>Cerpen Buddhis: Cinta Yang Terpuruk

>

 
Cinta Yang Terpuruk
Oleh : NTD


Indahnya matahari terbenam tidak membuatku bahagia. Aku berdiam sendiri di kamar, termenung dan sempat terlintas ucapannya di siang hari. “Aku tidak bermaksud untuk menghianatinya juga menduakannya, Mengapa ia berpikir demikian? Mengapa ia berpikir bahwa selama ini aku berpura-pura padannya? “Tanpa kusadari, pipiku sudah basah dengan air mata.Aku belum sempat menjelaskan persoalan ini dengannya tadi siang, tapi besok aku akan menemuinya di kampus.

“Tedy ! Tedy ! Aku ingin bicara denganmu.” Aku tahu ia terpaksa, tapi masalah ini harus aku bicarakan dengannya.
“Ada apa, Rit?”

“Aku mau bicara tentang masalah itu, kau salah paham, Tedy!”
“Sudah jelas kok masalahnya Rit, Kamu menduakan aku, temanku sendiri yang melihat kamu jalan berdua dengannya sambuk bergandengan malam minggu kemarin, aku si percaya kamu 60% tapi…..”
 

“Ted, aku tuh sama dia ngak ada apa-apa. Hubungaku dengannya, maksudku Budi tak lebih dari teman, percaya deh. Masalah dia menggandengku, mungkin…. dia takut aku hilang atau entahlah!” Kulihat wajahnya dengan amarah, tapi aku ingat dengan ajaran Sang Buddha karena kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian juga. makadari itu aku harus menjelaskan semua padannya. Aku tidak ingin dia berpikir buruk tentang diriku. Aku tahu bahwa aku telah berbuat salah padanya.

“Rit, benarkah semua ini?” Aku hanya mengganguk. “Oh, Rita, aku percaya padamu.”
“Jadi……….”
“Yah, masalah kita selesai. Anggap sajaini tidak pernah terjadi.”
“Oh Tedy, aku sayang sekali sama kamu.” Tedy hanya tersenyum dan kemudian mengajaku masuk ke ruang kuliah.

Sudah sekian lama kami berhubungan, memang selalu ada kendala. Oragn tua Teddy tidak setuju dengan hubnungan kami karena alasan perbedaan agama. Tapi kami tetap mempertahankan cinta kami, sampai aku mengetahui bahwa aku sudah dijodohkan dengan Budi oleh orang tuaku. Budi memang baik dan seDhamma,tapi aku tidak menyukainya. Memang selama ini, dia tdak tahu kalau aku sudah berhubungan dengan Tedy selama 3 tahun. Aku dan Budi memang jarang bertemu dan mengenai acara pertunangan kami akan diadakan minggu depan. Oh, bagaimana ini? Aku tak bisa meninggalkan Tedy tapi aku juga tak bisa melanggar perintah orang tuaku.

Sewaktu aku sedang berpikir, kudengar suara mama memanggil. “Rit, ada Tedy tuh !”
“Iya, Ma, Rita segera turun.” AKu turun dan menghampiri Tedy.
“Hai Rit! Aku tidak ganggu kamu kan ?”
“Tidak kok, Ted. Pintu rumahku selalu terbuka lebar untukmu.”
“Rit, aku mau kasih tahu4kamu, bahwa massa perusuh telah sampai dipintu gerbang kompleks perumahan kamu. Aku harap kamu tetap disini. Aku takut mereka akan…”
“Ted, jangan diteruskan! Terima kasih, Ted, Kamu sudah kasih tahu aku.”
“Tapi apakah kamu nggak takut, Rit? Soalnya, selalu wanita yang menjadi korban bila terjadi kerusuhan!”

“Ted, bukannya aku tidak takut, tapi aku percaya pada karmaku sendiri. Kalau memang karmaku buruk, aku tidak dapat menghindarinya.”
“Tapi, Rit, bolehkan aku disini bersamamu?” Aku khawatir sama kamu.”
Aku hanya tersenyum, hatiku sangat bahagia karena perhatiannya yang tidak kudapatkan dari Budi. Tiba-tiba telephone rumah berbunyi dan aku yang mengangkatnya, karena keluargaku sedang mendengarkan berita kerusuhan yang sedang terjadi. Rupannya telephone dari Budi, aku sangat kecewa padannya, ia mengabarkan kalau ia sedang berada di Sdyney bersama keluargannya saat ini. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara Tedy.
“Rit, mereka makin bertindak brutal. Lihat keadaan rumah tetanggamu!” “Aku takut akan terjadi sesuatu pada diri kita semua.”

