serta merenungkan segala perbuatan yang diperbuatnnya selama satu tahun.


Pada waktu itu orang-orang zaman dahulu terbiasa untuk tidak bepergian ke mana-mana selama musim hujan karena pada saat itu jalan-jalan berlumpur dan tidak sesuai untuk melakukan perjalanan, dan lagi, banyak makhluk-makhluk kecil yang berkeliaran di tanah dan juga tumbuhan juga mulai berkembang sehingga takut terinjak dan mati. Untuk itulah Sang Buddha menetapkan sebuah peraturan bahwa bhikkhu harus menetap disuatu tempat selama musim hujan atau Vassa dan tidak pergi ke tempat-tempat lain selama masa tiga bulan tersebut.


Hari pertama untuk pelaksanaan itu disebut Vassupanayika yaitu setelah bulan purnama melewati satu hari dalam bulan Asalha (hari pertama pada bulan ke delapan) sedangkan untuk akhir masa vassa disebut Pavarana (upacara akhir vassa). Pavarana (hari penutup masa vassa berakhir) biasanya dilakukan pada tanggal lima belas. Apabila sangha tidak melakukan pavarana pada hari itu, upacara tersebut dapat ditunda dalam jangka waktu dua minggu atau satu bulan atau pada hari-hari lainnya. Jumlah bhikkhu yang menghadiri pertemuan ini sekurang-kurangnya lima orang bhikkhu. Pavarana merupakan kesempatan bagi semua bhikkhu untuk saling mengingatkan satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran yang telah terjadi, sehingga berbagai pelanggaran akan segera jernih setelah diselidiki ataupun diakui dan pada kasus yang berat maka si pelanggar akan dikeluarkan dari Sangha.


Saat melakukan Vassa adalah merupakan saat untuk para bhikkgu melakukan samanadhamma yaitu dhamma untuk seseorang yang membuat dirinya damai atau pelaksanaan meditasi ketenangan atau pandangan terang.


“Bhikkhu yang telah menyepi pada tempat terpencul, yang telah menaklukan pikirannya dan memahami ajaran, menikmati kebahagiaan yang lebih dari orang lain.”
                                                                                                                                (Dhammapada 373)


“Bhikkhu yagn tenang pikirannya, tenang dalam kata-kata, dan tenang tindak tanduknya, yang telah melepaskan segala hal duniawi, sesungguhnya disebut orang yang penuh kedamaian.”
                                                                                                                    (Dhammapada 378)


Bhikkhu yang melaksanakan Vassa harus berdiam di suatu tempat tertentu yang mempunyai batas-batas tertentu sampai hari pavarana dilalui. Apabila seorang bhikkhu mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, bhikkhu tersebut harus mendapatkan izin untuk pergi, tetapi bhikkhu tersebut harus kembali dalam waktu tujuh hari. Apabila dalam waktu tujuh hari terlampaui maka Vassa menjadi gagal.


Beberapa hal yang menyebabkan seorang bhikkhu mendapatkan izin untuk bepergian salama masa Vassa adalah sebagai berikut:
1.        Jika teman dhamma (bhikkhu dan samanera) atau ibu dan ayah sakit, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk merawatnya.
2.        Jika teman dhamma ingin lepas jubah (karena godaan seksual),  maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk memadamkan keinginan tersebut.
3.        Jika terdapat beberapa tugas dari Sangha yang harus dikerjakan seperti kerusakan vihara, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mencari bahan guna perbaikannya. (biasanya tempat itu dipimpin oleh seorang Abbot atau pimpinan vihara dari anggota Sangha).
4.        Jika donatur ingin meningkatkan kebajikan mereka (kusala) dan mengundang bhikkhu maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mendukung keyakinan mereka.


Dari keterangan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Vassa adalah pelaksanaan berdiam diri pada suatu tempat yang sunyi dan hening untuk mendapatkan kesempatan / waktu agar bebas dari kegiatan sehari-hari selama 3 bulan yang mempunyai tujuan untuk merenugnkan segala tindakannya baik ucapan maupun pikiran yang masih mencemari dirinya (kilesa), sehingga seorang bhikkhu dapat melihat kelemahan-kelemahan yang ada serta dapat memperbaikinya.


