>Bahagia Dalam Dhamma

>

Bahagia Dalam Dhamma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci;
di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa benci.
 

Dalam perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang sangat pesat dewasa ini, hampir merambah ke semua sendi-sendi kehidupan. Tetapi bagaimanapun canggihnya teknologi, masih belum bisa menyentuh sisi yang justru merupakan aspek inti dalam kehidupan, yakni aspek batiniah. Justru belaian dari keindahan dan kegemerlapan materi telah membuat mabuk kepayang umat manusia, yang dijanjikan dengan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kebutuhan materi tersebut sehingga memberikan dampak buruk dengan menurunnya daya tahan manusia lahir maupun batin.

Sesungguhnya belaian keindahan dan kegemerlapan duniawi tidak hanya terjadi dewasa ini, melainkan telah terjadi juga dua puluh lima abad yang lampau, dimana saat Pangeran Siddhattha dilahirkan, dan pada saat pertapa Gotama melaksanakan sammasamadhi di Buddha Gaya. Saat Beliau menjalankan praktek pertapaannya, mara berdatangan untuk menghalang-halangi dan menggoda pertapa Gotama dalam usaha untuk Mencapai Penerangan Sempurna. Tiga mara penggoda yang menyamar atau menyerupai wanita-wanita cantik adalah wujud dari keindahan materi yang dapat membuat orang terlena dan terbuai. Tetapi Pertapa Gotama adalah salah satu manusia yang memiliki daya tahan batiniah yang tertinggi sehingga dapat melepaskan diri dari belaian keindahan dan tercapailah kesempurnaan sejati menjadi Buddha.

Perjuangan yang dilakukan oleh Pertapa Gotama merupakan tumpuan dan contoh otentik yang kini diwariskan kepada kita semua untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, agar kita mencapai apa yang kita dambakan. Karena semua yang dilakukan oleh umat manusia dengan penuh kekuatan hati dan pikiran; dengan perjuangan yang gigih, semangat dan tekad yang membara adalah untuk satu tujuan “Hidup Bahagia”. Tetapi hendaknya kita selalu ingat apa yang telah diperjuangkan oleh Pertapa Gotama, bahwa majunya materi bukanlah jaminan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki. Hal itu telah terbukti jelas pada kehidupan saat ini.

Melimpah ruahnya materi yang dimiliki seseorang bila tidak hati-hati dalam memanfaatkannya, justru akan menambah keserakahan dan kebencian, walau dalam prakteknya mereka selalu mengatasnamakan demi kepentingan orang banyak. Tetapi mereka lupa pada nilai-nilai spiritual yang lebih berharga daripada nilai materi itu sendiri, sehingga pada saat prakteknya mereka sering menekan, memojokkan dan mengorbankan kehidupan orang lain. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu ingat dengan apa yang telah disabdakan oleh Guru Agung Buddha Gotama dalam Dhammapada ayat 197 dan 199) yang berbunyi, “Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci. Sungguh bahagia kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan.”

Begitu jelas bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh justru dengan mengikis dan melenyapkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita yakni, ketidaksukaan atau benci, dendam, irihati, keserakahan, congkak, mau menang sendiri, berpegangan pada pandangan salah dan lain-lainnya. Kemudian kita mengembangkan nilai-nilai kebajikan yakni, toleransi yang mendalam dan tanpa pamrih, cinta kasih dan kasih sayang, simpati dengan keberhasilan orang lain, berpegang teguh pada nilai spritual, berpandangan dan berpikiran benar dan berkeyakinan pada hukum kebenaran (Dhamma).

Terdapat orang yang memberikan argumentasi demikian, apakah bukan dengan melimpah ruahnya materi sehingga seseorang dapat memuaskan nafsu-nafsu keinginannya dan di situlah rasa bahagia dapat diperoleh ? Karena, ibarat seseorang yang ingin sekali makan makanan yang khusus (bubur sarang walet …), dan ia memiliki banyak uang untuk membeli makanan itu sebanyak-banyaknya sehingga memuaskan keinginannya, maka di situlah kebahagiaan diperoleh.

Argumen dan alasan tersebut sangat masuk akal dan nampaknya benar sekali, tetapi kita harus ingat dengan yang Sang Buddha ajarkan dalam Empat Kesunyataan Mulia tentang berhenti dan lenyapnya dukkha (dukkhanirodha), bahwa bahagia dapat diperoleh dengan terhentinya dukkha dan dukkha akan hilang dan lenyap dengan padamnya nafsu keinginan (tanha). Kemudian bagaimana dengan pemuasan keinginan, apakah bukan malah menambah kuatnya cengkraman keterikatan dalam dirinya, dan menumbuhkan dukkha lara yang mendalam ? Seperti seorang pemuda yang bertemu dengan seorang gadis belia nan molek dan akhirnya tertarik dan menyenangi gadis belia tersebut. Setiap hari bahkan setiap saat pemuda tersebut dirundung oleh keinginan untuk selalu bertemu dan bergandengan dengan sang gadis itu, dan sekali dua kali ia tercapai keinginannya sehingga sang pemuda tersebut semakin cinta dan sayang yang mendalam kepada sang gadis molek itu, bahkan ia ingin sekali memilikinya. Pada suatu ketika tanpa diduga dan dikira sang gadis tersebut dipinang oleh seorang pemuda lain untuk dijadikan istri. Maka apa gerangan yang terjadi pada pemuda yang pertama tadi ? Sang pemuda menjadi kecewa, jengkel, kesal dan marah. Intinya ia menderita batin yang begitu dalam, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Apakah yang menyebabkan sang pemuda menderita ? Apakah karena mencintai dan mengasihi gadis belia itu ? Tidak. Pemuda itu menderita karena keterikatannya atau kemelekatannya sendiri yang mencengkeram batinnya. Kemudian bagaimana dengan gadis belia itu ? Gadis belia tersebut adalah sunyata atau hakekat yang ada. Gadis belia adalah fenomena alam, sama halnya dengan indahnya ombak di samudera lepas yang kita lihat. Siapa saja yang melihat pasti menyenangi dan mencintai, tetapi siapa yang ingin memiliki bersiap-siaplah untuk menderita. Maka dengan kata lain pemuda itu tidak cinta yang sesungguhnya pada gadis itu, karena cinta yang sejati adalah cinta yang universal. Cinta sejati adalah tidak terikat apalagi harus memiliki.

Bagaimana dengan pemuda kedua dan gadis belia itu yang menjadi suami-istri ? Itulah manfaatnya kita belajar Dhamma (hukum kebenaran), maka dengan menyelami Dhamma kita akan mengetahui tentang rahasia kehidupan yang pelik, unik dan rumit ini. Mengapa seseorang menjadi suami-istri ? Karena mereka memiliki kesamaan-kesamaan atau kecocokan kamma, itulah jodoh. Kesamaan yang dimaksud adalah Saddha (keyakinan), Sila (moralitas), Caga (kemurahhatian) dan Pañña (kebijaksanaan). Oleh karena itu, marilah kita memahami dan menghayati Dhamma, agar kita selalu hidup bahagia.

Berkeyakinan pada Dhamma nan agung. Tanpa nafsu, tenang dan penuh bahagia.
Berkeyakinan pada Sangha nan agung. Ladang pembuat jasa yang tiada bandingnya.

[ Dikutip dari Artikel Berita Dhamamcakka Edisi 09 Juli 2000 ]

Pos ini dipublikasikan di Bhikkhu Dhammakaro, Ceramah Dhamma. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s