Tiba-tiba empat orang masuk melompat pagar rumahku. Mereka berwajah menyeramkan dan penuh dengan kebencian. Tedy langsung menutup pintu rumahku dan menguncinya. Para perusuh berteriak sambil berusaha mendobrak pintu.
“Rit, cepat sembunyi ! Pintu ini akan didobrak, aku tidak bisa menahannya. Cepat, Rit, Cepat !”
“Tapi Ted, bagaimana dengan kamu? Mereka akan memukul bahkan dapat membunuhmu !”
“Aku tidak peduli, Rit. Akut tidak peduli, Cepat!Kamu harus sembunyi!””Aku akan mengorbankan diriku asalkan kamu selamat, Rit”
“Baiklah, aku akan mengikuti kehendakmu, Ted” Dengan berat hati aku meninggalkannya.
Kemudian papa turun dari loteng dengan tiba-tiba dan menghampiriku. “Rit, cepat sembunyi diatas bersama mama dan adikmu, papa akan menyusul.”
“Papa mau kemana ?”
“Papa akan membantu Tedy, ia tidak bisa menghadapi musuh sendirian. Ayo cepat Rit!”
“Baik, pa, tapihati-hati yah Pa!” Kulihat papahanya tersenyum lalu pergi meninggalkanku dan aku bergegas ke atas bersama mama dan adikku. Sayup-sayup terdengan suara gaduh dan teriakan kesakitan dibawah. Rupannya sudah terjadi perkelahian dibawah. kemudian suara dibawah menjadi hening4. Aku khawatir dengan keadaan papa dan Tedy. Tanpa pikir panjang aku segera turun walau mama mencegahku. Dibawah aku melihat pemandangan yang mengenaskan karena kulihat papa duduk lemas dengan luka-luka memar dikepada dan sedikit luka goresan pada tangannya, tetapi yang terparah adalah Tedy dengan sekujur tubuh berlumuran darah.

“Rit, bantu papa untuk meluruskan tubuh Tedy!”
Aku membantu Papa meluruskan tubuh Tedy dilantai dan kuletakkan kepalannya dipangkuanku. Air mataku keluar melihat keadaan Tedy. “Ted, kamu tidak apa-apakan ?” Kulihat senyumnya yang damai.
“Aku tidak apa-apakok, kamu ngak usah khawatir, aku sangat bahagia dapat melindungi orang yang sangat kucintai.”


“Ted, kamu akan baik-baik saja, kamu tenang aja deh! Aku akan telephone Ambulans.”
“Rit, jangan tinggalkan aku!” Genggaman tangannya semakinkuat. “Aku ingin selalu disisimu, Rit, membahagiakanmu, melindungimu,”
“Ted,jangan banyak bicara ya, darahmu keluar terus.”
“Rit,biarkan aku dipangkuanmu menjelang ajalku. Rit, janji yah sama aku kalau kamu nggak akan sedih setelah kepergianku.”
“TEd….!
“Berjanjilah padaku, Rit, kamu akan membuka lembaran cinta baru, menikahlah dengan Budi!” “Tedy, dari mana kamu tahu itu sayang?”
“Mamamu memberitahukan aku tadi selagi aku datang dan acara pertunangan akan dilaksanakan minggu depan.”
“Tedy aku tidak mencintainya, aku mencintai kamu, Ted”
Tedy hanya tersenyum dengan suara yang terputus, ia berkata “Rit…. Aku juga mencintai kamu”
Lalu tangannya terlepas dari genggamanku dan……
“Ted, Tedy !” aku menangis dan kemudian kuletakkan keduatangannya diatas dadanya sambil kuucapkan “Sabbe Sankhara Anicca”, semua itu tidak kekal adannya.

Dua bulan pun berlalu, aku tidak dapat melupakannya, cintanya yang tulus selalu kusimpan dalam hati. “RIta, sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi!” “Aku tidak bisa Bud! Ia orang yang baik,cintannya tulus,Bud! Aku tidak bisa begitu saja melupakan Tedy. Kamu tahu kan!” Aku tahu Budi kecewa, tapi itu lebih baik, aku tidak ingin memberinya harapan kosong karena aku tidak akan menihak dengannya. Aku akan melanjutkan kuliahku yang tertunda karena kerusuhan Mei lalu.

(Dikutip dari majalah Dhammacakka)

Pos ini dipublikasikan di cerpen Buddhis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s