>Bebas Dari Kejahatan

>

 
Bebas Dari Kejahatan
Oleh: U. HuseinPutta
 

Kejahatan Mengintai Kita”, “Sadisme, Bentuk Kekerasan Baru”, “Kekerasan Merebak” hanyalah sebagian dari sekian banyak ungkapan yang dapat dijumpai dalam media massa akhir-akhir ini. Memang, pelbagai bentuk kejahatan yang terjadi dimasyarakat luas tak pernah absen diberitakan media massa baik elektronik maupun cetak.

Namun, belakangan ini berita tentang merebaknya bentuk-bentuk kejahatan yang tercermin pada beberapa ungkapan diatas semakin hangat dibicarakan masyarakat luas dan menjadi polemik di media massa.

Tampaknya, jenis kejahatan dengan segala macam bentuknya semakin menggejala dan dahsyat. Kekerasan dan sadisme makin menggejala dan mengintai siapa saja. Terjadinya tindak kriminalitas yang kerapkali dikaitkan dengan tubuh kekar bertato, raut muka yang sangar, dan sorot mata yang keras bukan merupakan jaminan lagi. Pendapat ini bukan tanpa alasan. Dalam kenyataan sekarang, kejahatan yang disertai kekejian, kekejaman, dan tindak kesadisan yang luar biasa bisa dilakukan siapa saja; entah dia seorang guru, terpelajar, ibu rumah tangga, remaja, karyawan, kuli bangunan, pengemudi becak, atau bahkan sanak keluarga sendiri.

Tindakan sadisme para pelaku delik kejahatan akhir-akhir ini sudah barang tentu menjadi sorotan masyarakat luas. Betapa tidak! sudah cukup banyak korban berjatuhan akibat dari kejahatan yang semakin marak ini. Konon ini merupakan kenyataan baru yang harus dihadapi. Senada dengan ini, Prof.Dr. Asma Affan M. Nasution MPA seorang pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan pernah berujar demikian:“Rakyat Indonesia dulu terkenal kelemahlembutannya, kini berubah kasar dan ganas“. Nah, kalau begitu, wajarlah apabila timbul pertanyaan apa sesungguhnya yang sedang terjadi di masyarakat kita?.

Banyak para pakar dan pejabat kepolisian berpandangan bahwa kasus-kasus sadisme itu bermotif ekonomi. Ada pula yang mengatakan itu pengaruh televisi, film, dan video. Pendapat lain mengatakan tidak mesti semata-mata segi ekonomi. Dengan kata lain, tidak mesti kalau orang miskin menjadi penjahat. Situasi yang penuh persaingan, materialistis, ketidakpuasan pada diri sendiri,situasi kehidupan yang padat memang diakui mempunyai andil mendorong agresivitas meningkat yang dapat menimbulkan kejahatan. Ketimpangan ekonomi dan perubahan sosial kerapkali dijadikan faktor yang ikut berperan sebagai pemicu terjadinya kejahatan. Masalah ekonomi jelas tak kalah pentingnya dengan masalah lain dalam kehidupan umat manusia. Perubahan sosial akibat kemajuan zaman senantiasa menciptakan tantangan baru yang semakin kompleks bagi kehidupan umat manusia. Ada sementara orang tidak mempunyai kesulitan sedikitpun dalam segi ekonomi. Sebaliknya, ada yang sudah berupaya semaksimal mungkin namun kegagalan senantiasa menimpanya. Bagi mereka yang gagal ini bukanlah tak mungkin terpaksa harus mengambil “jalan pintas” untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Agama Buddha mengakui bahwa masalah ekonomi dapat menimbulkan tindakan kriminal. Dalam Kutadanta Sutta, Sang Buddha menyatakan bahwa kesejahteraan, kedamaian, dan kebersihan dari tindakan kriminal dapat diwujudkan dengan peningkatan penghidupan umat manusia. Sementara itu, dalam pandangan Agama Buddha paham “Roh” sesungguhnya merupakan biang keladi dari segala kejahatan di dunia ini. Sifat mementingkan diri sendiri dengan tidak segan-segan merugikan makhluk lain (Egoisme), keangkuhan, kesombongan, kecongkakan, dan banyak kekotoran batin lainnya, semuanya bersumber dari paham “Roh”. Kebanyakan umat manusia tidak menyadari bahwa paham “Roh” adalah racun ganas bagi mereka. Pikiran negatif tentang adanya “Roh”, “Aku”, dan “Milikku” yang ditimbulkan dari paham tersebut merupakan sumber dari semua kejahatan dan perselisihan dalam dunia ini, dari perselisihan kecil dalam keluarga, sampai dengan tindakan kejahatan dan peperangan antar bangsa.

