>Awan Yang Memberi Hujan

>

 
Awan Yang Memberi Hujan
Oleh: Raju Anandani



Seorang filsuf pernah mengatakan kepada saya, “Hiduplah seperti kayu cendana yang selalu memberikan keharuman kepada setiap orang didekatnya, bahkan ia tetap memberikan keharuman kepada orang yang memotongnya dengan gergaji, bahkan kepada gergaji yang memotongnya”………

Sejarah penuh dengan kisah orang-orang yang tetap mencintai dan mengasihani musuhnya yang berbahagia di alam sini maupun di alam sana. Juga orang yang membenci dan iri hati kepada musuh, kawan, dan keluargannya, yang akan menderita di alam sini maupun di alam sana.

Ada seorang jahat yang hendak memukul seorang pertapa, namun ia terpeleset dan jatuh. Karena kasih sayang dan rasa kasihan sang petapa menolongnya, tetapi orang yang ditolong malah memfitnahnya.

Sang pertapa hanya berlalu dan tersenyum. Kita pun sebaiknya menydari sifat dunia dimana kita hidup.

Dhamma tetap rekevan untuk masa kini dan cocok untuk raktya jelata maupun kaum intelektual di timur dan barat.

Negara asal Buddhisme, India, memiliki kebudayaan tertinggi di dunia bersama-sama dengan RRC, Mesir dan mesopotania. Ada 4 agama besar yang berasal dari negara tersebut (Aryan Religion), yaitu Hindu, Buddha, Sikh dan Jain. Semuannya mempunyai ajaran tentang meditasi. Ribuan tahun yang lalu Sang Buddha telah mengetahui apa yang baru saja ditemukan ilmuwan barat beberapa tahun yang lalu, misalnya yang disebut dengan partikel atom kecil, kehidupan di palnet dan lain-lain. Ilmuan Albert Einstein, pernah mempelajari Buddhism dan Teosofi di India Selatan. Ia mengatakan bahwa agama tanpa ilmu pengetahuan adalah pincang, tetapi ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta, India adalah negara ke-6 didunia yang berhasil dalam program angkasa luar dan teknolig nuklir untuk perdamaian tetap mempertahankan ajaran agama yang telah berusia 5000 tahun. 

Vipassana Research Institute, yang berpusat di India, terus melakukan riset ilmiah terhadap teori dan praktek meditasi Vipassana, dan lain lain. Berkat jasa S.N.Goenka, meditasi Vipassana dan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha ribuan tahun yang lalu telah berkembang dan diajarkan hampir keseluruh dunia, di berbagai negara di enak benua, termasuk di Indonesia. Kadang-kadang lobha, dosa dan moha dapat menyebabkan para pimpinan, ilmuwan dan masyarakat menyalahgunakan teknologi untuk kehancuran. Sang Buddha bersabda. “Penyebab penderitaan adalah kamma, tindakan mental, yaitu reaksi buta terhadap lobha, dosa dan sankhara.” Beliau juga bersabda, semua sankhara adalah tidak kekal, jika engkau memahami hal ini dengan pandangan terang sejati, maka engkau tidak melekat pada penderitaan, itulah jalan penyucian.”

Tak ada istilah terlambat untuk seorang yang mau melaksanakan Dhamma. Angulimala telah membunuh puluhan orang namun akhirnya mencapai tingakat kesucian Arahat.

Ajaran-ajaran Buddhis masih tetap relevan untuk masa kini sebagaimana halnya pada ribuan tahun yang lalu. Falsafah yang universal dan abadi ini, merupakan sumber kebijaksanaanbagi semua orang tanpa pandanga agama, kasta, jenis kelamin, warna kulit, dan kepercayaan. Juga memberikan jawaban terhadap semua pertanyaan mengenai tujuan hidup dan eksistensi manusia, sebagaia pedoman bagi para pemeluknya dalam menyelesaikan semua konflik dan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melakukan perbuatan baik dan benar. Juga memberikan panduan dan azas-azas bagi kehidupan yang baik dan benar serta dasar-dasar bagi manusia untuk membedakan antara yang benar dengan yagn salah serta menyadarkan individu yang hanya menyibukkan diri dengan ritual-ritual sehingga mereka lupa akan tujuan hidup yagn sebenarnya yaitu untuk mencapai pemahaman akan kebenaran (truth), Sang Buddha bersabda:

“Dari pemahaman benar maju ke Pikiran benar
Dari pikiran benar maju ke ucapan yang benar
Dari ucapan benar maju ke tindakan benar
Dari tindakan benar maju ke mata-pencaharian benar
Dari mata-pencaharian benar maju ke usaha yang benar
Dari usaha benar maju ke kesadaran benar
Dari kesadaran benar maju ke konsentrasi benar
Dari konsentrasi benar maju ke kebijaksanaan benar
Dari kebjiksanaan benar maju ke pembebasan besar”

Buddhsm bersifat universal, abadi, dan mengajarkan toleransi serta menerima berbagai pemikiran, kepercayaan, dan agama. Jadi bukanlah bersifat sempit, dokmatis, totaliter, dan tidak meremehkan filsafat filsafat lain. Setiap individu dapat menarik manfaat karena kehidupan di masa lampau takkala akaran ini dikumandangkan, tidak jauh berbeda dengan kehidupan masa kini. Manusia telah menciptakan aneka ragam warna dalam sebuah pelangi. Multi bentuk ini merupakan pencerminan dari berbagai aspel dalam alam manusia.

Kewajiban-kewajiban terhadap ajaran Buddhism telah dirumuskan ribuan tahun yang lalu, termasuk tindakan untuk menegakkan kebenaran dengan melaksanakan kewajiban, moral, dan sosial kita. Apabila seorang individu dibimbing oleh Dhamma, barulah dia dapat mencapai Nibbana.

Sang Buddha bersabda: “Sekalipun seseorang telah memberikan dana yang besar, masih jauh bear buah yang ditermanya bila ia berlindung dengan sepenuh hati pada yang tercerahkan, Dhamma dan semua orang suci. Seandainya ia melakukan itu, maka jauh lebih besar buahnya jika ia menjalakan pancasila dengan sepenuh hati; Dan bila melakukan itu, maka jauh lebih besar buahnya jika ia mengembangkan niat baik terhadap semua makhluk walapun hanya selama waktu yang dibutuhkan untuk memerah sapi. Bila ia melakukan semua itu, masih jauh lebih besar buahnya jika ia mengembangkan kesadaran akan ketidakkekalan(anicca) selama satu jentikan jari.”

Berbuat sesuai dengan ajaran Buddhis adalah tindakan yang penting terhormat dan termulia, melalaikan tanggung-jawab dapat menciptakan kekacauan, akibatnya menimbulkan perbuatan salah yang dapat memperlemah, akhirnya meruntuhkan struktur sosial. Tindakan haruslah didasarkan pada keadilan, kebenaran, dan tanpa pamrih. Dengan kata lain, dibimbing oleh moralitas dan etika, apakah itu dalam bidang politik, perdagangan, dan ilmu pengetahuan.

Akhir kata, Sang Buddha bersabda “Dengan melakukan kesalahan sendiri, engkau mengotori dirimu sendiri. Dengan tidak melakukan sesuatu yang salah sendiri, engkau menyucikan dirimu sendiri.”

Hiduplah seperti pohon cendana yang memberikan keharuman. Seperti awan yang memberikan hujan yang bermanfaat bagi semua makhluk. Kehidupan adalah kehidupan yang sesungguhnya bagi insan yang dapat memberikan kehidupan bagi insan lain.

Dalam kegelapan malam yang tidak mempunyai sinar matahari yang terang, jadilah cahaya lilin yang dapat memberikan terang bagi diri sendiri.

Apabila seorang insan tidak dapat menjadi cahaya matahari bagi insan lain, maka jadilah cahaya lilin bagi insan lain.

Perjalanan yang kita tempuh dapat sana penuh dengan bunga yang indah atau duri yang tajam, tetapi tetaplah berjalan dan berpegangan pada jalan Dhamma.

Sang Buddha bersabda, “Buatlah kebajikan hari ini seolah-olah tidak ada hari esok……”

 
[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.14/Tahun V/1999 ]
Pos ini dipublikasikan di Ceramah Dhamma, inspirasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s