Di dalam melaksanakan Samanadhamma pada waktu Vassa adalah sangat baik untuk melaksanakan beberapa kegiatan seperti:
  1. Memperbaiki vihara
Hal ini bertujuan untuk memperbaiki sarana-asrana yang mengalami kerusakan-kerusakan di vihara seperti ruangan kebaktian, ruang meditasi, dan tempat tidur serta sarana-sarana lainnya seperti ruang perpustakaan. Kemudian memperbaiki dan memelihara tanaman-tanaman yang ada sehingga suasana vihara kelihatan bersih, indah, dan ketenangannya dapat terjamin.
  1. Pada hari Uposatha membicarakan tentang Dhamma.
Pada Uposatha dilaksanakan pada bulan purnama dan bulan gelap tangal 1, 8, 15 dan 23 pada penanggalan tahun lunar. Biasanya pada hari itu anggota sangha mengadakan suatu pertemuan untuk membicarakan tentang Dhamma dan Vinaya.
Kata Uposatha berarti “masuk untuk berdiam” yang mempunyai makan kepatuhan kepada sila (vinaya). Uposatha merupakan istilah yang dipakai untuk pelaksanaan suatu upacara keagamaan yagn ketat hubungan dengan menahan diri (puasa). Ini merupakan kebiasaan yang telah ada sebelum masa Sang Buddha, dan Sang Buddha menyetujui kebiasaan ini dan memperkenalkannya untuk dipergunakan sebagai hari pertemuan untuk membicarakan dan mendengarkan Dhamma dan merupakan kesempatan untuk pelaksanaan uposatha bagi umat (atthanga uposatha sila). Sehubungan dengan pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha mengizinkan mereka melakukan uposatha pada tanggal 1 dan 15 penanggalan lunar, artinya dua kali dalam sebulan.
Kemudian Sang Buddha memberikan izin kepada  Sangha untuk melakukan uposatha sendiri, di mana dalam setiap pertemuan suatu kelompok bhikkhu, seorang bhikkhu akan membacakan peraturan latihan yang disebut dengan Patimokkha. Ini dilakukan apabila terdapat empat orang bhikkhu atau lebih. Apabila hanya terdapat dua atau tiga bhikkhu, merka disebut gana (group). Mereka diizinkan untuk memberitahukan satu sama lain tentang kemurniaan mereka masing-masing dan bila hanya terdapat seorang bhikkhu ia disebut puggala (seseorang) dan dia harus membuat Addhittanga atau tekad oleh diri sendiri. Dalam setiap vihara (yang mempunyai Sima) harus terdapat sebuah bangunan untuk uposatha  bagi sekurang-kurangnya dua puluh satu orang bhikkhu, dan tempat ini disebut Uposathagara.
  1. Meditasi
Bertujuan untuk pandangan terang yang artinya agar seorang bhikkhu dapat merenungkan segala perbuatan serta tingkah lakunya baik melalui pikiran, ucapan serta tindak tanduknya agar terhindar dari pelanggaran-pelanggaran vinaya. Sebab di dalam kehidupannya sehari-hari tentu banyak dijumpai rintangan-rintangan maupun godaan-godaan yang datangnya baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Oleh sebab itulah meditasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan serta perhatian dari segala persoalan-persoalan yagn timbul.
Pernah sekali murid Sang Buddha bertanya, “Menurut Guru, apakah cukup dengan syair-syair suci, kekuatan gaib serta ajaran Dhamma?” Lalu Sang Buddha menjawab “Tidak cukup. Seseorang mungkin menguasai syair-syair suci, lagu-lagu suci, ajaran agama, kekuatan dan tulisan gaib, tetapi jika dia tidak melakukan meditasi di dalam kehidupannya, maka di dalam dirinya tidak akan ditemukan kedamaian, seperti seseorang yagn hanya mendengarkan Dhamma melalui desas-desus, dia hidup tidak berpedoman pada Dhamma dan tidak mengetahui kehidupan abadi melalui pengalaman-pengalamannya sendiri.Sama halnya dengan seseorang yang mengajarkan Dhamma pada orang lain atau mempertimbangkan Dhamma sepanjang hari. Jika seseorang tidak melakukan meditasi, dia tidak akan mengalami hal-hal yang nyata dan tidak memiliki mata batin, mereka hidup dengan tidak berpedoman pada Dhamma dan tidak akan memperoleh penerangan pada dirinya sendiri. Demikian halnya juga dengan KEBAKTIAN, seseorang tidak akan mendapatkan serta menemukan pandangan terang dengan hanya melaksanakan KEBAKTIAN. Dia harus melakukan MEDITASI. Dengan MEDITASI keseimbangan batin dapat dijaga sehingga kebijaksanaan itu timbul dan bukan yang dibuat-buat tetapi adalah tumbuh dengan sewajarnya.


Disampaing hari uposatha, para bhikkhu juga dapat melakukan latihan-latihan (melatih diri) dalam kehidupan sehari-hari dengan belajar kepada bhikkhu-bhikkhu yang lebih senior atau sebaliknya para bhikkhu senior dapat memberikan pelajaran yang berguna kepada bhikkhu yang baru yang masih belum mantap baik oleh vinayanya maupun pengetahuan akan Dhammanya, sehingga nantinya akan diperoleh bhikkh-bhikkhu yang mempunyai disiplin yang baik dalam menjalankan vinaya yang dipegangnya.


Sebagai anggota Sangha yang dimuliakan oleh umat awam (biasa), apabila ditemukan bhikkhu yang tidak mempunyai disiplin yang baik, maka agama Buddha akhirnya akan hancur dan hal ini tentu tidak diinginkan oleh umat yang beragama Buddha. Oleh sebab itu agar agama Buddha dapat terjamin kelestariannya (kemurniannya) maka para bhikkhu anggota Sangha haruslah mencerminkan persatuan dan kesatuan, tidak saling gontok-gontokan atau saling menuding akan kesalahan yang diperbuat, tetapi adalah dengan jalan saling memberikan pengertian yang mendalam dan memahami akan kedudukan masing-masing pribadi dan menyelesaikan segala persoalan dengan keseimbangan pikiran yang baik serta dapat saling memberi maaf atas kesalahan-kesalahan yagn kecil maupun kesalah pada pelanggaran-pelanggaran yang besar. Dengan demikian agama Buddha tentu dapat berdiri dengan kokoh dan kelestariannya dapat terjamin.


Demikian juga dengan umat awam, dengan sendirinya mereka akan mengerti serta memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai umat Buddha yagn beragama Buddha untuk mempertahankan serta menjaga kelestarian daripada agama Buddha itu sendiri.
Pos ini dipublikasikan di dasar agama Buddha, Lain-lain, Therawada. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s