Tidaklah dapat ditelusuri sejak kapan gagasan tentang adanya “Aku/Roh” itu mulai muncul. Yang Jelas, gagasan ini diajarkan oleh kebanyakan kepercayaan dan keagamaan di dunia ini. Bagaimana pun, segala macam gagasan/paham “Aku” ditolak dalam agama Buddha.Jika dipercayai ada suatu “Diri/Aku” yang kekal, maka orang yang pada awalnya jahat akan tetap selamanya jahat. Kalau begitu, tentunya sangat sia-sia semua praktek keagamaan, terutama penempuhan kehidupan suci. Berdasarkan pengkajian dan pengalaman empiris,tertampak bahwa tiada suatu bukti apa pun yang dapat menopang adanya keberadaan “Aku” yang kekal. Paham “Aku” hanyalah suatu khayalan semata, yang timbul karena ketakpuasan hasrat rendah umat manusia apabila dalam dirinya tidak terdapat sesuatu yang kekal.Jadi, dalam realita tidak ada suatu “Roh”, “Aku”, atau “Diri”; yang ada hanyalah gagasan/konsep/paham “Aku” itu sendiri.

Apabila masih terdapat kemelekatan terhadap paham “Aku” dan ketergantungan terhadap pandangan sesat, selama itu pula muncul kesedihan, ratapan, penderitaan jasmaniah, duka-cita, dan keputusasaan. Apabila ada paham “Aku”, timbullah kemelekatan bahwa ada aku miliknya. Oleh karena itu, sangatlah beralasan apabila Sang Buddha Gotama, berujar, “Duhai para Bhikkhu, Saya tidak pernah melihat adanya suatu teori “Roh” yang apabila diterima tidak akan menimbulkan kekecewaan, ratap tangis, kesedihan, kesengsaraan, dan penderitaan.” (Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikaya 22).

Ada tiga sebab-dasar yang membuat suatu makhluk melakukan kejahatan, yaitu: kelobaan atau kebencian, atau/dan kedunguan. Jenis kejahatan seperti pembunuhan, pemakian, itikat jahat mempunyai kebencian atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar; Pencurian, pendustaan, penghasutan, pengobrolan kosong mempunyai kelobaan atau kebencian atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar; Perzinahan, hasrat rendah, pandangan sesat mempunyai kelobaan atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar. Tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan umat manusia masih memiliki kekotoran batin tersebut diatas. Namun, agama Buddha menolak kesahihan teori yang mengajarkan bahwa secara alami manusia pada dasarnya berdosa, dan untuk menjadi baik seseorang tidak dapat melakukannya dengan kemampuan dan kekuatan sendiri tanpa berdoa dan memohon bantuan dari Makhluk Adikodrati tertentu. Dampak negatif teori itu ialah merongrong keyakinan seseorang atas kemampuan diri sendiri untuk menghindari kejahatan, dan membuatnya bergantung pada makhluk lain bahkan untuk berbuat kebajikan.

Dalam pada itu, agama Buddha bertolak belakang dengan pandangan pesimis dan suram tersebut diatas. Justru untuk mengarahkan diri secara benar dalam arti segala perubahan dari sesuatu yang dipandang oleh agama, tradisi, dan kebudayaan sebagai hal yang negatif beralih ke hal yang positif, hal yang paling penting adalah haruslah dilakukan oleh diri sendiri. Usaha ini tidak mungkin dapat dilimpahkan atau diserahkan kepada orang lain. Agama Buddha mengajarkan umat manusia untuk dapat berdiri diatas kaki sendiri, dan membangkitkan keyakinan umat manusia akan kemampuan sendiri sehingga dapat menolong dirinya sendiri terbebas dari kejahatan. Dengan kalimat bersahaja yang mudah dimengerti, Sang Buddha bersabda: “Oleh diri sendiri kejahatan diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tak diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi suci. Kesucian atau ketaksucian adalah milik masing-masing. Tak seorang pun dapat menyucikan orang lain.” (Dhammapada, Atta Vagga 165). Selanjutnya dalam kesempatan lain, Beliau menyerukan demikian: “Menghindari kejahatan, dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: ‘Hindari Kejahatan’. Apabila dengan menghindari kejahatan akan membawa kehilangan dan kekesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu membawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: ‘Hindari Kejahatan’.

“Mengembangkan kebajikan, dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: ‘Kembangkan Kebajikan’. Apabila dengan mengembangkan kebajikan membawa kehilangan dan kekesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu mem bawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: ‘Kembangkan Kebajikan’.” (Anguttara Nikaya I:58).

Segala jenis kejahatan adalah noda dalam dunia sekarang maupun mendatang. Kejahatan bukanlah suatu hal yang gampang dikendalikan. Karena itu orang bijak tak membiarkan kejahatan menyeretnya kedalam penderitaan sepanjang waktu. Manusia harus menyadari bahwa kelambanan dalam berbuat kebajikan akan membuat pikiran bergembira dalam kejahatan. Dengan demikian, bergegaslah dalam berbuat kebajikan dan cegahlah pikiran dari kejahatan. Apabila telah telanjur berbuat jahat, seseorang hendaknya tidak mengulangi kejahatan itu. Jangan pula membangkitkan kepuasan atas kejahatan itu. Sebab, penimbunan kejahatan mengakibatkan penderitaan.

Dan sebaliknya, apabila berbuat bajik, seseorang hendaknya sering-ering mengulangi kebajikan itu. Ia hendaknya merasa puas dalam kebajikan itu. Sebab, penimbunan kebajikan membuahkan kebahagiaan.(Dhammapada, Papa Vagga 117-118).

Pelaku delik kejahatan kerapkali tidak menyadari perangai buruknya. Perbuatan jahat yang kecil dianggapnya hal yang biasa. Mereka menjadi buta dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya perbuatan tersebut sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan. Terdapat kemungkinan besar pelaku kejahatan melihat perbuatannya sebagai hal yang baik selama suatu kejahatan belum menimbulkan akibat. Akan tetapi, tatkala kejahatan itu menimbulkan akibat buruk, ia menyadarinya sebagai hal yang buruk. Selanjutnya, biasanya penyesalan akan timbul setelah seseorang menyadari bahwa dirinya telah berbuat kejahatan.

Penyesalan sesungguhnya suatu hal yang sama sekali tidak dianjurkan dalam agama Buddha. Mengapa demikian? Upaya ‘menyadari kejahatan’ dalam arti insaf/sadar hendaknya benar-benar dibedakan dengan ‘menyesali kejahatan’. Penyesalan merupakan suatu pembentukan kamma buruk yang baru. Penyesalan adalah suatu keadaan batin yang berpadu dengan kemarahan, yang muncul bersama dengan kekecewaan. Penyesalan termasuk pikiran yang berakar pada kebencian, yang muncul karena memikirkan sesuatu yang tidak diharapkan atau dikehendaki. Sedangkan keinsafan kemunculannya terjadi pada saat seseorang dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan, dan berpihak pada kebenaran. Oleh karena itu, keinsafan adalah suatu pembentukan kamma baik yang baru. Perlu dicamkan bahwa suatu kejahatan yang telah telanjur diperbuat tidaklah dapat diubah menjadi suatu kamma baik kendatipun disesali sepanjang waktu. Penyesalan hanyalah akan memperberat suatu kejahatan. Seyogianya ia secepatnya menginsafi atau menyadarinya dan selanjutnya mengarahkan diri secara benar yang merupakan langkah awal yang mutlak harus dikerjakannya dalam upaya menuntun diri menuju kemajuan, peningkatan dan perkembangan batiniah yang pesat.

Dalam satu hal semua makhluk mempunyai persamaan, yakni mendambakan kebahagiaan dan senantiasa berusaha menghindari penderitaan. Bertolak dari pemahaman ini, kita dapat menyimpulkan bahwa segala hal yang dapat menyakitkan bagi diri sendiri juga akan menyakitkan bagi orang lain. Suatu perbuatan yang tidak dikehendaki dilakukan orang lain pada diri sendiri, hendaknya juga tidak dilakukan pada orang lain yang juga mereka tak kehendaki. Salah satu contohnya, kita dapat merenungkan demikian: “Saya menyenangi kehidupan, tidak mengharapkan kematian, menyenangi kenikmatan dan tidak menyukai penderitaan. Apabila seseorang bermaksud membunuhku, saya tidak menyukainya. Begitu juga, apabila saya bermaksud membunuh orang lain, dia juga tidak akan menyukainya. Sebab, sesuatu yang saya tidak sukai, pasti pula tidak disukai orang lain; bagaimana mungkin saya dapat membebani orang lain seperti itu?”. Berdasarkan perenungan tersebut, seseorang hendaknya bertekad tidak membunuh, menganjurkan orang lain untuk demikian pula, dan senantiasa menghargai tekad itu. (Samyutta Nikaya V:354). Dengan kalimat yang tidak begitu berbeda, dalam Dhammapada, Danda Vagga 129-130, juga terdapat sabda Sang Buddha sebagai berikut: “Semua orang gentar terhadap hukuman, semua makhluk takut menghadapi kematian. Setelah membandingkan diri sendiri dengan yang lain, seseorang hendaknya tidak membunuh sendiri atau menyuruh orang lain untuk membunuh.”

“Semua orang gentar terhadap hukuman, semua makhluk mencintai kehidupannya. Setelah membandingkan diri sendiri dengan yang lain, seseorang hendaknya tidak membunuh sendiri atau menyuruh orang lain untuk membunuh.”

Dengan cara yang sama, dalam segala tindakan yang akan dilakukan hendaknya seseorang menyadari azas universalitas ini. Disamping itu, apabila manusia menganggap dirinya sebagai makhluk yang mempunyai peradaban luhur, maka menjadi tugasnya untuk melindungi, memelihara, serta membina kesejahteraan, kebahagiaan, kesentosaan dan perdamaian di dunia ini.

Umat manusia yang perkembangan batinnya belum sempurna memang mempunyai kecenderungan untuk berbuat kesalahan, kekeliruan, kekhilafan, kesilapan, kegalatan atau kejahatan. Namun, hal-hal semacam itu tidak seharusnya dibiarkan terjadi berulang-ulang dan terus menerus hingga menjadi kaprah. Upaya perbaikan dan notabene meningkatkan kebajikan, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan yang telah dimiliki hingga menjadi sempurna ini sesungguhnya telah dikumandangkan Sang Buddha dalam Mangala Sutta. Usaha perbaikan tersebut dalam Mangala Sutta dikatakan “Mengarahkan Diri secara Benar”. Bagi setiap orang yang mendambakan kemajuan, peningkatan dan perkembangan batiniah yang pesat, langkah awal yang mutlak harus dikerjakan adalah mengarahkan diri secara benar. Dengan mengarahkan diri secara benar tentunya tidak hanya membuahkan manfaat terbatas bagi diri sendiri saja, melainkan juga bagi orang-orang lainnya. Ditinjau dari segi sosial, seseorang yang mengarahkan diri secara benar tentunya tidak akan menjadi ancaman atau bahaya apa pun bagi masyarakat luas disekelilingnya. Bahkan lebih jauh dari itu, ia dapatlah dianggap telah ikut serta secara nyata dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa.

Pengertian “Mengarahkan diri secara benar” mempunyai empat cakupan, yaitu: 1) Menyadari kejahatan yang telah muncul dalam dirinya, dan selanjutnya bertekad serta berusaha agar kejahatan yang sama tidak terulang lagi pada masa mendatang;2) Mencegah timbulnya kejahatan yang belum muncul;3) Menimbulkan kebajikan yang belum muncul dan 4) Mempertahankan atau mengembangkan kebajikan yang sudah muncul.

Beberapa contoh sikap yang nyata dalam mengarahkan diri secara benar misalnya, seseorang yang dahulunya tidak mempunyai kesilaan/kemoralan tetapi kemudian menjaga kesilaan; atau seseorang yang dahulunya tidak mempunyai keyakinan tetapi kemudian membangkitkan keyakinan; atau seseorang yang dahulunya kikir / pelit tetapi kemudian mengembangkan kemurahan hati atau kedermawanan; atau seseorang yang dahulunya jahat berubah menjadi baik,dari biadab berubah menjadi beradab, dari kejam berubah menjadi welas asih, dari culas berubah menjadi jujur, dari ceroboh berubah menjadi waspada, dari malas berubah menjadi rajin, dari berkhianat berubah menjadi berbakti, dari pemarah berubah menjadi penyabar, dari pendendam berubah menjadi pemaaf, dan lain sebagainya.

Dalam berbagai kesempatan, Sang Buddha senantiasa mengingatkan betapa penting upaya mengarahkan diri secara benar. Ini tertampak pada beberapa kutipan berikut ini:

“Pikiran yang terarahkan secara benar membuat seseorang menjadi mulia dan memperoleh pahala baik; melebihi apa yang dapat diberikan oleh ibu, ayah atau sanak keluarga.” (Dhammapada, Citta Vagga 43)

“Menyadari bahwa diri sendirilah yang [paling] dicintai, seseorang hendaknya menjaga diri dengan baik. Orang bijak patut mawas diri kalau bukan dalam ketiga masa kehidupan, paling tidak dalam satu masa.” (Dhammapada, Atta Vagga 157)

“Barangsiapa yang sebelumnya lengah tetapi kemudian mawas diri, ia niscaya menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.” (Dhammapada, Loka Vagga 172)

“Barangsiapa menanggalkan kejahatan yang pernah dilakukannya dengan berbuat kebajikan niscaya menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.” (Dhammapada, Loka Vagga 173)

Mengarahkan diri secara benar merupakan cara yang paling sangkil untuk meningkatkan kemajuan, peningkatan, dan perkembangan batiniah yang pesat yang dapat menciptakan kehidupan yang sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa. Dengan menyadari manfaat yang besar tersebut, sudah selayaknya jika setiap orang berusaha mengarahkan diri secara benar. Memang, cukup sukar untuk dapat mengintrospeksi atau melihat kesalahan, kekeliruan, kekhilafan, kesilapan, kegalatan atau kejahatan yang terdapat dalam diri sendiri. Jauh lebih sulit lagi ialah memperbaiki kesalahan, kekeliruan…. atau kejahatan yang telah terlihat. Namun, ini semua bukanlah suatu hal yang mustahil. Senantiasa terpampang kesempatan yang luas bagi setiap orang untuk memperbaiki serta meningkatkan tataran batinnya hingga mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan tidaklah dimonopoli oleh satu makhluk tertentu saja.

Dalam keadaan merebaknya kejahatan yang menjadi bagian kenyataan kehidupan masyarakat kita, peranan agama benar-benar sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kesadaran dan keinsafan akan pentingnya nilai-nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan, dengan begitu masyarakat kita akan dapat menemukan, menegakkan dan membangun kembali identitas dan kepribadiannya. Kebenaran agamis tidak sangkil jika hanya disakralkan di tempat-tempat kebaktian; tetapi juga harus mampu diresapkan dan ditanamkan dalam sanubari mereka yang paling dalam sehingga apa pun pikiran, ucapan, dan tindakan yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat luas dapat benar-benar terarahkan pada kebajikan. Untuk memenuhi tugas mulia ini, agama harus berusaha memulihkan keyakinan masyarakat akan pentingnya tanggung jawab moral, kepedulian sosial, dan pentingnya peningkatan penghidupan umat manusia dalam menciptakan kehidupan sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang; Suatu kehidupan yang bebas dari kejahatan atau setidaknya kejahatan tidak bersimaharajalela di dunia ini.

Tidak melakukan segala kejahatan, menyempurnakan kebaikan, dan menyucikan pikiran; inilah ajaran para Buddha.”(Dhammapada, Buddha Vagga 183 )

Catatan:

Ungkapan ‘kebajikan yang belum muncul’ pada butir ketiga itu mencakup kebajikan duniawi yang belum pernah muncul dalam kehidupan sekarang, dan kebajikan-jalan (magga-kusala) yang belum pernah muncul baik dalam kehidupan lampau maupun sekarang. Kebajikan Jalan (magga-kusala) mempunyai empat tataran, yaitu: Sotapatti-magga, Sakadagami-magga, Anagami-magga, dan Arahatta-magga.

Ungkapan ‘mengembangkan kebajikan yang sudah muncul’ pada butir terakhir itu hanya semata-mata mencakup kebajikan duniawi seperti memberi dana, memelihara kesilaan, dan melatih meditasi yang pernah dilakukan baik dalam kehidupan lampau maupun sekarang. Ini sama sekali tidak merujuk pada kebajikan-jalan. Alasannya ialah bahwa suatu magga-kusala hanyalah mungkin muncul sekali saja sepanjang kehidupan suatu makhluk. Setelah muncul sekali dan segera lenyap kembali, kebajikan-jalan ini tidak akan muncul lagi. Hanya kebajikan-jalan yang lebih luhur tatarannya daripada kebajikan-jalan yang sudah muncul dalam dirinya saja yang mungkin bisa muncul.

Dalam Kitab Suci Dhammapada terbitan LPD Publisher, Jan Sanjivaputta mengulaskan bahwa kehidupan manusia terbagi menjadi tiga masa, yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua. Sungguh baik apabila seseorang dapat mawas diri dalam ketiga masa kehidupannya. Contohnya ialah Samanera Sopaka yang telah berhasilmeraih kesucian sejak berusia tujuh tahun. Dalam pada itu, kalauseseorang pada masa kanak-kanaknya tidak mawas diri karena suka bermain-main, ia hendaknya mawas diri dalam masa-masa lainnya. Demikian pula, apabila seseorang tidak mawas diri dalam masa kanak-kanaknya dan juga dalam masa mudanya karena sibuk merawat anak istrinya, ia hendaknya paling tidak dapat mawas diri dalam masa tuanya.

Sumber Acuan:
Harian Kompas; 12 & 13 Maret 1996.
Dasar Pandangan Agama Buddha, Ven. S. Dhammika.
Kitab Suci Dhammapada, Terbitan LPD Publisher.
MANGALA Berkah Utama, Jan Sanjivaputta.

[ Dikuti[ dari Gema Dhammavaddhana ] 

Pos ini dipublikasikan di Ceramah Dhamma, inspirasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s